Langsung ke konten utama

EditPenantian

 


DALAM PENANTIAN SANG PERWIRA

DALAM PENANTIAN SANG PERWIRA


 I. MASA KECIL KELANA


1. Kisah Dibalik Nama

KELANA. Begitulah aku menamakan diriku. Nama samaranku yang pertama kali diangkat ketika aku masih duduk di Sekolah Guru Puteri Van Deventer Bandung tahun 1941. Awalnya, saat itu disekolahku ada kebiasaan membuat cerita pendek dan saling berkirim diantara teman. Dalam setiap karya tulis yang kubuat, aku selalu mencantumkan nama samaran penulis seperti itu. Akhirnya aku dikenal dengan nama Gadis Kelana.

Nama pemberian orang tua sejak lahir adalah Iwah Sofiah. Aku tidak pernah tahu  alasan orang tuaku memberi nama seperti itu. Yang aku sadari, aku menikmati nama pemberian itu. Hanya nama itu yang melekat setia menemani jasadku, menelusuri perjalanan hidup penuh liku. 

Mendampingi jasadku ketika masa kecil menyandang status anak yatim. 

Mendampingi jasadku ketika harus bersusah payah menggapai cita-cita. 

Mendampingi jasadku ketika berpeluh menunaikan bakti guru. 

Mendampingi jasadku dalam mempertahankan kemerdekaan ; berjuang dibelakang senjata serta berkelit diantara desingan peluru dan dentuman bom. 

Mendampingi jasadku ketika mewarnai gelora juang dengan asmara Sang Perwira.

Atau... jika Jasadku telah berakhir menempuh perjalanan panjang dan terlepas sukma, apakah namaku itu masih mau dikenang oleh anak cucuku kelak?. 

Atau hanya ditulis di nisanku tanpa makna, sebuah nama : "IWAH SOFIAH ALMARHUMAH.

Setelah aku masuk Sekolah Guru Puteri Van Deventer Bandung, nama lengkapku menjadi iwah Sofiah Sriwekasari. Nama akhir Sriwekasari adalah nama gelaran yang diambil sesuai angkatan siswa sekolah itu. Kebetulan aku merupakan angkatan terakhir, maka Sriwekasari merupakan “achternaam” yang melengkapi namaku. Begitu juga angkatan-angkatan sebelumnya, seperti achternaam Priatnasih, Kendarsih, Yatmikasari, Nursari dan Sriwenda akan melengkapi nama ahir para alumnus. Sehingga jika kemudian menemukan seseorang dengan nama yang diakhiri achternaam tertentu akan mudah dikenali sebagai alumnus Sekolah Puteri Van Deventer, termasuk tahun angkatannya.


2. Leluhurku.

Menurut cerita Ibuku, aku dilahirkan di Panumbangan pada hari Sabtu, tanggal 23 Desember 1925. Ibuku bernama Siti Musriah dan aku adalah anak kedua, puteri pertama dari perkawinan keduanya dengan ayahku bernama  H. Mohamad Idrus Yahya.

Sebelum Ibu menikah dengan ayahku, ibuku pernah melangsungkan pernikahan pertamanya dengan H.Mohamad  Ishak Yahya, kakak kandung ayahku. 

Katanya, suami ibu yang pertama itu meninggal dunia di Jedah selepas menunaikan ibadah haji, saat perjalanan pulang ke Tanah Air. Saat itu perjalanan ke Saudi Arabia melalui jalur Laut, sehingga masa perjalanan menghabiskan waktu enam sampai delapan bulan. 

Ibu sendiri tidak ikut menunaikan ibadah haji, karena saat itu tengah mengandung usia enam bulan serta tidak bisa meninggalkan anak pertamanya yang masih berusia tiga tahun. 

Dari suami pertamanya itu, Ibu ditinggali dua orang anak. Seorang perempuan berusia tiga tahun bernama Siti Rofiah yang kemudian aku sebut namanya Ceu I'oh. Serta bayi dalam kandungan yang kemudian lahir seorang perempuan juga, diberi nama Siti Aminah Yatmikasari yang kemudian aku memanggilnya Ceu Emin.

H.Ishak Yahya menikahi Ibuku sebenarnya merupakan perkawinan yang kedua. Sebelumnya, pernah menikah dengan seorang wanita asal Banjarsari Ciawi. Dari hasil perkawinan mereka, menurunkan seorang anak bernama Mohamad  Ibrahim. Ia juga merupakan saudaraku. Paling tidak, dia adalah kakak sepupuku. 

Haji Mohamad Ishak - suami ibu yang pertama - adalah Uwak ku, karena beliau adalah kakak kandung ayahku, terlepas beliau pernah menjadi suami ibuku. Jadi tidak salah kalau aku menyebut Kang Ibrahim karena kakak sepupu.

Selain itu, Ibu mempunyai kakak kandung seorang perempuan bernama Hj. Siti Marfuah atau menggunakan sebutan baku dalam keluarga yaitu "Ibu Haji".  

Ibu Haji menikah dengan adik kandung H.Mohamad Ishak yaitu dengan Haji Idris (dengan panggilan  (Mama Haji).  Dan Mama Haji juga adalah kakak kandung ayahku.

Latar belakangnya, setelah berselang beberapa waktu ditinggal Wafat suami, ibuku mengalami penderitaan hidup sendiri mengurus kedua anaknya. Selanjutnya, barangkali sebagai upaya keluarga agar kedukaan ibu tidak berlarut-larut atau mungkin agar tidak "kapalang mikanyaah", atau mungkin agar tidak lepas dari ikatan keluarga, beliau dinikahkan dengan adik kandung mendiang suaminya, yaitu dengan H. Idrus Yahya (ayah kandungku) 

Sebelum Ayahku menikah dengan ibuku, beliau sedang menduda. Sebelumnya, ayahku pernah menikah dengan seorang wanita dari Desa Medanglayang bernama Siti Imoh Fatimah dan mempunyai seorang anak bernama Yoyo Kosasih. Ia juga termasuk saudaraku. Kakak satu ayah lain ibu.


3. Leluhur dari Pihak Ibu

Ibuku adalah putri ke empat H.Hamzah, seorang pengusaha asal Cirebon yang bermukim di Panumbangan. Beliau adalah kakek ku dari pihak Ibu. Ibuku mempunyai lima orang saudara kandung, tiga orang wanita dan seorang laki-laki. Lengkapnya, saudara-saudara ibu termasuk ibuku adalah:

1. Siti Emeh
2. Siti Mursita
3. Hj. Siti Marfuah
4. Siti Musriah (Ibuku)
5. Mohamad
6. Siti Munirah.

H. Hamzah membuka usaha Losmen dan Rumah Makan di Panumbangan. Beliau bersahabat-erat dengan anak seorang Kepala Desa Panumbangan bernama Haji Yahya bin Murdagiri.  Tokoh ini adalah kakek ku . Beliau kerap mendapat panggilan Eyang Murdagiri. Walaupun nama asli beliau sudah tidak diketahui lagi karena setelah menunaikan ibadah haji berganti nama menjadi Haji Yahya maka terkenalah panggilan Haji Yahya Eyang Murdagiri sampai ahirnya menjadi baku dipanggil Eyang Murdagiri. Padahal maksud masyarakat menambah nama Muragiri, hanya untuk membedakan dengan nama Haji Yahya lainnya. Untuk menunjukan Haji Yahya itu putra Eyang Murdagiri. Hal ini  berarti nama Murdagiri bukan nama awal sebelum diganti menjadi nama Haji Yahya. Nama awal sebelum diganti  masih bersifat misteri.

Kedekatan H. Yahya dengan H. Hamzah  kemudian diwujudkan dengan pertalian perkawinan anak-anaknya. 

H.Yahya Eyang Murdagiri menikah dengan wanita dari Keadipatian Galuh, yaitu dengan saudara istrinya Bupati Galuh bernama Rd. Widyaningsih. Dari perkawinan ini dikaruniai lima orang anak, diantaranya tiga orang putra yaitu H. Mohamad Ishak Yahya, H. Mohamad Idris Yahya dan H.Mohamad Idrus Yahya.

Pertama-tama, putri ketiga  H. Hamzah yaitu Ibu Haji Marfuah ditikahkan dengan putra ketiga H. Yahya Murdagiri yaitu dengan H.idris Yahya. Kemudian, H.Ishak (kakaknya H.Idris) ditikahkan dengan Siti Musriah (adiknya Hj. Marfuah). 

Latar belakangnya, setelah H.Ishak wafat di Mekah, ibuku kemudian ditikahkan lagi dengan adiknya H.Ishak dan juga adiknya H.Idris, yaitu dengan H. Mohamad Idrus Yahya.(ayahku)


4. Leluhur Pihak Ayah

Menurut cerita Ayahku, leluhurku dari ayah sebenarnya bukan asli orang Panumbangan. Katanya, Giri Laksana kakeknya Eyang Murdagiri  berasal dari Gresik Jawa Timur. Mbah Giri Laksana dituturkan termasuk salah satu keluarga Giri Kedaton yang didirikan oleh Sunan Giri.

Pada tahun 1680 Masehi, ketika kerajaan pesantren itu dipimpin oleh Ki Ageng Giri, tiba-tiba diserang oleh tentara Mataram dibantu VOC, karena Giri Kedaton tidak mau menyatakan tunduk kepada Mataram. Semua keluarga kedaton dibunuh habis dan Kedaton dihancurkan. Kenyataannya, Mbah Giri Laksana yang pada saat itu berusia lima belas tahun bisa meloloskan diri, didampingi seorang santri senior asal Singacala (Panjalu) dan berlari ke tatar Galuh. Beliau bersembunyi di lembah Gunung Sawal yaitu disebuah daerah pemukiman yang disebut Panumbangan.

Mbah Giri Laksana mempunyai anak, antara lain Murdagiri Laksana yaitu ayahnya kakek ku. Buyut Murdagiri Laksana adalah Kepala Desa Panumbangan pada periode 1801 - 1819. Murdagiri Laksana adalah buyutku dari pihak Ayah. 

Buyut Murdagiri Laksana dipastikan ada kaitan keluarga dengan istrinya Rd. Wiradikusumah Bupati Galuh saat itu. Mungkin saja Mbah Giri Laksana menikah dengan seorang wanita dari keluarga galuh atau mungkin juga Buyut Murdagiri Laksana sendiri menikah dengan sudara istrinya Bupati Galuh. Hal tersebut ternyata dari petunjuk yang ditulis dalam Historiografi Unpad yang menyebutkan bahwa Keluarga Galuh pernah kehilangan anak perempuan, menumpang mobil Kompeni untuk mendatangi saudara dari fihak ibu yang menjadi pejabat di Panumbangan. 

Kalau yang dimaksud oleh Historiografi Unpad, seorang anak  perempuan dari keluarga Galuh yang minggat itu adalah Rd. Widyaningsih (isterinya Eyang Murdagiri) artinya  Murdagiri Laksana yang saat itu menjadi Kepala Desa (pejabat) adalah saudara istri nya Bupati Ciamis. 

Yang uniknya - ayahku melanjutkan cerita leluhurnya - bahwa Rd.Widyaningsih kemudian menikah dengan putranya Murdagiri Laksana yaitu dengan Haji Yahya atau Eyang Murdagiri, Ia adalah kakekku. Dengan demikian Rd.Widyaningsih adalah nenekku dari pihak ayah. 

Boleh jadi, saat itu nenek ku terpikat oleh kakek, seorang pemuda alim anak Kepala Desa, saudara ibunya dari Panumbangan. Jadi kakekku dan nenekku, atau Eyang Murdagiri dengan Nenek Widyaningsih, sebenarnya masih mempunyai kaitan keluarga. 

Setelah Eyang Murdagiri dan Nenek Widayaningsih melangsungkan pernikahan,  kemudian menunaikan ibadah haji. Nama-nama beliau berdua diganti menjadi Haji Yahya dan Hajah Fatimah

Pertalian keluarga Kakek dan nenekku dengan keluarga Galuh, seperti yang diceritakan ayahku, sebenarnya bukan isapan jempol, karena diperkuat oleh kejadian yang aku alami selanjutnya. 

Pertama, pada awal tahun 1940an, saat aku masih sekolah di Leles Garut, ada seorang Wedana Leles yang mengakui kami ada kaitan keluarga dari Ciamis. Kemudian berlanjut peristiwa kedua, pada tahun 1947 ketika Sang Wedana Leles yang baik hati itu sudah menjadi Bupati Ciamis, beliau datang ke Panumbangan untuk mencari makam saudaranya (Rd.Widayaningsih atau Hj.Fatimah). Bupati Ciamis itu adalah Rd. Pater Dendakusumah

Jika Rd.Pater Dendakusumah menurut silsilah Galuh terbukti merupakan keturunan Rd.Wiradikusumah, maka Rd.Widayaningsih itu benar-benar seorang gadis yang minggat dari keraton Galuh.

Hasil perkawinan H.Yahya atau Eyang Murdagiri dengan Hj. Fatimah atau Rd. Widayaningsih, menurunkan keturunan lima orang anak, yakni :

1. Hj. Siti Maryam.
2. H.Ishak Yahya
3. H. Idris Yahya
4. H. Idrus Yahya
5. Hj. Imi Siti Hamidah.

Semuanya adalah saudara ayahku juga merupakan orang tua kami.

Disamping itu aku mempunyai saudara lain, karena ternyata kakeku menikah lagi dengan putri seorang ulama besar yaitu dengan Nyimas Sutyaningsih. Beliau juga termasuk nenekku, sehingga aku memanggil beliau Eyang Tia. 

Dari hasil perkawinan dengan Eyang Tia, Eyang Murdagiri memperoleh keturunan lima orang anak, yaitu;

1. Nyimas Siti Muti'ah
2. Nyimas Siti Emoh Marhamah
3. Mohamad H. Hanafiah
4. Mohamad E. Kosasih
5. Mohamad Dawami.

Semua nya aku anggap orang tuaku dan aku pun dekat dengan mereka. Sengguhnya, mereka juga masih termasuk "teureuh Murdagiri", sebab mereka juga anak-anak Eyang Murdagiri.


5. Putri Kesayangan Ayah.

Putra-putri Siti Musriah ibuku dari H.Idrus ayahku, adalah sebagai berikut:

1. H. Sirojudin (Kang Sirod)
2. Nyimas Iwah Sofiah Sriwekasari (Aku)
3. H. Muslim Murdawijaya (Uum)
4. Nyimas Elah Siti Romlah (Elah)
5. Umun Surahman Yahya (Umun)

Ayahku sangat mendambakan mempunyai anak perempuan, mungkin karena sebelumnya anak Ibu dari ayah lahir laki-laki. Oleh karena itu, ketika aku dilahirkan sebagai putri pertama, ayah sangat memanjakan aku, sampai-sampai kemanapun ayah pergi aku selalu dibawa dalam gendongannya. Malah ketika aku sudah masuk sekolah dasar pun, berangkat ke sekolah masih digendong di pundak ayah, serta dengan sabar beliau menunggui ku belajar di kelas sampai aku keluar sekolah.

6. Kampung Halamanku Tempat ku dilahirkan

Desa ku yang kucinta,
Pujaan hatiku,
Tempat ayah dan bunda,
Dan Handai tolanku.

Tak mudah ku lupakan
Tak mudah bercerai
Selalu ku rindukan
Desa ku yang permai.

Lagu ciptaan seorang pengajar bernama Liberty Manik (21 Nopember 1924) tersebut mengalun indah dengan tempo at a moderato. Keluar dengan suara nyaring dari sebuah radio tetangga yang kudengar ketàika aku jauh dari Kampung Halamanku. Alunan lagu itu membuat hatiku terenyuh dan timbul kerinduan pulang ke desaku yang permai. Tempat ayah dan bunda serta handai taulanku. Desaku yang tak mudah kulupakan.

Aku dilahirkan dan menikmati masa kecilku di sebuah desa di lembah Gunung Sawal, di bagian Utara Kabupaten Ciamis, yang kemudian terkenal dengan nama Desa Panumbangan.

Rumah keluargaku terletak di dusun Babakan tidak jauh dari alun-alun pusat desa. Tepatnya disekitar Balai Desa. Malah menurut penuturan ayahku, tanah untuk kantor desa, istal kuda juragan wedana dan alun-alun pun merupakan tanah wakaf dari  Uyut Murdagiri Laksana (Kepala Desa Panumbangan ke tujuh.

Dari pinggir alun-alun, manjang ke sebelah Timur sampai belokan jalan Babakan dan melintang dari Utara ke Selatan sampai persimpangan jalan Nyangkokot, saat itu adalah tanah-tanah keluargaku. Rumah-rumah keluarga ku berdiri dalam satu blok mulai dari sebelah Utara jalan Kabupaten sampai ke Selatan tepian jalan desa ke arah Nyangkokot.

Dulu, di sebelah rumahku berdiri sebuah Pesantren untuk belajar keagamaan bagi anak-anak di desaku. Ayahku yang mengelola dan memimpin pesantren itu, malah mengajar juga selepas menjalankan pekerjaannya. 

Ayahku bekerja di Kantor Urusan Agama di Panumbangan, tetapi tidak mendapat gaji dari Pemerintah seperti sekarang. Saat itu, pemerintah kolonial membiarkan urusan keagamaan orang pribumi dalam lingkungan hukum adatnya, sehingga untuk gaji para pegawainya diatur oleh hukum adat tersendiri, yaitu dengan diberikan garapan tanah Kas Desa berupa tanah "bengkok" seperti para pamong desa lainnya.

Di Belakang Balai Desa, memanjang ke sebelah Selatan sampai ke jalan Babakan, terdapat kolam yang sangat besar, kepunyaan Mama Haji Idris Yahya.

Aku tidak tahu pasti seberapa luas kolam milik mama haji itu. Yang aku tahu, jika mama haji menyuruh pekerja membobolkan kolam, baru airnya bisa surut setelah tiga hari tiga malam. Seluruh warga Panumbangan menyebut kolam itu "Balong Gede".

Dipinggir sebelah Timur Balong Gede terdapat sebuah bukit. Walaupun Bukit itu tidak terlalu tinggi, tapi sangat rimbun oleh pepohonan dan semak belukar sehingga memberikan kesan angker. Dari celah-celah akar yang menjuntai dan dari celah bebatuan, keluar mata air yang sangat jernih dan membuncahkan air sangat besar. 

Untuk menampung mata air itu dibuatkan bak penampungan atau kami menyebutnya kulah. Dari kulah tersebut dipasang talang bambu untuk mengalirkan air berupa "pancuran" .  Jumlahnya ada tujuh buah  yang berjejer memanjang sebagai tempat pemandian umum di desa kami. Kami semua menyebutnya Pancuran Tujuh, Cimalandang.

Selain digunakan sebagai tempat pemandian umum, disekitar lokasi Cimalandang, biasa juga digunakan tempat berkumpul pemuda dan pemudi. Bercengkrama mencari pasangan. Tapi ada juga pemuda atau pemudi yang sekedar curi-pandang "naksir" lawan jenis yang ia harapkan. 

Momen seperti itu tidak hanya di lakukan siang hari yang biasanya ramai pada sore hari, tapi kadang juga dilakukan malam hari, yaitu kalau bulan purnama memancarkan cahaya paling terang dan besar. Kami menyebutnya peristiwa itu Ngabungbang.

Masih ingat masa kecil ku, kalau kami sekeluarga pergi ke pancuran Cimalandang, aku paling senang berlama-lama di pancuran itu. Memainkan air ciprat-cipratan dengan teman sebayaku. 

Kalau sudah keasyikan bermain, aku menjadi sulit diajak pulang. Tapi ayahku tidak pernah memaksaku berhenti. Ayah sendiri dengan sabar menungguiku sampai aku bosan sendiri. Biasanya kebosananku datang, jika aku sudah menggigil kedinginan dan bibirku sudah membiru. Aku sendiri yang berhenti seraya meminta ayahku untuk menyelimuti dengan handuk.


7. Aku  jadi anak yatim

Seperti pribahasa sunda: "takdir teu bisa dipungkir, bagja teu bisa dipénta", maka maut sebagai takdir kedatangannya pasti dan tidak bisa dihindari. Allah Subhanahu Wata'ala  menghendaki sesuatu dari keluarga kami. Menghendaki aku dan saudara-saudaraku pandai memetik hikmah dan makna dari jalan hidup yang ditempuh tanpa ayah dimasa kanak-kanak.

Manakala Kang Sirod, kakakku masih duduk di Vervolig School kelas IV, sementara aku masih lekat dari buaian ayah, apalagi adik-adikku Uum dan  Elah masih sangat kecil, terutama adik bungsuku Umun masih bayi berumur tiga bulan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Beliau wafat di usia empat puluh lima tahun.

Wajah ayahku yang putih bersih bersinar dengan rona lembut penuh kesabaran, sela¡lu membayang di hati kami. Mengiris kenangan manis oleh kepiluan. Menghempas anak-anaknya ke dalam keterlantaran dari buaian kasih ayah. Sebelum kami kenyang kasih sayang, beliau telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sebelum kami besar "menjadi orang" dan berbhakti kepadanya, jasad beliau telah membujur kaku tidak membutuhkan apa-apa lagi, selain doa-doa dari kami semua. 

Rontoklah harapan masa depan bagiku dan saudara-saudaraku, karena satu-satunya harapan dan tulang punggung keluarga telah tiada. 

Baru aku menyadari setelah beberapa hari kemudian, ternyata sejak saat itu, aku dan saudara-saudaraku resmi menjadi anak yatim. Tanpa ayah yang menyayangi dan mengayomi. Tanpa ayah yang melindungi kami. "Selamat jalan Mama.Semoga engkau bersama orang-orang Sholeh di alam sana".


8. Terpulas diatas rumput, ditinggal kakak mengejar layang-layang putus.

Bukan aku saja yang kehilangan belaian ayah setelah beliau wafat, tapi seluruh keluargaku merasakan hal yang sama. Hal itu disebabkan semasa hidupnya, ayah sangat perhatian kepada keluarga. Ayah memberikan peranan besar dalam seluruh kegiatan keluarga kami. Walaupun ayah sibuk menjalankan pekerjaan di Kantor Urusan Agama serta mengurus pesantren, tapi masih bisa menyempatkan diri melakukan pekerjaan kecil di rumah untuk meringankan tugas ibu. Beliau sering membantu Ibu memasak di dapur dan mencucikan pakaian atau mencuci piring sekalipun. Beliau berperangai lembut, pendiam dan sabar. Kami belum pernah melihat dan merasakan ayah marah. 

Menurutku, ayah mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama begitu besar. Jangankan kepada manusia, kepada binatang dan tanamanpun ayah sering mengajak bercakap-cakap dengan ungkapan sayangnya. Yang paling berkesan terhadap karakter ayah, beliau sangat dekat dengan anak-anaknya.

Setelah ayah wafat, kami terdorong untuk bahu-membahu membantu ibu. Anak ibu yang saat itu agak dewasa hanyalah Kang Sirod, kakak sulungku. Aku sendiri baru masuk Sekolah dasar, apalagi adik-adiku masih kecil-kecil, terutama adik bungsuku Umun baru berusia tiga bulan.

Dengan demikian, beban membantu ibu berada dipundak kakak ku itu. Tugas utamanya mengasuhku, karena dua adik ku yaitu Uum dan Elah di asuh oleh saudar-saudara ibu, kecuali adik bungsuku Umun ditangani langsung oleh ibu.

Bagiku, perhatian dan kasih-sayang ayah yang hilang ternyata mendapat pengganti berupa kasih-sayang dari seorang kakak. Kang Sirod, yang biasa ku panggil akang, selalu mengasuhku dengan ikhlas, mengayomi dan melindungi. Kemanapun Akang bermain, selalu membawaku pergi. Kemanapun, aku digendong di punggungnya bagai menunggang kuda poni. Akang bermain kelereng dengan teman-temannya pun, aku dibawanya. Ketika akang mendapat giliran menjentrik gundu, aku ditaruh duduk dulu dipinggir pekalangan sambil memegang kaleng bekas susu friesian flag tempat kelereng hasil permainannya. Malah ketika akang ingin bermain layang-layang jauh dari rumah  - di sawah kering, di tegalan atau di alun-alun - akupun digendong dibawa berlari-lari.

Pada suatu hari, ketika akang ingin bermain di alun-alun, akang tidak tega meninggalkanku di rumah sendiri, meskipun sebenarnya beban tugas mengasuhku menjadi tanggung jawab akang. Ahirnya, terpaksa aku dibawa oleh akang bergelayut dalam gendongannya pergi ke alun-alun. Akang menggendongku sambil berlari dengan langkah berjingkat meniru langkah kuda, sehingga badanku bergoyang keras, dan akupun mempererat pegangan.

Yang membuat aku jengkel dengan ulah akang, ia berlari sambil kepalanya mendongak keatas memperhatikan layang-layang yang terbang di langit. Aku memejamkan mata ketakutan. Terbayang dibenakku, kaki akang terantuk memagut batu dan kami jatuh tersungkur.

Lama-lama aku kenyang kecemasan dan sepertinya ngantuk karena lelah. Aku tertidur dalam gendongan akang, kepalaku berkali-kali membentur punggungnya. Untung peganganku tetap ketat-erat mendekap leher akang. 

Menyadari keadaan tersebut, kemudian akang merebahkan badan ku diatas rumput alun-alun yang tebal, di bawah Pohon Beringin yang rindang dan teduh. Waktu aku kecil, di tengah alun-alun itu tumbuh pohon beringin sangat besar. Daunnya rindang, nyaris menaungi seluruh alun-alun. Lapangan alun-alun yang terbuka pun menjadi teduh dan udaranya sejuk. Kalau aku gambarkan betapa besarnya pohon beringin itu, pangkal batang  baru bisa didekap oleh enam atau tujuh orang dewasa. Dibawah pohon beringin itu, aku tertidur pulas dibuai keteduhan, apalagi sambil dibelai  desiran angin sejuk.

Sepertinya tiba-tiba akang melihat sebuah layang-layang putus, meleok-leok ditiup angin melintasi alun-alun. Akang sontak bangkit mengejar layang-layang itu dan meninggalkanku terpulas diatas rumput sendirian. Kemudian akang menjadi keasyikan mengejar layang-layang yang beruntun putus. Setelah mengejar satu layang-layang ke suatu tempat, kemudian menyusul mengejar layang-layang yang putus berikutnya ke tempat lain dan seterusnya hingga menjadi lupa telah meninggalkan adiknya tertidur sendirian di bawah pohon beringin sampai sore.

Pada sore harinya, aku terbangun dan menoleh disekelilingku tidak ada orang. Aku tidak mengetahui kemana akang perginya. Yang terakhir aku ingat, aku masih dalam gendongan akang dicekam kehawatiran. Tapi mengapa akang begitu tega meninggalkan aku sendirian? Aku menangis sejadi-jadinya karena takut dan tidak berani pulang sendiri ke rumah.

Sementara itu, ibu mencariku kemana-mana sambil memangku adik bungsu ku dalam pangkuannya. Ahirnya Ibu menemukan aku yang tengah menangis di bawah Pohon Beringin itu. Ibu sangat marah kepada akang karena dinilai tidak tanggung jawab. 

Setelah di rumah, akang menceritakan kejadiannya seraya meminta maaf kepada ibu. Yang paling berkesan dari sikap akang, setelah bersujud kepada Ibu, kemudian menghampiriku sambil mencium keningku tanda penyesalan dan kasih sayang.

Sejak saat itu, aku tidak diperkenangkan dibawa jauh dari rumah.


9. Kelana Merindukan Ibu

Setelah anak-anak tumbuh agak besar, Ibu menikah lagi dengan seorang Naib di Palimanan Cirebon. Mama Naib, suami ibu yang baru itu aslinya dari Ciwalen. Katanya masih ada kaitan famili dengan kami. 

Ibu mengikuti suaminya tinggal di Karanggetas, kemudian pindah lagi ke Pamuketan Cirebon tanpa membawa seorang pun anak kandungnya. Semua anak-anak Ibu ditinggalkan di Panumbangan diurusi oleh Ibu Haji. 

Ibu sendiri yang mengurusi anak-anak tirinya yang jumlahnya banyak. Walaupun umumnya anak tiri ibu sudah berumah–tangga, tapi masih ada yang kecil-kecil. Isteri Mama Naib terdahulu meninggal dunia, sehingga ibukulah yang menggantikan posisi dan peranan ibu bagi anak-anaknya. 

Mereka tidak seperti kami sunyi tanpa kehangatan dan kasih sayang Ayah dan ibu. Setidak-tidaknya bagi mereka ada kehangatan ibu yang menggantikannya.

Waktu Ibu meninggalkan kami, aku dan saudara-saudaraku diurus oleh Ibu Haji. Walaupun ibu haji merupakan kakak kandung ibu, ternyata tidak sepenuhnya mencurahkan kasih sayang kepada keponakannya yang telah manjadi anak yatim ini. 

Mungkin beliau berpikiran bahwa anak ibu sebelumnya dari Mama H.Ishak sudah diangkat anak oleh beliau. Kemudian secara tiba-tiba diserahi lagi lima orang anak ibu dari ayah yang masih kecil-kecil. Mungkin Ibu haji pusing harus mengurus anak kecil sebanyak itu dan sering rewel. Padahal Mama dan Ibu Haji sendiri tidak mempunyai keturunan.  Anak angkat dari Mama Ishak yaitu I'oh sudah berumah tangga sedangkan Ceu Emin sudah besar dan sudah Sekolah di Van Deventer Bandung.

Kemarahan Ibu haji kapadaku dan saudara-saudaraku sering dilakukan tanpa sebab atau mungkin sebabnya muncul pada saat kemarahan itu meledak. Ada-ada saja tindakan dan prilaku kami yang beliau persalahkan setiap harinya. Jika diam dipersalahkan tidak memperhatikan dan menyepelekan, tetapi jika berkata pun dipersalahkan membantah omongan orang tua. Aku dan saudaraku menjadi serba salah menghadapi ibu haji. Kesehariannya mengalami penekanan, sehingga prilaku kami cenderung fasip dan takut melakukan inisiatif. 

Hari-hari bagi kami diisi dengan tekanan dan penderitaan menahan kerinduan kepada Ibu yang jauh. Kami semua sering menghayalkan saat hangatnya dalam belaian orang tua, penuh cumbu dan gelak tawa, apalagi ketika ayah masih ada di tengah kami.

Begitu sedihnya hati kami, setiap hari sering melamun dan merindukan Ibu. Memang Mama Haji termasuk orang berada di desa kami, Tapi bagi kami masih akan memilih hidup apa adanya disamping ibu, dari pada hidup serba ada tapi menderita tanpa ibu.


II. KELANA MENITI CITA-CITA


1. Kelana di Meijses Vorvolig Leles Garut.

Aminah Yatmikasari kakak ku, setelah lulus dari pendidikan guru Van Deventer Bandung kemudian diangkat menjadi guru di Sekolah Putri Meijses Vervolig (MVS) di Leles Garut. Aku ikut tinggal bersama beliau. Aku masuk ke Sekolah MVS, serta beruntung aku dapat menyelesaikan pendidikan selama enam tahun.

Ceu Emin dan guru-guru lainnya mengontrak dibeberapa rumah saling berdekatan, mendekati Sekolah MVS yang letaknya bersebrangan dengan pendopo Kewadanan. Teman Guru kakak ku juga membawa adik atau saudaranya, sehingga aku mendapat teman sepermainan dan merasa terhibur. 


2. Teman Tapi Mesra. 

Ketika aku duduk di kelas enam MVS, aku berkenalan seorang teman pria bernana Ateng Suriatmadja murid kelas tujuh HIS dan kakaknya adalah guru yang sama-sama mengajar di MVS bersama kakak ku. Ia asli orang Cangkuang. 

Katakanlah ia sebagai sahabat dekat yang selalu menyertaiku. Pada saat itu aku belum mengerti apakah persahabatan kami itu merupakan cinta atau bukan, yang pasti kami saling memperhatikan dan ada rasa kehilangan jika tidak saling berjumpa. Jika liburan sekolah, kami sering bersama-sama piknik. Situ Cangkuang adalah tempat pavorit yang sering kami kunjungi. 

Disana kami saling bercerita tentang diri masing-masing. Kami tertawa bersama sambil berlari kejar-kejaran dipinggiran Situ. 

Kedua orang tuanya dan saudaranya yang teman guru kakakku itu pun mengetahui persahabatan kami. Malah pernah datang kepada kakakku untuk menjodohkan kami dikelak kemudian hari, karena untuk perjodohan dalam waktu dekat, mereka tahu kalau tekad ku untuk meneruskan sekolah sangat besar. 


3. Juragan Wedana Ternyata Familiku

Rumah kontrakan yang kami tempati berada di jantung kota Kewadanan Leles. Ruangan Pendopo Kewadanan terlihat jelas dari rumahku yang letaknya diseberang jalan. 

Pada saat itu, juragan Wedana Leles adalah Rd. Peter Dendakusumah. Menurut cerita beliau berasal dari Ciamis serta masih ada kaitan famili dengan kami. Katanya beliau masih saudara Eyang Rd.Widayaningsih yang menikah dengan Eyang Yahya Murdagiri.

Pada zaman itu feodalisme sangat kental. Juragan Wedana dan keluarganya mempunyai kedudukan istimewa dibandingkan rakyat biasa seperti kami. Status mereka disamakan dengan bangsa Eropa lainnya. 

Walaupun juragan wedana mengakui kami masih ada hubungan keluarga, tapi kami tetap tahu diri dan menjaga jarak. Hal tersebut kami lakukan untuk menjaga martabat juragan wedana sendiri, juga karena merasakan sikap isteri juragan wedana dan anak-anaknya yang semuanya bersekolah di Sekolah bangsa Eropa (Europische School), menunjukkan sikap yang kurang senang kepada kami. Gaya hidup mereka berlainan dengan gaya hidup kami sebagai rakyat pada umumnya. 

Ketentuan kolonial saat itu membagi tiga golongan penduduk, yaitu golongan Eropa, Timur Asing dan Bumi Putera. Golongan Bumi Putera atau pribumi ada yang disamakan dengan golongan Eropa atau Timur Asing yaitu para bangsawan seperti mereka. Secara hukum mereka diberikan hak previlage, yaitu hak diistimewakan atau diutamakan dari pada penduduk pribumi lainnya. 

Kehidupan sehari-hari dirumah, mereka seperti orang-orang Belanda pada umumnya. Tatacara dan berbahasa sehari-hari pun menggunakan bahasa Belanda. Pergaulan mereka dibatasi dalam status lingkungan dan derajat yang setara. 

Kalau kami kebetulan disuruh juragan wedana berkunjung ke kewadanan tidak dapat berlaku sembarangan, tapi harus mengikuti tatakrama. Berjalanpun harus “ngesor” mulai dari ambang pintu Pendopo Kewadanan. Dalam hal itu, tidak pernah sekalipun isteri juragan wedana atau anaknya menemui kami, kecuali juragan wedana sendiri yang menghampiri kami dan menanyakan keadaan kami semua. Terutama juragan wedana sering menanyakan keadaan keluarga di Panumbangan. 


4. Perkawinan Kakak ku 

Pada tahun 1937, Ceu Aminah Yatmikasari menikah dengan seseorang keturunan "menak kuningan" bernama Rd.U.Adimiharja. Aku menggunakan sapaan nama Kang Ubed untuk beliau walaupun lingkungan masyarakat menyapa "Pak Adi" serta seluruh keluarga menggunakan panggilan "Den Ubed". Den adalah panggilan pendek dari kata raden sebagai gelar keluarga bangsawan. Panggilan itu dilakukan oleh keluargaku kepada Kang Ubed karena keluargaku memahami bahwa Kang Ubed terah menak Kuningan dan sepertinya beliau sendiri memegang teguh kondisi keterahan tersebut. 

Katanya, awal pertemuan Kang Ubed dengan Ceu Emin di Pancuran Cimalandang Panumbangan. Tempat pemandian dengan tujuh pancuran yang berada ditepian Balong Gede. Pancuran yang airnya sangat jernih, yang oleh para remaja saat itu, bukan sekedar digunakan sebagai tempat pemandian semata, tapi juga digunakan sebagai tempat berkumpul dan bercengkrama kaula muda. Baik bagi dua sejoli yang berpacaran, maupun bagi yang jomlo ngeceng calon pasangan yang diincernya. Kalau menjelang sore, pancuran cimalandang menjadi ramai oleh orang-orang untuk mandi. 

Pada suatu waktu, kami di Leles mendapat liburan sekolah. Ceu Emin mengajakku berlibur di Panumbangan. Aku gembira mendengar ajakan kakak ku itu, karena aku dapat melepas kangen kepada saudaraku dan orang tuaku.

Bagi Ceu Emin seperti ada sesuatu yang menarik dirinya untuk berlibur di Panumbangan. Selain beliau ingin melepas kangen kepada keluarga, Ceu Emin seperti dituntun oleh garis takdir untuk bertemu dengan seorang pria yang kelak menjadi suaminya.

Ternyata dalam waktu bersamaan Ceu Emin dan Kang Ubed sedang berada di Panumbangan. Kang Ubed sedang berlibur dengan teman Sekolahnya, yaitu putra Juragan Wedana Panumbangan. 

Rumah kami di Panumbangan tidak jauh dari Pendopo Kewadanan. Jaraknya kurang dari seratus meter saja, tapi terhalang oleh beberapa rumah. Tidak seperti rumah di Leles yang bersebrangan dengan Kantor Kewadanan sehingga kami dapat melihat langsung keadaan di Pendopo.

Pada sore hari, ketika kaula muda hendak mandi di Pancuran Cimalandang, sepertinya kakak ku bertemu dengan Kang Ubed yang pergi mandi juga bersama temannya itu. Mereka kemudian saling berkenalan, seterusnya mungkin saling jatuh hati, karena selanjutnya Kang Ubed menjadi sering berkunjung ke rumah Ibu Haji di Panumbangan. 

Meskipun aku tidak mengetahui pasti awal pertemuan Kakak ku dengan Kang Ubed, tapi menurut curhatan Ceu Emin bahwa awal pertemuan dengan Kang Ubed adalah di Cimalandang. Pernyataan kakakku itu mengusik pertanyaan ku dalam hati. Apakah betul mereka pertama kali bertemu di Cimalandang ataukah sebelumnya telah saling mengenal diluar Panumbangan kemudian janjian untuk bertemu saat liburan?

Kepribadian Kang Ubed yang kental feodalis dan telah diwarnai pendidikan Barat kelihatannya kurang mengena di hati Ibu Haji yang menganggap Kang Ubed itu angkuh. Padahal yang aku tahu, sebenarnya Kang Ubed orangnya baik dan perhatian. Hanya mungkin lingkungannya mempengaruhi sikap dan prilaku beliau selalu berpegang pada tatakrama yang berbeda dengan lingkungan umumnya masyarakat yang dialami Ibu Haji. Buktinya, kakak ku sendiri sudah merasakan lebih jauh dari yang dirasakan Ibu Haji. Ternyata selang beberapa tahun kemudian, Ceu Emin menerima Kang Ubed sebagai suami. 

Setelah menikah dengan Kang Ubed, kakak ku pindah mengajar ke Garut dan akupun ikut pindah kesana, kecuali adik-adiku Uum dan Elah kembali ke Panumbangan mengikuti Ibu Haji. 


5. Ada Udang di Balik Batu 

Kang Ubed mempunyai adik laki-laki bernama Rd.Enoch Adimihardja yang biasa aku panggil Kang Enoch. Ia Sekolah di Schekel School Leles, yang kebetulan letaknya berdekatan dengan Sekolahku.

Sebenarnya, perasaanku pada beliau seperti kepada kakak kandungku sendiri. Aku merasa mendapat pengganti kasih sayang yang pernah aku dapatkan dari Kang Sirod kakakku yang saat itu berjauhan. 

Jika liburan tiba, aku sering diajak pergi berwisata oleh Kang Enoch, sampai ahirnya kami berpisah karena beliau meneruskan Sekolah di "Cultuur School" Malang. Tapi kemudian, ketika aku melanjutkan sekolah di Jogyakarta, kami sering bertemu dan sering bersama-sama dalam perjalanan naik kereta api kalau pulang dari Jogyakarta ke Garut atau pergi dari Garut ke Jogyakarta. 

Aku tidak menyadari, ternyata Kang Ubed iparku dan Ceu Emin kakakku, sudah mempunyai rencana tertentu untuk menyatukan kami. Menyatukan aku dengan Kang Enoch.

Sayangnya aku sendiri terlanjur menganggap Kang Enoch sebagai kakak kandungku, disamping waktu itu aku belum selesai sekolah. Alasan itu sebenarnya tidak masuk akal, sebab kelulusanku tinggal enam bulan lagi dan seandainya aku menjawab iya, bukan berarti harus segera menikah. Waktu enam bulan bukan waktu lama untuk Kang Enoch menunggu. 

Sebenarnya aku mempunyai pertimbangan lain yang sulit diucapkan dihadapan kakak ku yang belum kubalas budinya dan dihadapan Kang Enoch yang aku hormati yang harus kujaga perasaannya. 

Aku dicekam kehawatiran jika aku menikah dengan Kang Enoch yang adiknya kakak iparku dan adik iparnya kakakku. Aku khawatir jika dua wanita kakak beradik mempunyai suami kakak beradik, maka jika ada masalah disalah satu pihak akan besar pengaruhnya kepada pihak lainnya. 

Karena rasa hormatku kepada Kang Enoch serta budi belum terbalas kepada Ceu Emin dan Kang Ubed, membuat aku memberikan jawaban dengan diam, sambil merunduk dan meneteskan air mata. 

Sebagai orang terpelajar, baik Kang Enoch maupun kakak ku, sepertinya menyelami perasaanku ketika aku ditanya tidak memberikan jawaban apa-apa. Mereka mengerti bahwa di hatiku ada sesuatu yang membuat aku sulit mengambil keputusan dan mereka pun tidak memaksakan kehendak. Selanjutnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 


6. Kelana dalam Tatakrama Feodal

Ketika Ceu Emin menjadi Kepala MVS di Leles, aku ikut pindah termasuk adik-adik ku Uum dan Elah dari Panumbangan. Uum masuk sekolah HIS dan Elah masuk sekolah MVS.

Dengan tatacara feodal yang diterapkan kakak ipar di rumah, serta sikap keras dan tegas dalam menegakan peraturan, sepertinya bagi adik-adikku yang masih kecil merupakan tekanan mental yang berat, sehingga mereka merasa tidak kuat dan tidak kerasan lagi tinggal bersama kami. Ahirnya mereka pulang ke Panumbangan. Adik ku Uum meneruskan Sekolah di HIS Ciawi, namun Elah sendiri kandas diawal perjalanan. 

Bagiku, berusaha sedemikian rupa menghadapi keadaan, karena cita-cita utamaku adalah ingin sekolah dan menyelesaikan sekolah. Aturan feodal yang aku alami di rumah senantiasa dijadikan bekal pengalaman untuk kepentingan ku kelak. Aku nyaman bersama Ceu Emin. Banyak keterampilan yang aku peroleh berkat beliau, yang pastinya berguna bagi hidupku kelak. 


7. Kakakku Sumber Inspirasiku

Aku merasa bangga kepada kesuksesan hidup kakak ku. Seorang gadis desa , bisa menembus di Sekolah Putri Van Devender Bandung. Kemudian langsung diangkat sebagai Guru di MVS dan tidak lama kemudian diangkat Kepala Sekolah. Aku ingin seperti jalan hidup kakak ku. Aku ingin bisa masuk di Sekolah Putri Van Deventer seperti kakak ku, meskipun aku gadis desa dari kalangan rakyat kebanyakan yang tidak diperhitungkan. Aku harus berjuang keras demi cita-cita ku.

Untuk ukuran saat itu, gaji guru yang diterima Ceu Emin terhitung besar. Beliau menerima gaji 27 gulden setiap bulannya. Kehidupan kakak ku nampak sejahtera, karena disamping pendapatan sendiri dari guru, gaji suaminya pun besar. Harus aku akui, selama aku sekolah di MVS biiaya hidupku ditangani beliau. Namun untuk tidak selalu merepotkan beliau, ketika aku masuk ke Van deventer School, terpaksa kami menjual tanah peninggal ayah. 

Bagi aku sendiri, tetap akan bertahan menghadapi berbagai tekanan dan penderitaan. Aku bertekad keras untuk dapat melanjutkan sekolah. Aku ingin masuk Sekolah Guru Putri Van Deventer seperti kakak ku. 

Tekad ku mendapat dukungan dari kakak dan kakak iparku. Beliau menasehati ku agar aku tabah dan sabar memperjuangkan cita-cita ku. Karena beliau menyadari bahwa tantangan paling berat dalam menggapai cita-citaku waktu itu adalah faham orang tuaku yang masih ortodok. Orang tuaku masih berpandangan bahwa wanita tidak perlu sekolah. Menurut fahamnya, wanita ahirnya juga ada didapur. Wanita itu adalah pengabdi pada suami, asal pandai ngulek sambal dan menanak nasi, sudah cukup, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi yang menghabiskan biaya besar. 

Tapi pandanganku berbeda, meskipun kodrat wanita harus bersuami dan berumah tangga, jika seorang istri berisi ilmu, akan mampu meningkatkan mutu rumah tangganya kemudian. 

Dalam hal demikian, aku siap dicap pembangkang kepada orang tua, dan siap juga menerima resiko penghentian biaya dari orang tua. Tekad ku sekolah telah sekeras baja. Dan Kakak ku, adalah sumber inspirasiku. 


8. Menapaki Cita-Cita di Van Deventer School. 

Pada awal mengikuti seleksi masuk Van Deventer School, aku sempat ragu dapat diterima, sebab Sekolah tersebut merupakan sekolah pavorit di Hindia Belanda saat itu. Disamping ada jaminan langsung diangkat sebagai pegawai negeri, biaya pendidikan pun ditanggung oleh Yayasan Van Deventer. Mungkin istilah yang digunakan sekarang adalah beasiwa. 

Oleh sebab itu, pelaksanaan seleksi sangat ketat. Siswa yang dibutuhkan tiap angkatan hanya tiga puluh orang, sedangkan peserta seleksi dari seluruh wilayah jajahan Hindia Belanada, jumlahnya hampir mencapai seribu orang. 

Rasa fasimis makin besar setelah menyadari bahwa hanya golongan pribumi tertentu yang diutamakan mendapat tiket, sedangkan golongan pribumi kebanyakan seperti aku, jelas tidak diperhitungkan. 

Bisa dilayani waktu mendaftar pun karena ada Kang Ubed yang fasih Bahasa Belanda sambil membawa verklaaring dari Juragan Wedana Rd. Peter Dendakusumah. Selebihnya, hanya doa ibu yang menjerit di Panumbangan memohon kepada Al Mujib untuk kesuksessn anaknya. 

Seleksi dilaksanakan tiga tahap dan tiap tahapan diumumkan dengan sistim gugur. Pada saat pengumuman kelulusan tahap pertama, jantungku berdetak keras, karena peserta seleksi tinggal bersisa tiga ratus orang dan aku termasuk di dalamnya. Begitupun saat tahapan kedua, peserta bersisa seratus orang, aku juga masih termasuk didalamnya. Lebih mendebarkan lagi waktu pengumuman terakhir. Semalaman aku kurang tidur, karena selepas tahajud aku terus bermunajat sampai shalat Subuh. Ibuku di Panumbangan katanya melakukan hal yang sama. Malah menurutnya, beliau memohon sambil bersujud mencucurkan air mata, hingga sajadah basah dibuatnya. 

"Innamaa Amruhu idzaa araada syaian an Yaquu lalahuu Kun Fayakuun" 

Alhamdulillah, dari hasil seleksi terakhir, aku termasuk tiga puluh orang yang diterima. 

Inilah langkah awal meniti cita-citaku, setapak telah mampu kujalani. Aku diterima sebagai siswa Van Deventer Bandung pada tahun 1941.


9. Mengenal Sekolahku

Saat mulai masuk Sekolah Guru Putri Van Deventer (VDS) di Bandung, aku diantar oleh Kang Ubed kakak iparku. Dulu, Sekolah itu terletak di Jalan Cibunut. 

Van Deventer School didirikan sebagai akibat Politik Etiek yang digagas kalangan intelektual Belanda di Nederland yang menghendaki adany balas budi kepada bangsa pribumi (inlander) yang menderita oleh penerapan Cultuur Stelsel dan yang mendatangkan keuntungan berlimpah bagi Nederland. Balas budi dari penerapan poltiek etik tersebut, diantaranya memberikan pendidikan yang layak kepada pribumi. 

Dalam rangka mencetak tenaga guru itu. Van Deventer School didirikan, menyertai sekolah guru Kartini yang juga dispinsori oleh Yayasan yang sama. 

Berdirinya Sekolah Guru Putri tersebut berkat jasa seorang bangsa Belanda yang peduli pada peningkatan pendidikan bangsa terjajah. Ia adalah Nyonya Van Deventer, dan nama sekolah itu diambil dari nama pendirinya. 

Peraturan di sekolah sangat ketat, serta segala sesuatu harus di lakukan secara disiplin berdasarkan aturan yang telah ditetapkan sebagai "internat". Disiplin ketat yang ditetapkan di sekolah, bagiku tidak menjadi beban berat, sebab selama di rumah pun terbiasa menjalankan aturan yang ditetapkan kakak ipar. 

Inilah, barangkali hikmah yang dapat aku petik dari rangkaian perjalanan hidup yang aku alami. Ternyata Allah Subhanahu Wata'ala telah terlebih dulu mempersiapkan diriku sebelum diterima di VDS. Kalau aku tidak tahan menghadapi ketatnya tatakrama di rumah seperti keadaan adik-adikku, tentu aku tidak akan kuat menghadapi disiplin ala Belanda yang aku alami di sekolah, sehingga ahirnya aku gagal meraih cita-cita. 

Awal masuk sekolah, aku sudah merasa senang. Kami bisa berkenalan dengan siswa yang datang dari berbagai daerah luar Jawa, seperti Ambon, Kalimantan dan Sumatera. 


10. Fasilitas Sekolahku 

Mengikuti di Sekolah Van Deventer segalanya terjamin. Pemenuhan gizi makanan siswa sangat di perhatikan. Pagi-pagi para siswa sudah diberi roti isi daging cincang dan telur rebus. Padahal menurut ukuran kehidupan umumnya orang pribumi saat itu, makanan semacam itu, nyaris tidak pernah ditemukan. 

Saat istirahat pertama sudah diberi lagi roti keju dan segelas susu murni. Semua makanan yang dihidangkan harus dimakan, tidak ada alasan tidak suka. Jika tidak dimakan akan kena hukuman. 

Apabila ada kegiatan olah raga, makanan ditambah lagi dengan bubur kacang ijo. Sekitar jam 13.00 kami harus sudah makan siang. Cara duduk, cara makan dan setiap gerakan siswa diawasi ketat oleh Mevrouw De Loof. 

Menu makanan berganti setiap hari sesuai daftar yang disusun untuk satu minggu. Jam 14.00 kami harus sudah tidur siang. Dalam hal ini, kami harus benar-benar istirahat dan tertidur. Dalam jadwal istirahat seperti ini, para siswa tidak diperkenankan keluyuran di luar kamar. Di dalam kamar pun kami harus kelihatan berbaring ditempat tidur. Semua gerak-gerik kami diawasi oleh "huishouddme". 

Jika keluarga menjenguk dan membawa oleh-oleh makanan, maka makanan tidak boleh disimpan di asrama, karena setiap saat, tempat tidur kami dirazia. Apabila pengawas menemukan makanan di ruang tidur, hukumannya berat. 

Makanan harus disimpan di lemari khusus (loker) yang berada di ruang makan, dan hanya boleh diambil pada jadwal istirahat dan dimakan di tempat itu. 

Nilai yang ingin diterapkan oleh bangsa Belanda kepada Sisa-siswa calon guru, agar mereka tidak "Capék-rahém" disembarang tempat dan sembarang waktu. 

Kebiasaan tersebut, akan mempengaruhi juga kebersihan lingkungan sekolah. Di lingkungan VDS tidak akan ditemukan serakkan sampah bekas kemasan makanan. Oleh karena itu, tidak heran jika nun disana di negara Belanda, katanya merupakan negara terberesih se dunia. 

Asrama di VDS terdiri tiga bangsal dengan ruangan besar-besar. Aku mendapat tempat di Bangsal dua dibawah pengawasan Mevrouw Essinger. Bangsal tiga dibawah pengawasan Ibu Rumsari orang Bandung. Sedangkan bangsal satu dibawah pengawasan Mevrouw De Loof. Bangsal satu merupakan asrama yang paling ditakuti para siswa, karena pengawasnya Mevrouw De Loof terkenal keras dan kejam. Bangsal satu merupakan tempat pembuangan siswa hukuman atau siswa bandel yang dipindahkan dari bangsal lain. 

Perawakan badan Mevrouw De Loof, tinggi, besar dan gemuk seperti raksasa, sehingga kami memberi julukan "Si Denawa". Selain Si Denawa sebagai kepala bangsal satu, ia juga menjadi pengawas dapur dan ruang makan. 


11. Wisata dan Liburan Sekolah 

Setiap hari minggu, semua siswa pergi jalan-jalan mengelilingi kota Bandung dipimpin Mevrouw Essinger. Kami mengunjungi Savoy Homman, Concordia, Braga serta ke Dago. Semua dilakukan dengan jalan kaki untuk refreshing sekaligus olah raga. 

Dulu, kota Bandung udaranya segar tidak seperti sekarang pengap oleh polusi asap knalpot. Selama perjalanan, para siswa dilarang jajan, sebab semua perbekalan sudah disiapkan yang di bawa dalam kendaraan khusus. Semuanya gratis, para siswa tinggal menikmatinya. 

Satu tahun dua kali, kami diberi kesempatan libur pulang kampung. Dalam liburan ini, para siswa boleh dijemput oleh keluarga. Malah kakak kelas banyak yang pulang kampung dijemput pacarnya. 

Aku memilih pulang kampung rame-rame bersama teman sekolah dari daerah yang sama. Rasanya lebih menikmati kebebasan selama perjalanan. Kami bisa tertawa lepas bersama dan bernyanyi bersama dalam kendaraan. 

Mungkin pilihan yang aku tempuh untuk pulang kampung rame-rame itu, karena keadaan aku tidak ada keluarga yang menjemput (apalagi jemputan dari pacar). Jika keadaanku berbeda, maka pilihanku pun akan berbeda pula.

Di saat liburan itulah, kami merasa terbebas dari segala kekangan yang selama itu membelenggu di sekolah. Dalam perjalanan, kebahagiaan kami terlepas sepuas-puasnya. Kami bisa jajan seenaknya tanpa merasa takut mendapat hukuman dari Sang Mevrouw Pengawas. 

Setelah liburan berakhir, kami kembali ke Asrama sambil membawa oleh-oleh khas daerah masing-masing dan kami biasa saling bertukar oleh-oleh dengan teman lainnya. Sehubungan aku pulang kampung ke Garut, maka oleh-oleh yang aku bawa adalah "Dodol Garut". 

Lucunya, teman-temanku banyak yang berasal dari Garut, sehingga oleh-oleh yang di bawa pun banyak jenis yang sama. Akibatnya barter menjadi batal, karena pertukaran hanya berlaku untuk jenis yang beda. 

Ada satu jenis makanan yang tidak pernah lupa aku bawa, yaitu kacang goreng. Makanan itu, selain awet dan tahan lama, juga bisa diselipkan di dalam tas buku untuk dibawa ke ruang kelas. Jika pelajaran sedang berlangsung di dalam kelas, aku sering sembunyi-sembunyi mengemil kacang goreng. Tentu saja perbuatan ku semacam itu sangat dilarang dan kalau ketahuan bisa mendapat hukuman berat. 

Dari segi etika, sebenarnya orang Belanda ingin menerapkan tatakrama mereka kepada orang pribumi. Mereka, sedemikian rupa memaksakan prilaku mereka sendiri menjadi prilaku pribumi, padahal tidak seluruhnya positif. 

Sebagaimanapun bangganya mereka kepada kebudayaan mereka paling beradab, tetap memuat unsur kelemahan dan efek nigatif jiga dilakukan bangsa pribumi. Bagaimanapun direndahkan dan dilemahkan kebudayaan pribumi yang mereka anggap tidak beradab, tetap mempunyai unsur kebaikan yang tidak dipunyai oleh mereka. 

Rasa kebersamaan dan gotong-royong orang pribumi yang mendarah daging, lebih bernilai dalam kehidupan masyarakat dari pada nilai individualis penuh konkurensi yang selama ini menjadi tabiat mereka. 

Mereka lupa, sebenarnya orang pribumi mempunyai tatakrama sendiri yang bersumber dari suatu peradaban yang lebih maju dari pada leluhur mereka. Orang pribumi bukan berasal dari barbarian yang mereka sangka tidak beradab. Orang pribumi telah mempunyai nilai hidup sejak lama, sehingga mereka bisa bertahan dan melangsungkan kehidupan ribuan taun. Tanpa kehadiran bangsa oranye, orang pribumi sedang baik-baik saja. Mungkin jauh lebih baik jika tidak datang mereka. 

Orang Belanda menganggap , kebiasaan mereka dengan "Groeten" (Ucapan Selamat) adalah nilai keunggulan dalam komunikasi untuk menjaga relasisasi, sehingga pengucapan "Smakelijke Eten" atau "Welte Ruste" wajib dilakukan kepada orang yang akan makan dan akan tidur. Jika tidak, maka dia akan distraaft. 

Orang Belanda lupa bahwa orang pribumi juga mempunyai kebiasaan yang sama walaupun dengan pengucapan berbeda. Di suku sunda seperti aku, dikenal dengan adanya "kawilujengan". 

Aku berani bertaruh. Jika seorang siswa Van Deventer mengucapkan "Wiujeng Tuang" saat akan makan, bisa dipastikan ia tetap mendapat hukuman karena dianggap tidak Groeten. Padahal maknanya sama dengan smakelijke eten. 

Jadi sebenarnya siapa sich yang keliru?


12. Hukuman Menerima Surat Cinta 

Jadwal kunjungan ditentukan pada hari Minggu jam 08.oo sampai dengan jam11.3o. Tamu yang akan bezoek harus diacatat dulu dalam daftar dengan mencantumkan siapa yang dikunjungi, apa hubungannya dan apa tujuannya. Kalau yang berkunjung mempunyai hubungan keluarga, oleh pihak sekolah tidak dipersulit. Tapi kalau tamu itu teman apalagi pacar, pihak sekolah akan mempersulit atau menolaknya. Sekolah tidak memperbolehkan siswa menerima pacar sebagai tamunya walaupun dalam jadwal bezoek. 

Namun para siswa terutama kakak-kakak kelas yang usianya sudah dewasa sering mengakali dengan mengaku sebagai saudara jika pacarnya melakukan kunjungan. 

Untuk menerima tamu disediakan ruangan khusus tempat menerima kunjungan. Biasanya, setelah tamu dicatat dalam daftar, siswa yang berada di bangsal asrama dipanggil dan diberi tahu bahwa di ruang kunjungan sudah menunggu tamu. 

Selama pendidikan di sekolah itu, aku tidak pernah menerima kunjungan selain keluarga. Jangankan menerima kunjungan terlarang dari Sang pacar, mendapat kunjungang dari bekas teman di Garut pun tidak pernah. Lagi pula, saat itu aku belum punya pacar. 

Sebenarnya, dalam kekangan aturan sekolah yang ketat yang aku alami, mendapat kunjungan dari keluarga pun sudah menjadi obat penawar. Selain itu, untuk memikirkan pacaran belum tumbuh di hatiku. Bukan benihnya tidak ada, tapi tanah di hatiku masih perlu penggarapan lebih lanjut. Saat itu aku baru kelas satu. Umur dan pengalaman belum cukup untuk pengembaraan. 

Aku pernah kena hukuman tidak boleh menerima kunjungan keluarga selama satu minggu. Hukuman itu dirasakan sangat berat bagi ku, karena satu-satunya obat penawar kangen adalah keluarga. Juga hukuman yang ditimpakan kepadaku bukan karena kesalahanku. Aku mendapat hukuman karena kesalahan yang tidak aku lakukan. Akibat perbuatan orang lain yang tidak aku ketahui, malah tidak aku harapkan. 

Seorang sahabat yang aku pernah dekat waktu Sekolah MVS di Leles Garut, yaitu Ateng Suradimadja mengirim surat kepadaku melalui sekolah. Isinya agak romantis, tapi pastinya aku juga tidak mengetahui karena waktu itu, aku tidak membacanya. 

Surat tersebut diterima oleh Ibu direktris Van Deventer, Mevrouw Ulyee. Aku dipanggil dan diintrograsi. 

Awalnya aku hanya melongo bengong, karena tidak tahu apa yang terjadi. Setelah Ibu direktris mengatakan ada surat dari seorang pria bernama Ateng Suradimadja, aku jadi faham dan kemudian membela diri dihadapan beliau bahwa hal itu tidak aku harapkan dan tidak aku ketahui. 

Sambil tersenyum agak sinis, Mevrouw Ulyee memberikan pilihan kepadaku, yaitu tidak mendapatkan hukuman tapi surat tidak diterima, atau menerima surat tapi mendapatkan hukuman. 

Pertimbanganku waktu itu, adalah kekhawatiran di dalam surat ada suatu informasi penting selain Cinta yang ingin dia sampaikan. Tapi jika aku ingin menerima dan membaca surat itu harus menebusnya dengan pengorbanan ku sendiri yaitu suatu hukuman sekolah. Waktu itu aku berfikir bahwa menjalankan hukuman sekolah bukan berarti mengahiri cita-citaku. Kesalahan itu tidak layak aku di dropout dari sekolah. Ahirnya aku memutuskan untuk menjalani hukuman. Ibu direktris malah tertawa sambil menggeleng-geleng kepala. 

Gestur Mevrouw Ulyee seperti itu, yang tidak ku ketahui sampai sekarang. 

Hukuman yang aku terima adalah harus diam ditangga teras rumah Mevrouw Ulyee sampai jadwal makan dan menuliskan kalimat 100 baris dengan tulisan rapih dan tebal tipis, berbunyi : " Ik mag niet stout bent". Disamping hukuman itu. aku tidak boleh menerima kunjungan keluarga selama satu minggu.

Ateng adalah sahabat ku yang dulu sering bermain bersama di Situ Cangkuang Leles. Menurutnya ia telah bekerja di Pontianak pada Dinas Pemetaan (Topografdienst) dan mengirim alamat lengkap kepadaku. Untung aku bersedia berkorban demi informasi berharga ini. 

Sebenarnya aku nyaris lupa kepadanya, tapi bukan berarti aku melupakan kenangan bersamanya. Mungkin saja kenangan manis yang pernah kami ukir bersama dulu, tidak lebih besar dari hasratku menggapai cita-cita. Sehingga keberadaan dia tertutup ambisiku.

Saat ini sepertinya aku membutuhkan dia, setidak-tidaknya oleh kehadiran tulisan sebagai cermin perasaanya. Selain itu aku membutuhkan pengakuan dihadapan teman-temanku. Ketiadaan kunjungan pacar, bukan berarti aku jomlo tidak laku, tapi ada seorang ambtenaar yang menunggu di kejauhan. 

Puluhan tahun kemudian, anak ku tertawa terkekeh-kekeh ketika aku bercerita kepadanya. Katanya aku melakukan "Cinta berjarak" atau "Long distance" seperti anak muda saat ini di media sosial. 

Surat Cinta pembawa petaka yang Ia kirim ke sekolah ku, tak urung aku balas. Aku tulis bahwa aku kena hukuman gara-gara surat yang dikirim ke alamat sekolah. Selanjutnya aku sarankan, jika akan mengirim surat lagi agar ditujukan ke alamat rumah keluarga temanku yang ada di Bandung. Nantinya, kalau keluarga temanku mengadakan kunjungan, surat akan akan sampai ke tanganku. 

Surat balasan dari ku dititipkan kepada tukang kebun sekolah yang tiap hari pulang kerumahnya. Kepada Tukang Kebun aku pesankan agar memasukan amplop suratku kedalam Kotak Pos yang berada di persimpangan jalan, karena aku sendiri tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah.  

Selanjutnya, surat-menyurat antara aku dan sahabatku di Kalimantan berjalan lancar. Aku menerima surat darinya melalui keluarga temanku yang tinggal di jalan Melong dan aku membalas suratnya melalui tukang kebun, walaupun gerakanku harus hati-hati dan sembunyi-sembunyi dari penglihatan pengawas. 


13. Masa Akhir Van Deventer School

Setelah aku naik kekelas dua Van Deventer, situasi keamanan di Hindia Belanda sangat genting. Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya mengalahkan Sekutu, yang salah satu anggotanya adalah Belanda. Hindia Belanda yang berada dalam kekuasaan Belanda harus diserahkan kepada Jepang. 

Suara sirine meraung-raung hampir tiap hari menandakan bahaya peperangan akan terjadi. Ledakan Bom menggelegar pun menjadi warna keadaan saat itu. Hubungan surat-menyurat dengan sahabatku di Pontianak dengan sendirinya terputus. 

Sejak saat itu dan seterusnya, sampai sekarang aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang dia. Kecuali setelah lebih setengah abad kemudian, ternyata anaku yang kedua bersahabat dengan putra H.Ateng Suriatmadja dan ternyata juga beliau menikah dengan teman sekolahku (teman di VDS) asak Garut. Katakanlah beliau bernama Hj. Mardiah Sriwekasari (nama asli disamarkan)  tinggal di Jalan Naripan Bandung.

Pergerakan kemerdekaan dan pergolakan politik yang tidak menentu dalam waktu cukup lama membuat kami, (Aku dan Ateng) mengayunkan langkah kehidupan sendiri-sendiri. 

Makin hari situasi keamanan makin genting. Sirine tanda bahaya makin kerap terdengar. Tempat persembunyian bawah tanah dari serangan udara (bunkker) telah disiapkan sebelumnya oleh pihak sekolah. 

Shnikelder atau bunkker yaitu suatu ruangan bawah tanah yang diatasnya di timbun tanah menggunung serta ditamani rumput dan pepohonan perdu agar tidak kelihatan - merupakan fasilitas wajib yang harus disediakan bangunan umum.

Shnilkelder adalah merupakan fasilitas bangunan umum yang harus ada. Begitu detail perhitungan orang Belanda dalam perencanaan bangunan umum. Memperhitungkan bangunan sekolah sebagai fasilitas yang digunakan  dan menampung banyak orang, serta menyadari keadaan saat itu dalam situasi perang yang rawan serangan udara, maka pembuatan bunkker merupakan fasilitas yang diutamakan dalam membuat perencanaan. 

Menurut perhitungan mereka, jika tiba-tiba terjadi serangan udara, para siswa tidak panik lagi mencari tempat persembunyian. Semua siswa tinggal masuk kedalam bunkker. Semua langkah sudah direncanakan dalam protokol penanggulangan bahaya serangan udara. 

Lain lagi dengan perencanaan bangunan umum yang dibuat bangsa sendiri, pada umumnya bangunan sekolah didirikan asal-asalan. Tidak dipikirkan membuat fasilitas keselamatan siswa. Malah tidak ditentukan suatu protokol keselamatan. Harus bagaimana dan harus kemana melangkah menyelamatkan diri jika terjadi serangan udara. 

Kenyataannya Murid termasuk guru malah panik tidak tahu kemana harus bersembunyi. Ahirnya orang-orang bertebaran lari kesegala arah dan korbanpun banyak berjatuhan. 

Hal semacam itu, sebenarnya pernah aku alami setelah menjadi guru beberapa tahun kemudian. Kira-kira sekitar tahun 1948 an, Sekolah Rakyat Panumbangan I di bom oleh Belanda ketika sedang kegiatan belajar-mengajar, murid-murid berhamburan lari tak tentu arah karena panik, bagaikan kelelawar yang terbang berhamburan karena ketakutan. Ada sekelompok murid yang bersembunyi didekat  mesjid agung yang letaknya disebelah sekolah dan disana bom itu meledak dahsyat. Korban berjatuhan tidak dapat dielakan lagi. 

Kembali ke keadaan di sekolah pada awal pendudukan Jepang. Sehubungan makin kerapnya serangan udara, seluruh siswa VDS diperintahkan siaga setiap saat. Para siswa yang biasanya diwajibkan memakai piyama saat tidur, kali ini diharuskan memakai pakaian lengkap termasuk sepatu harus dipasang. Setiap siswa dipasang kalung identitas dan dibagi karet gigi.  

Suara sirine terus menerus berbunyi siang malam. Akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk memulangkan seluruh siswa kepada keluarganya. Namun, belum juga rencana dilaksanakan, pesawat terbang Jepang terdengar menderu mengelilingi Kota Bandung. Para siswa bergegas meninggalkan sekolah hingga tidak sempat lagi membawa pakaian yang masih tersimpan di asrama. 

Tidak berapa lama setelah kami meninggalkan sekolah, kota Bandung dibombardir oleh Angkatan Udara Jepang, termasuk Sekolahku. Kemudian terdengar Berita bahwa Sekolah kami di jadikan Markas Tentara Jepang. Guru-guru kami dan seluruh pegawai Sekolah Van Deventer orang Belanda di tahan dan di interneer.  

Yang tidak aku mengerti, teman sekolah yang berasal dari Sumatera yang biasa aku panggil Cinot atau nama aslinya Sindy Nasution. Pada saat meninggalkan Sekolah ia masih bersamaku, namun kemudian bom jatuh dan meledak tidak jauh dari kami berjalan. Aku meloncat kedalam got, tapi Sindy masih termangu dipinggir jalan. Kemudian aku segera bangkit dan lari meninggalkan tempat itu.

Sejak saat itu aku tidak melihat dia lagi dan tidak mendengar beritanya. Malah pada saat seluruh eks siswa Van Deventer diseru mendaftar ulang dan melanjutkan sekolah sentral pendidikan guru di Jogyakarta, Si Cinot pun tidak aku temukan.

Selamat tinggal kawan, bagiku engkau merupakan kesuma bangsa!


13. Minggat Dari Rumah Dipaksa Nikah. 

Arah pelarianku dari kota bandung adalah rumah kakak ku di Garut. Entah numpang kendaraan truk milik siapa waktu itu, karena gelombang pengungsi dari kota bandung ke luar kota berbondong sangat panjang. Pemilik truk kelihatannya orang Balanda dari sebuah perkebunan, sehingga aku memberanikan diri minta pertolongan dengan menggunakan bahasa Balanda. Anehnya, dia kemudian mengizinkan ku menumpang. 

Dalam keadaan darurat seperti itu batas antara bangsa penjajah dan terjajah seolah-olah pudar. Yang muncul kepentingan bersama menyelamatkan jiwa. 

Sesampainya di Garut, ternyata kakakku yang baru melahirkan anak kedua, sudah pergi meninggalkan rumahnya, katanya mengungsi ke daerah pinggiran di kaki Gunung Talagabodas. Pada saat itu aku memutuskan untuk pulang ke Panumbangan, bergabung dengan rombongan pengungsi yang menuju daerah Tasikmalaya, karena jika menyusul kakak ku, aku tidak mengetahui pasti tepat tempatnya.

Selama beberapa waktu awal pendudukan Jepang, aku tinggal bersama Ibu Haji Marfuah di Panumbangan sambil menunggu berita untuk melanjutkan kembali sekolah. Namun tinggal bersama orang tuaku itu membuat kehidupanku menjadi lebih ruwet. Cita-citaku nyaris gagal oleh konsep keterpakuan tradisi orang tua yang ingin diterapkan secara paksa dalam kehidupan pribadiku. 

Pada saat itu aku mendapat tekanan yang sangat berat. Orang tuaku yang dalam hal ini Ibu Haji, memutuskan agar aku tidak melanjutkan sekolah lagi. Katanya, gadis remaja sebayaku, saat itu harus segera menikah. Ibu Haji memaksaku untuk menerima lamaran dari seorang pemuda yang tidak aku kenal sama sekali. Laki-laki yang melamarku itu, katanya anak orang kaya dari Talaga Majalengka. Pendidikannya dari Kweekschool tapi belum tamat. 

Ternyata Ibu Haji hanya memandang materi belaka. Tidak sedikitpun mau mengerti perasaanku apalagi mendukung cita-citaku menyelesaikan sekolah. Pemikiran Ibu haji begitu pintas. Aku kawin dengan orang kaya dan beliau terlepas dari beban tanggung jawab. Persoalan hatiku, meskipun tidak mengenal calon suami terlebih dulu, adalah urusan nanti. Padahal urusan nanti adalah urusan kehidupanku. Urusan masa depanku yang aku sendiri mengalaminya. 

Bagiku kekayaan tidak menjamin kebahagiaan rumah tanggaku nanti. Aku tidak mau kawin kepada laki-laki yang tidak kukenal walaupun telah melamarku lewat ibu haji. Apalagi jika aku tetap pada tekadku untuk menyelesaikan Sekolah. 

Aku menolak rancana Ibu Haji itu, dan Ibu Haji pun memaksakan kehendaknya dengan segala penekanan dan acaman. Ahirnya aku memutuskan untuk minggat dari rumah. Tujuan utamanya adalah Garut, kerumah kakak ku. Kepada Ceu Emin dan Kang Ubed, aku mengadukan kehendak Ibu Haji yang melarangku melanjutkan sekolah dan memaksaku kawin kepada laki-laki yang tidak aku kenal. 

Sepertinya kakakku dan kakak iparku mengerti perasaanku dan mereka menyerahkan keputusan kepadaku sepenuhnya. Apapun yang aku pilih adalah keputusan demi masa depanku sendiri. Seandainya aku memilih perkawinan dan tidak melanjutkan sekolah, beliau pun menghargainya dan mendo'akan kebahagiaan bagi rumah tanggaku.Tapi karena tekadku menyelesaikan sekolah dulu, beliau pun mendukungku. Kakak dan kakak iparku berjanji akan mencoba meyakinkan Ibu Haji. 

Selanjutnya, tidak lama kemudian Kang Sirod dari Panumbangan datang ke Garut, menyusulku dan menyuruh pulang ke Panumbangan. Namun aku menolak dan bersikukuh tetap tinggal di Garut mengikuti Ceu Emin. Setelah melalui pembicaraan yang alot, aku menyanggupi pulang ke Panumbangan tapi tidak bersama Kang Sirod saat itu. Aku berangkat ke Panumbangan dihari kemudian diantar oleh kakak dan kakak iparku. 

Di Panumbangan, Kang Ubed memberikan pengertian panjang lebar pada Ibu Haji tentang perlunya aku menyelesaikan sekolah terlebih dulu dan membiarkan menentukan pilihan sendiri untuk jodohnya. 

Awalnya Ibu Haji kukuh pada pendirian bahwa wanita itu kodratnya mengabdi pada suami, tapi setelah dijelaskan oleh Kang Ubed bahwa untuk menunaikan pengabdian itu bukan berarti harus segara tunai saat itu, melainkan dengan dibekali ilmu terlebih dulu, maka pengabdiannya akan lebih menciptakan keluarga sakinah. Ahirnya Ibu Haji mengalah walupun dengan rasa kecewa. 

Dengan perasaan kecewa dan kurang senang kemudian Ibu Haji membatalkan lamaran orang Talaga yang sebelumnya telah diterima oleh Ibu Haji sendiri. 

Sepertinya kekecewaan hati Ibu haji sangat dalam karena keinginannya tidak bisa terpenuhi. Hal itu ditunjukan oleh sikap dingin dan masa bodoh kepada ku. Merasakan sikap Ibu Haji yang ditunjukkan kepada ku seperti itu, mendorong aku ikut lagi pulang ke Garut bersama kakak dan kakak iparku. 

Selanjutnya Ibu Haji seperti tidak mau tahu lagi tentang biaya hidupku. Tapi aku pun tidak mau menyerah menghadapi ancaman Ibu Haji. Aku lebih giat lagi membuat baju sulaman yang banyak dipesan oleh guru-guru rekan kakak ku. Disamping itu Kang Sirod pada saat pendudukan Jepang, sudah mendapat pekerjaan, sehingga beliau bisa membantu biaya ku. 


14. Harapan Baru Kelana

Setelah beberapa lama aku tinggal di Garut, langit biru harapan di hatiku mulai cerah. Awan hitam yang beberapa waktu lalu menutupi relung kalbu dan menyeret ku tenggelam hingga nyaris mengandaskan cita-cita, mulai tersibak oleh angin menderu dari tekadku menerobos tradisi. 

Suatu hari, aku mendapat berita bahwa bekas siswa VDS Bandung harus mendaftar ulang dan meneruskan ke Sekolah Guru Puteri di Yogyakarta. Kegembiraanku tiada terkira. Bersama teman-teman eks Siswa VDS asal Garut segera menuju Bandung menemui Ibu Rumsari Pengawas kami di VDS dulu. 

Beliau tinggal di jalan Cikawao Bandung. Kepada beliau kami menanyakan seputar Surat Panggilan dan Cara Pendaftaran kembali ke Sekolah di Yogyakarta. Tidak lupa pula kami menanyakan pakaian-pakaian kami yang tertinggal di asrama. 

Bukan main tanggung jawab Ibu Rumsari sebagai guru kepada murid-murid asuhannya. Ternyata semua pakaian siswa sudah disimpan di rumahnya. Satu kamar penuh, pakaian siswa VDS mengonggok di rumah Ibu Rumsari. Aku dan teman-teman disuruh memilih pakaian yang menggunung di sebuah kamar. Sudah sulit lagi ditentukan pakaian siapa milik siapa. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil pakaian sembarang tanpa berpikir lagi asal pemiliknya. Yang penting ukurannya pas. Aku mengutamakan mengambil pakaian sekolah sehari-hari sebagai bahan kelengkapan untuk dibawa ke Yogyakarta. 

Kami tidak ingin berlama-lama lagi berada di rumah Ibu Rumsari. Kebahagiaan dan semangat melanjutkan sekolah meletup-letup dihati kami. Rasanya kami ingin segera pulang mempersiapkan segala sesuatu dan segera pergi ke Yogyakarta. Setelah pamitan kepada Ibu Rumsari, kami bergegas pulang ke Garut. 

Di rumah, aku dengan dukungan kakakku mempersiapkan segala sesuatu yang sekiranya harus di bawa ke Yogyakarta. Kami tidak bingung lagi apa yang harus dibawa, karena dalam hal ini kakakku sangat berpengalaman. Kekurangan pakaian, beliau membelikan dari Pasar dan aku sendiri menjahit membuat pakaian sendiri. 

Teman-teman dari Garut berangkat berombongan ke Yogyakarta mendahuluiku, sedangkan aku menyusul kemudian karena masih ada persiapan yang belum lengkap. Lebih baik sedikit terlambat dari pada bergegas tapi banyak kekurangan dan ketinggalan. 


15. Teman Seperjalanan

Satu-satunya angkutan umum antar provinsi yang ada saat itu adalah Kereta Api. Jika penumpang dari Garut akan berangkat ke Yogyakarta, terlebih dulu harus menggunakan Kereta Api Uap sampai ke Halte Cibatu, kemudian dari Cibatu menggunakan Kereta Api Express Jakarta - Bandung - Jogyakarta -Surabaya. Biasanya Kereta Api Express dari arah Bandung, berhenti dulu di Halte Cibatu untuk menurunkan dan menaikan penumpang. 

Aku pergi ke statsiun Garut diantar kakak Kang Ubed. Kecut juga hati aku saat itu, karena baru pertama kali melakukan perjalanan jauh. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan perjalanan sejauh itu. Untung saja, di statsiun Garut aku bertemu dan berkenalan dengan seorang pria yang juga akan pergi ke Yogyakarta. Namanya Ahmad Sadeli, katanya sudah lama sekolah di Yogyakarta. Ia mengaku sekolah di Algemeene Middelbaar School (AMS) Yogyakarta dan ia pun mengatakan tahu percis alamat dan tempat sekolah yang akan aku datangi, oleh karena itu kakak iparku menitipkan aku kepadanya. 

Kami berangkat dari Statsiun Garut sekitar jam 11.oo siang. Kereta Api yang kami tumpangi hanya sampai Halte Cibatu. Kami harus berganti dengan Kereta Api Ekspres jurusan Jakarta - Surabaya lewat jalur Selatan. Kereta itu, sebelumnya lewat Bandung yang telah memuat penumpang penuh sesak. 

Karena merupakan pengalaman pertama menempuh perjalanan jauh dan mungkin kondisi badanku belum terbiasa mengalami keadaan seperti itu, kepalaku pusing dan mual, ahirnya muntah-muntah. Pria yang menyertai ku itu segera memberikan pertolongan. Ia segera merogoh saku celananya dan memberikan minyak angin untuk aku isap. Lantas ia pun menuangkan minyak angin ditelapak tangannya dan membalur tengkukku seraya memijat-mijat halus. 

Memang pusing dan mual ku mendadak hilang, namun kemudian aku merasakan gejalaaa baru, jantung ku berdebar dan berdetak keras. Keringat dingin membasihi seluruh tubuhku yang sudah lemas serasa tak bertulang. Luluh rasanya seluruh ragaku. Kepalaku nyaris kubenamkan kedadanya yang bidang. Namun aku segera sadar dan bangkit, karena laki-laki itu ternyata bukan siapa-siapa aku. Ternyata sentuhan tangan seorang pria, mengakibatkan gejala yang jauh lebih dasyat dari derunya angin. 

Sampai di Statsiun Tugu Yogyakarta sekitar jam 18.00 sore. Sekolah yang menjadi tujuanku berada di Jalan Jetis. Itu menurut alamat yang yang aku catat, walaupun tepat letaknya dan arah mana yang harus ku tempuh berada di luar bayanganku. Di Jogyakarta Aku sama sekali tidak tahu arah Utara, Selatan, Barat dan Timur. 

Lagi-lagi Ahmad Sadeli yang mendampingi ku selama dalam perjalanan. Ia masih mau repot-repot mengantarku ketempat tujuan. Malah ia sendir yang menyerahkan Surat Panggilan dan mendaftarkanku kepada petugas. Ia pula yang mengantarkan aku ke ruangan dimana siswa dari Jawa Barat ditampung sambil memegang pergelangan tanganku, padahal tangan kanannya sudah repot menjinjing bawaanku. 

Ia begitu baik dan perhatian, sehingga ahirnya menjadi "teman baik" kami. Ia menjadi Teman- baikku dan teman- baik seluruh siswa asal Priangan. Kami semua merasa mempunyai seorang kakak dan ahirnya ia ditunjuk leader grup pelajar asal Priangan. 

Sayang sekali, setelah aku Lulus dari Sekolah Guru Sentral Jogya, ia tidak diketahui lagi keberadaannya. Menurut teman-temanku, Ahmad Sadeli melanjutkan ke Sekolah Kedokteran. Yang jelas dia tidak kuliah di Yogyakarta. Mungkin dia melanjutkan kuliah di Stovia (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) Batavia.


16. Sekolah Guru Sentral Yogyakarta

Sekolah yang aku masuki merupakan satu-satunya Sekolah Guru di Indonesia saat itu, sehingga siswa-siswanya datang dari berbagai daerah. Papua, Ambon, Gorontalo, Manado, Bali Sumatera termasuk Pulau Jawa. Oleh karena itu aku jadi mengenal dan faham budaya serta adat istiadat mereka masing-masing. 

Sekolah Guru, menggunakan bangunan Hoge Burger School (HBS) yaitu Sekolah Tinggi Kemasyarakatan Jaman Hindia Belanda. Sekarang, bangunan itu menjadi Kampus Universitas Gajah Mada. 

Sekolah guru di Jogyakarta terdiri dari Sekolah Guru Putra dan Sekolah Putri, tapi tempatnya dipisahkan. Pimpinan Sekolah Guru Putri dipegang oleh Ibu Ray. Sri Umiyati yang katanya masih keturunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Siswa dari Jawa Barat, khususnya alumni Van Deventer School Bandung disatukan dalam satu kelas, kemudian siswa alumni VDS selebihnya ditambah siswa baru dari berbagai daerah dijadikan masing-masing satu kelas. Hingga jumlah seluruhnya mencapai enam kelas. 

Tiap ruangan (sebesar aula) dibagi menjadi dua sampai tiga kelas. Bisa difahami jika sekolah ini membutuhkan lokasi dan ruangan yang luas, karena merupakan satu-satunya sekolah guru yang ada di Indonesia serta merupakan sentral pendidikan guru dari berbagai daerah. Seluruh pendidikan guru yang ada, seperti VDS, VDZ, HIK, Kweekschool serta Sekolah Guru Normal DILEBUR menjadi satu: Sekolah Guru Sentral di Jogyakarta ini. 

Asrama yang tersedia sebanyak sepuluh kamar. Tempat tidur antara siswa berdesak-desakan. Kasurnya berisi ijuk sehingga terasa keras dan kasap.Untuk selimut harus membawa sendiri. Siswa yang tempat tinggalnya tidak jauh dari sekolah, tentu bisa membawa kasur dan bantal sendiri termasuk membawa tempat tidurnya supaya nyaman. Tetapi bagi kami yang datang dari jauh terpaksa menerima apa adanya. 

Para siswa alumnus Van Deventer tentu merasa "ngarumas" sebab fasilitas sekolah di Bandung serba mewah dan lengkap, sedangkan fasilitas sekolah di Yogyakarta harus menerima segala sesuatu serba terbatas. Namun sekolah ini mempunyai kelebihan lain, yaitu mempunyai Lapang olah raga yang luas dan Aula yang besar. 

Ruangan makan berada di lahan yang lebih rendah dari asrama sehingga jika hendak makan kami harus menuruni tangga tembok terlebih dulu. 


17. Kenangan Sekolah di  Yogyakarta

Teman sekolah VDS asal dari Garut yang tidak melanjutkan Sekolah guru di Yogyakarta sebanyak dua orang, tidak termasuk Si Cinot yang tidak diketahui lagi keberadaanya setelah kota Bandung dijatuhi Bom oleh angkatan udara Jepang. 

Peraturan Disiplin Sekolah di Yogyakarta tidak seketat peraturan VDS Bandung. Kalau sekolah di Bandung nampak sekali banyak pengekangan, tapi sekolah di Yogyakarta cenderung diberikan kelonggaran kalau tidak dikatakan adanya kebebasan.

Di Sekolah Yogyakarta, kami diberi kelonggaran keluar pada Sabtu sore dan Minggu . Apalagi pada hari Minggu sepenuh hari bebas keluar kemanapun kita pergi, asal pada jadwal makan sore sudah ada di tempat. 

Menu makanan disini berbeda dengan saat di Bandung yang serba memperhatikan gizi. Sayur rawon, sayur lodeh, tahu dan tempe, termasuk ikan asin pun kerap kami temukan disini. 

Ada peraturan yang masih aku temukan seperti di VDS, tiap akan keluar lingkungan sekolah, harus mengisi dulu daftar izin keluar. Kami harus mengisi untuk alasan apa keluar dan kemana tujuanya. Tapi hal itu kelihatannya seperti formalitas. Berbeda dengan di VDS, diluar jadwal liburan, alasan apapun tidak diperbolehkan keluar lingkungan sekolah. 

Tiap hari Sabtu sore atau Minggu, aku bersama teman-teman dari Garut sering keluar jalan-jalan. Ahmad Sadeli sering bergabung dengan kami dan mengambil peran sebagai pemandu. 

Teman-teman dari Jawa Barat selalu kompak dan sepertinya merupakan geng paling menonjol dan disegani. Jika jalan-jalan atau piknik keluar kota kami selalu bersama-sama. Ahmad Sadeli pun sering menyertai kami. Bahkan jika kami pergi ke Candi Borobudur atau ke Candi Prambanan atau pergi ke Candi Kalasan, Ahmad Sadeli selalu menjadi pimpinan rombongan. 

Ternyata selain baik hati dan perhatian, Ahmad Sadeli mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat. Ia mampu menunjukan kemampuan sebagai leader of the group yang bertanggung jawab dan disegani. Ahmad Sadeli juga sering membawa temannya dari AMS bergabung dengan kami, sehingga kelompok para pelajar dari Jawa Barat nyaris membentuk organisasi permanen. Tapi ternyata pihak Jepang melarang keras. 

Pertemuan kami makin sering walaupun hanya sekedar nongkrong dan jajan eskrim di Malioboro, tidak jauh dari lingkungan sekolah. 

Siswi dari Priangan apalagi tempaan VDS Bandung selalu menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Selain cara berpakaian berbeda dengan gadis setempat, juga prilakunya dipengaruhi gaya noni-noni. Yang jelas cantik-cantik walaupun agak kegedean genitnya. 

Jika aku boleh bangga almamater, ternyata dikemudian hari banyak teman-temanku yang terkenal dan menjadi tokoh nasional. Seperti temanku Emma Norma, kemudian terkenal karena mendampingi suaminya Bapak Soedarmono Wapres RI. Kemudian juga temanku Elin Karlina mendampingi suaminya Bapak Umar Wirahadikusumah menjadi Wapres RI. 


18. Pulang Kampung Liburan Lebaran. 

 Walaupun banyak liburan sekolah, tapi kami pulang kampung ke Garut hanya setahun sekali yaitu menjelang Hari Raya Iedil Fitri. Hal ini aku lakukan untuk menghemat uang karena ternyata saat itu ongkos pejalanan sangat tinggi. Kami lebih memilih menabung atau belanja pakaian di Yogyakarta dari pada sering pulang ke Garut atau ke Panumbangan. 

Pada zaman pendudukan Jepang, bahan sandang banyak dan mudah di dapat di kota Yogya. Sebaliknya di Jawa Barat sangat sulit di temukan. Kalaupun ada, hanya di jual di toko tertentu namun harganya sangat mahal dan tidak terjangkau oleh msyarakat luas. Masyarakat di Jawa Barat mengenakan pakaian seadanya. Banyak yang compang-camping, malah masih banyak orang yang hanya mengenakan celana cawat dari getah karet. 

Penyebabnya, penyelenggaraan pemerintahan di wilayah Jawa Barat, dibawah langsung penjajah Jepang, yang sedang fokus pada masalah militer dan peperangan, sehingga kehidupan ekonomi pun terbengkalai. Import tektil yang biasanya dari India dan Arab pun ditutup dan di larang. Sedangkan di Yogya penyelenggaraan pemerintah melalui Kerajaan yang otonom dan berdasarkan "lang contrak". Di Yogya ekonomi masyarakat relatif stabil karena Sang Sultan sangat memperhatikan hal tersebut. 

Ketersediaan bahan tektil di Yogyakarta melimpah, karena selain tenunan dalam negeri, tektil impor dari India pun banyak di pasaran. Kalau saja pos penjagaan tentara Jepang tidak ketat, aku bisa berbisnis pakaian dari Yogya ke Priangan. Untungnya akan berlipat ganda, tapi jika tertangkap resikonya tembak ditempat. 

Keadaan umum ekonomi bangsa Indonesia saat itu sangat terpuruk. Masyarakat ahirnya mengidamkan kembali pada keadaan ahir kekuasaan Belanda tahun 1942 yang dianggap sebagai zaman "normal". 


19. Keadaan ekonomi Zaman Jepang

Sebenarnya keadaan ekonomi bangsa Indonesia saat itu, pada umumnya berada dibawah kemiskinan. Kekayaan kita dikuras habis oleh Jepang untuk biaya pembelian persenjataan militer dan biaya peperangan Asia Timur Raya. Alasan yang dipropagandakan untuk kemakmuran bersama bagi bangsa Asia dimana Jepang menjadi "The Workschop of Asiatic People". Kenyataannya, malah bangsa Indonesia sendiri menjadi menderita. Kemiskinan dan kelaparan merajalela dimana-mana. 

Rakyat dipaksa melakukan "romusha" . Ratusan ribu orang rakyat Indonesia meninggal menjadi korban kebiadaban penjajah baru yang mengaku "saudara tua". 

Ternyata penjajah terdahulu telah menempa pribadiku dan penjajah yang baru hanya menyisakan penindasan dan kesengsaraan tanpa sedikitpun berniat memajukan kesejahteraan bangsa terjajah. Padahal mereka selalu mempropagandakan dirinya sebagai saudara tua yang akan mengangkat martabat bangsa Asia dari penindasan kolonial barat. Katanya, mereka mengaku sebagai saudara yang akan menciptakan kemakmuran bersama diantara bangsa Asia dibawah pimpinan "Nippon Teikoku". Bangsa yang mengaku dirinya keturunan "amateratsu omikami" yang selalu digjaya dalam perang dunia kedua. Kenyataannya, hanya penderitaan yang dialami saudara mudanya, karena darahnya diisap sampai kering oleh penjajah baru yang berkedok saudara tua. 

Dibalik propaganda tersebut, sebenarnya Jepang menyembunyikan taktik licik. Di babak ahir peperangan Asia Timur Raya, sebenarnya militer Jepang tengah terdesak oleh gempuran sekutu. Personil militer makin menipis dan alat peperangan makin banyak berkurang. Selain itu, sebenarnya ekonomi Jepang sendiri mulai pingsan, hingga situasi politik di parlemen pun carut marut. 

Kekuatan Jepang dari berbagai aspek menjadi tidak sepadan melawan sekutu yang terdiri dari empat negara maju termasuk Belanda. Ahirnya Jepang mengincar kekuatan lain di luar potensi yang ia miliki, yaitu dukungan dan bantuan bangsa Indonesia. Untuk menambah kekurangan personel militer, Jepang melatih pemuda Indonesia dalam barisan "heiho". 

Namun Pemuda Indonesia lebih cerdik menyikapi pelatihan militer yang diadakan tentara Jepang. Program pelatihan tersebut hanya dijadikan bekal keterampilan para pemuda dalam menghadapi peperangan. Motifasi juang tetap Indonesia Merdeka. 


20. Karena Modis jadi Penjahit

Di kota Yogyakarta saat itu, dapat dikatakan murah sandang, tersedia pangan. Para pengusaha Timur Asing, terutama India dan Arab, lebih cerderung membuka Usaha disana. Toko pakaian langganan kami adalah "KAHÉNOOR" di jalan Malioboro. Pemiliknya orang Pakistan yang sudah kami kenal dengan akrab. Selain bahan-bahannya bagus, kami sering mendapat diskon. 

Aku sering berbelanja kain bahan pakaian. Aku mendesain, membuat pola dan menjahit sendiri. Tempaan kakaku dirumah dalam mengajarku menjahit dan hasil pendidikan keterampilan di VDS ternyata membuahkan nilai guna saat sekolah di Yogyakarta. 

Bukan hanya teman di Sekolah Guru saja yang pesan pakaian buatanku, tapi hampir sebagian besar pelajar wanita yang sekolah di Yogya menyenangi baju buatanku. Katanya selain modis, jahitannya rapih. Uang simpananku makin gemuk. Malah sudah mampu mengirim wesel untuk Ibu di Panumbangan. 

Para siswa dari Jawa Barat selalu berbelanja bahan pakaian bersama. Memilih motif dan warna yang sama. Aku dan seorang teman dari Garut yang menjahitkan, dengan model yang sama. Semua baju teman-temanku dari Priangan selalu mengenakan pakaian yang serba sama, sehingga menjadi pusat perhatian. Maklum, sebagai Gadis Remaja saat itu, masih ingin perhatikan orang. 


21. Meraih Izasah Pendidikan Guru

Memasuki bulan ramadhan, sekolah di liburkan dan kami semua pulang kedaerahnya masing-masing. Siswa asal Priangan, pulang bersama-sama naik Kereta Api. Ahmad Sadeli yang lagi-lagi dipercaya sebagai ketua rombongan. 

Dalam perjalanan kali ini, aku tidak mabuk lagi. Mungkin sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh, atau mungkin juga selama diperjalanan aku berbahagia dan tidak stress. Atau mungkin juga, karena rasa senang berada disamping Sang Ketua rombongan, telah menaikan imunitas tubuh ku. 

Sepanjang jalan kami bergembira. Bermacam-macam tingkah yang kami lakukan, sehingga riuhlah di dalam gerbong yang kami tumpangi. Perjalanan panjangpun jadi terasa singkat. Tanpa terasa kami sudah sampai di Garut kampung halamanku. 

Saat masa liburan habis, kami pun harus kembali ke Yogyakata. Bahtiar sering menghubungiku untuk menentukan waktu keberangkatan. Kami pun pergi bersama-sama lagi dan menikmati kebahagiaan di perjalanan bersama-sama pula. Seperti biasa membuat riuh di dalam gerbong dan memberikan hiburan gratis kepada penumpang lainnya. Lawakan dan candaan konyol dari kami , dapat mengusir rasa jenuh selama perjalanan panjang. 

Masa pendidikan Sekolah Guru di Yogyakarta dipenuhi kebahagiaan dan keceriaan bersama terlepas dari segala kekang aturan Sekolah sambil menikmati segala kelonggaran. 

Tanpa terasa, aku sudah ada dipenghujung masa pendidikan. Aku lulus dengan hasil memuaskan. Malah untuk pelajaran bahasa Indonesia, aku mendapat nilai tertinggi di sekolahku. Hanya sayang, pelajaran Bahasa Jepang ku kurang bagus, sehingga pada saat mengawali bhaktiku sebagai guru, aku diharuskan mengambil les tambahan bahasa Jepang. 

Bahasa Jepang dalam penalaranku merupakan konsumsi baru, berbeda dengan bahasa Belanda yang sering aku praktekan, baik di rumah maupun di sekolah sebelumnya. Kalau saja di Sekolah Guru Yogyakarta yang berlangsung pada zaman Jepang ada mata pelajaran bahasa belanda, tentu aku mendapat nilai bagus. 

Satu tahap, cita-citaku tercapai dengan hiruk-pikuk perjuangan untuk menggapainya. Tapi ini masih awal dari seluruh perjalanan hidupku. Di depan, masih terbentang panjang usaha mengaktualisasikan izasah kepada kenyataan sebenarnya. Aku harus sudah siap pada Pengabdian sebagai Guru.   


III. PENGABDIAN PADA PROPESI GURU


1. Mengawali Bhakti Guru

Setelah mengantongi Izasah Sekolah Pendidikan Guru Yogyakarta, aku bersama teman-temanku dari Priangan pergi ke Kantor Gubernuran di Gedung Sate Bandung, untuk mendaftarkan diri menjadi Guru sekaligus meminta konfirmasi penempatan tugas. 

Saat itu tidak sulit mendapatkan pekerjaan, karena tenaga Guru sangat diperlukan dan kami mengikuti pendidikan di Yogyakarta pun untuk mengisi formasi tersebut.

Setelah selesai mengadakan registrasi dan melengkapi semua administrasi persyaratan pengangkatan pegawai negeri, kami langsung diberi tugas ke daerah yang diinginkan. Pada saat itu penempatan tugas masih opsi pilihan dari pegawai sendiri, bukan penempatan langsung oleh negara.

Aku sendiri memilih tempat tugas di daerah Tasikmalaya, bukan di Garut dimana kakakku tinggal. Pertimbangannya;  kakakku sendiri di Garut sering berpindah-pindah tugas, sehingga perumahan pun nantinya tetap menjadi masalahku sendiri. Aku memilih tempat tugas di Tasikmalaya, karena jarak dengan tempat asalku Panumbangan tidak begitu jauh. 

Kepala Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya kebetulan ayah teman sekolah sewaktu di VDS Bandung. Beliau rumahnya di jalan Sukawarni. Di kemudian hari kalau aku ada kegiatan kursus bahasa Jepang sampai malam di Kota Tasikmalaya, aku bermalam di rumah beliau atau di rumah temanku yang lainnya di Jalan Gunung Sabeulah.

Pada saat aku pertama kali menghadap beliau untuk menyerahkan Surat Tugas, beliau menawari ku untuk mengajar di kota Kabupaten, karena menurut penjelasan beliau, biasanya alumni VDS memilih tempat tugas di Ibu Kota. 

Beliau sangat terkejut, ketika aku memilih tempat tugas di Kecamatan Rajapolah. Aku menjelaskan kepada beliau bahwa tempat asalku dari Panumbangan dan kalau aku memilih mengajar di Rajapolah karena pertimbangan dekat "ka lembur".

Pertama kali aku mengajar yaitu di Sekolah Dasar Rajapolah. Dulu di tingkat Kecamatan hanya ada satu sekolah dasar, sedangkan di desa-desa berdiri Sekolah Desa tiga tahun sebagai onderbouw. 

Di Rajapolah aku tinggal disebuah rumah kontrakan di blok kaum bersama seorang teman sesama guru. Ia berasal dari Pangandaran, pendidikannya dari Cursus Vork Onderwijs (CVO). Tidak lama kemudian dia pindah ketempat asalnya, sehingga aku sendirian di rumah itu. 

Seorang pengusaha dan tokoh masyarakat Rajapolah yang juga pensiunan Guru, memintaku untuk tinggal di rumahnya. Beliau bernama Bapak Adiratma. Rumahnya sangat besar terletak di persimpangan ke Terminal sekarang. Beliau mempunyai anak perempuan satu-satunya, tapi dibawa suaminya ke Jakarta, sehingga beliau hanya tinggal bersama cucunya, dua orang anak laki-laki. Mereka adalah murid-muridku. 

Bapak Adiratma menganggap aku seperti kepada anak kandungnya, dan aku pun hormat serta mengganggap beliau sebagai orang tua ku sendiri. Kalau beliau sakit, aku sendiri yang merawatnya.

Menurut Mama Haji, Bapak Adiratma mepunyai hubungan keluarga dengan kami. Keponakan Bapak Adiratma di Sukaregang memanggil mama haji dengan sebutan "paman". 

Pada saat ini tentunya keluarga Bapak Adiratma masih ada, karena merupakan keluarga besar. Tapi yang aku tahu, Bapak Adiratma sendiri telah lama wafat.

Masih terkesan, dulu apabila aku pulang mengajar, sering diajak pergi ke kebun milik Bapak Adiratma yang sangat luas. Di kebunnya ditanami berbagai macam buah-buahan. Terutama buah rambutan dan mangga. Apabila musim panen tiba, kami memitiknya, hingga mendapat satu truk penuh dan menjualnya kepada tengkulak. 

Disamping itu, Bapak Adiratma seorang pengusaha sukses. Beliau bisa mengekport topi pandan ke Belanda. Serta beliau menampung anyaman samak pandan dari daerah Panjalu dan Panumbangan.

Bagiku, tinggal di rumah Bapak Adiratma menjadi sungkan. Aku tahu diri, karena sekian lama tinggal di rumahnya, beliau menolak uang pembayaran tinggal dariku. Meskipun aku menjalankan tugas rumah sehari-hari serta mengurusi kedua cucunya, tapi kebaikan Bapak Adiratma terlalu besar untuk diperhitungkan. Ahirnya aku memutuskan pindah rumah ke Panumbangan dan tinggal bersama Ibu Haji, sementara tugas mengajar tetap di Rajapolah. 

Aku mengajar ke Rajapolah tiap hari pulang-pergi dari Panumbangan. Berangkat dari rumah setelah sholat subuh. Berjalan kaki diantar oleh adik bungsuku Anggara sampai ke Pamijahan. Selanjutnya dari Pamijahan aku berjalan kaki bersama pedagang bakulan yang akan berjualan di pasar Rajapolah. Makin pagi, makin terang dan makin banyak orang pejalan kaki. Jika aku pulang mengajar dari Rajapolah sampai di rumah sekitar pukul 17.oo sore.

Pada saat itu angkutan yang ada adalah delman, begitupun jarang-jarang lewat kecuali dipesan ke rumah pemiliknya.


2. Mengajar di Kampung Halaman

Lama-lama tenagaku terkuras sekedar untuk malakukan perjalanan. Sampai di Sekolah atau di rumah, badanku sudah lusuh dan amat lelah. Makanpun tidak teratur. Kalau sempat, hanya satu kali pada sore atau malam saja, sehingga badanku menjadi kurus kering. 

Pada zaman Jepang, aku menerima gaji guru sebesar Rp.40/bulan. Besar gaji seperti itu jangankan cukup buat makan, untuk ongkos ke sekolahpun masih kekurangan. 

Dari segi ekonomi, zaman Jepang lebih terpuruk dibandingkan zaman Belanda. Waktu zaman Jepang rakyat sengsara dan kelaparan merajalela dimana-mana. Nasi sudah menjadi makanan langka. Makanan rakyat sudah beralih ke "tiwul" dan "oyek". 

Memang ironis, bumi nusantara dengan pesawahan terhampar luas, namun setelah panen malah menumpuk di gudang pelabuhan terbesar di Nagasaki. Penduduk Indonesia sendiri banyak yang "busung lapar" padahal mereka hidup di negeri yang subur makmur.

Walaupun keadaan ekonomi saat itu begitu sulit, aku harus tetap menjalankan pengabdian sebagai guru, enak atau tidak enak adalah pilihanku sejak kecil. Pengabdianku kepada profesi guru, tidak lagi berorientasi pada pamrih. 

Hayalan saat dibangku sekolah VDS,  jika diangkat guru mendapat gaji besar, ahirnya motifasi bergeser menjadi murni pengabdian. Untuk biaya ongkos mengajar, ahirnya aku harus menombok di luar gaji.

Yang menjadi masalah ku menjalankan tugas mengajar waktu itu, bukan karena kecil pendapatannya, tapi terlalu lelah harus mengajar ke Rajapolah pulang-pergi dari Panumbangan. Ahirnya aku menghadap Kepala Pendidikan Kabupaten untuk meminta pindah ke Panumbangan. Di Panumbangan, guru-gurunya berasal dari CVO sedangkan Kepala Sekolah berasal dari Sekolah Guru Normal. 

Kepala Sekolah sering menyampaikan kesungkanan beliau kepadaku: "Uwa bagja aya hidep di sakola ieu, mung hapunten bae ulah asa kaungkulan pangartos, anggap bae uwa kokolot eneng".  Yang segera ku jawab hormat bahwa beliau adalah guru kahot yang "genténg ku kadék, legok kutapak" yang sewajibnya aku sebagai generasi muda manut dan taat kepada beliau.

Kedatanganku di Panumbangan, bukan saja disambut baik oleh kalangan pendidikan, namun juga oleh Pemerintahan setempat.  Bapak Wedana Mangku menyambut dengan harapan baik, malah kemudian aku diserahi kepercayaan diberbagai organisasi, diantaranya di Organisasi Wanita dan PMI serta sebagai Ketua Persatuan Pemuda/i Indonesia (PPI). Kegiatanku bertambah padat. Selain tugas mengajar, juga harus mengurus Organisasi.


IV. KELANA DALAM ASMARA


1. Pria Pada Tempat dan Keadaan yang Salah

Di awal menjalani tugas sebagai Guru, ada secuil kisah yang  seharusnya tidak aku sisihkan, karena setidaknya berkaitan erat terhadap jalan hidupku selanjutnya. Kisah dari seorang Pria yang selalu mencari celah untuk menempati ruang hatiku. Tokoh Pria dalam kisah ini sebenarnya mengikuti langkah hidupku yang berkepanjangan, walapun kehadirannya selalu pada keadaan dan waktu yang salah. 

Namun ada keunikan dari tokoh pria ini. Cercaan dan usiran ku malah dijadikan pendorong bagi dirinya untuk menjadi seorang tentara. Ia bersikeras meraih stastus itu, karena menganggap status tersebut merupakan standarku dalam memilih pasangan.

Awal kisah, di mulai pada ahir tahun 1946. Aku disuruh Mama Haji untuk mengantarkan Goreng Ikan kepada Ceu Eminaà di Garut. Minggu lalu, Balong Gede dibobolkan, dan mama haji mendapat banyak ikan. Ikan-ikan tersebut dijual borong kepada tengkulak ikan. Sisanya dibagikan kepada seluruh keluargaku, termasuk Ceu Eminà di Garut juga mendapat bagian. Akulah yang mendapat tugas mengantarkannya.

Waktu pulang ke Panumbangan, aku menggunakan Kereta Api dari Cibatu sampai Ciawi. Dalam Kereta Api yang aku tumpangi, disampingku duduk seorang pria yang akan pergi ke Tasikmalaya. Dia mengenalkan diri, sebut saja namanya Ariefin. Ia mengaku berasal dari Garut dan bekerja di Dinas Pertanian Tasikmalaya. Aku juga menyebutkan namaku, malah kemudian aku memberikan alamat waktu dia memintanya. 

Selanjutnya aku turun di statsiun Ciawi dan dia pun melanjutkan perjalanan ke Tasikmalaya. Kami tidak bercerita panjang lebar, karena waktu tempuh Cibatu ke Ciawi tidak memakan waktu lama. Ceritapun berahir saat aku menginjakan kaki di Statsiun Ciawi. Tidak bersisa sedikitpun kesan khusus dengannya.

Sampai pada suatu hari, dia datang ke Panumbangan dan bertandang ke rumah. Ia disambut oleh Ibu Haji. Tentu saja, jika ada seorang pria yang ingin bertemu dengan ku, sikap Ibu Haji menyambut dengan baik dan ramah, karena ibu Haji bersikeras agar aku cepat berumah tangga. 

Awalnya aku juga tidak mengerti pemahaman Ibu Haji, seolah-olah sangat khawatir kehabisan tiket untuk ku berumah tangga. Namun setelah diselami lebih dalam, barangkali Ibu Haji memegang syariat, jika mempunyai anak gadis harus segera dinikahkan.

Aku mempunyai firasat kurang baik, ketika pria yang ku temui di kereta, tiba-tiba berani bertandang ke rumah menunjukan tingakah agak "ceriwis". Firasatku ternyata benar, bagi karakter pria semacam Ariefin, jika diberi hati dan peluang akan gede rasa seperti pantun  "Cau Ombon di korangan, Kanyere ka pipir-pipir". Pria itu terlalu "baper" meskipun wanita tidak memikirkannya.

Ariefin sebenarnya bukan type pria idamanku. Cara dia mendekati wanita terlalu "klasik". Ia tidak pernah menanyakan perasaanku padanya terlebih dulu, tapi ia langsung mendekati orang tua dengan ketat untuk mengepung hatiku. Itulah karakter Dia yang tidak aku senangi. Dia seorang pria pengecut untuk menyatakan Cinta.

Melihat sambutan keluargaku begitu welcome kepadanya, membuat dia makin berani berkunjung ke rumahku setiap malam Minggu. Walaupun kemudian sikapku berubah dingin dan tidak aku hadapi, dia malah lebih menunjukan kedekatan dengan orang tuaku dan saudara-saudaraku. 

Sampai pada saat keluarga kami mengungsi pun, dia ikut mengungsi dengan kami. Aku makin merasa tidak nyaman oleh kehadiran dia diantara keluarga kami.

Kemudian ternyata karakter Pengecut Ariefin makin nampak, ketika meminjam mulut Ibu Haji dijadikan corong bicara. 

Suatu hari aku dipanggil oleh Ibu Haji, disamping beliau telah duduk seorang pria yang selama ini menjengkelkan ku. Ibu Haji menekanku agar aku segera menikah dengan pria yang menurut pengakuannya menjadi pilihanku. "Apalagi yang engkau pikirkan Iwah!,  tokh orang tua sudah menyetujuinya",  tanya Ibu Haji. Ternyata pria yang dimaksud Ibu haji itu adalah Arirfin yang dari awal duduk dekat di samping Ibu Haji, seperti anak ayam bersembunyi diketiak induknya.

Kejengkelanku kepadanya makin menjadi-jadi. Pengakuan dia sebagai pilihanku, amat sangat menyebalkan. Sambil menatap tajam wajah Ariefin yang merunduk pengecut, aku lantang berkata, bahwa antara aku dengan dia tidak ada hubungan apa-apa. Aku belum pernah mengatakan apa-apa dan belum pernah mendengar sepatah katapun dari dia. 
QSayang sekali, begitu alasan yang aku kemukakan, dihatiku sudah ada seseorang tentara yang sedang berjuang demi bangsa dan negara, bukan seorang pria pengecut yang berjuang hanya demi kepentingan sendiri.

Sebenarnya, alasanku bahwa hatiku sudah ada yang mengisi seorang pejuang, hanyalah sekedar perisai dari serangan Sang Pengecut. Yang aku harapkan dia mau mundur. Padahal kenyataannya, belum ada seorangpun yang sudah hinggap di hatiku, kecuali ada seorang komandan Tentara Pelajar (TRIP), mencoba mendekatiku.

Aneh memang, Ariefin yang mendengar ucapanku begitu pedas, "keukeuh peuteukeuh", akan menunggu untuk menikahiku. 

Memang dia tuh ngototnya kebangetan, seperti terjadi dua tahun kemudian, setelah aku mengikat janji dengan Perwira kekasihku dan meninggalkanku hijrah ke Jogyakarta, Ariefin datang lagi kepadaku untuk mengajak nikah dengan mengahasut bahwa tentara yang berjuang itu tidak akan kembali. 

Aku bentak-bentak dia dan aku usir dia dari rumahku.Tapi lebih aneh lagi, setelah berlangsung sepuluh tahun kemudian, bentakanku, cacianku dan usiranku kepada seorang pegawai dinas pertanian itu, justru telah mendorongnya menjadi seorang Perwira TNI-AD berpangkat Mayor.

Lagi-lagi dia datang menjengukku ketika aku di rawat di RS. Boromious Bandung, karena sakit jantung sepuluh taun kemudian. Dia menyampaikan keinginannya lagi untuk berumah tangga denganku, padahal aku sendiri sedang berumah tangga dengan seorang Inspektur Polisi suamiku. Dengan congkaknya dia berbangga oleh pangkat perwira dan menawarkan kebaikannya untuk menanggung biaya opname selama delapan bulan di RS.Boromious itu. 

Tentu saja aku dan suamiku merasa sangat direndahkan oleh karakternya. Meskipun biaya pengobatan itu sangat besar, tapi harga diri kami jauh lebih besar. Aku dan suami ku, kemudian menjual kolam demi "banda tatalang raga".

Barangkali Ariefin telah salah menafsirkan seleraku. Dia mengira aku silau oleh status dan kepangkatan. Kalau dulu aku membagakan Perwiraku dan menyisihkan dirinya, bukan berarti aku memandang pangkat hingga menyampingkan seorang Pegawai Pertanian demi seorang Perwira. Aku lebih memandang kepada karakter pengorbanan Perwiraku dalam memperjuangkan bangsa dan negara, dibandingkan karakter Ariefin hanya memperjuangkan egoistis untuk memiliki orang lain.

Memang Ariefin dalam rangakaian perjalanan hidupku selalu menjadi seorang pria yang menduduki tempat yang salah, waktu yang salah dan keadaan yang salah. Hingga keinginannya tidak pernah tercapai.


2. Tentara Republik Indonesia Pelajar di Panumbangan.

Sejak Jepang kalah dalam Perang Asia Timur Raya dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945, tentara Sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indie (AFNEI) mendarat di Jakarta tanggal 29 September 1945 dibawah pimpinan Jenderal SP. Christison. Tentara sekutu bermaksud mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang untuk kemudian diserahkan kepada Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, Netherlands Indie Civil Administration (NICA). Padahal, sebulan sebelumnya Indonesia telah Merdeka dan mendirikan sebuah Negara Republik.

Dengan demikian Sekutu harus melihat kenyataan, ditempat yang mereka datangi telah berdiri sebuah negara yang secara de facto berkuasa. Sehingga pelaksanaan pengalihan kekuasaan harus berhadapan dengan perlawanan militer dari pribumi.

Tentara Indonesia bahu membahu dengan rakyat untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi dari penyerobotan Belanda yang membonceng dibelakang Sekutu. Harta, air mata, darah dan nyawa, rela dikorbankan untuk mempertahankan kemerdekaan. Mereka mengadakan perlawanan walaupun kekuatan militer tidak seimbang. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain semboyan perjuangan yang selalu mereka gelorakan "Merdeka atau Mati". 

Memang perundingan dengan Belanda sering dilakukan, tapi setiap persetujuan disepakati kemudian dilanggar sendiri oleh Belanda dengan melakukan agresi militer. 

Dalam menghadapi agresi militer Belanda tersebut, terpaksa tentara pejuang mundur keperkampungan dan pegunungan membuat “kantong pertahanan” sambil mengadakan perlawanan dengan sistim gerilya.

Pada akhir tahun 1946, Bandung sebagai pusat komando Divisi Siliwangi, diserang secara mendadak oleh tentara Belanda. Tentara pejuang mundur kedaerah-daerah membuat kantong pertahanan, termasuk di daerah Tasikmalaya Utara dan Ciamis Utara. 

Komandan Divisi Siliwangi saat itu adalah Kolonel AH.Nasution yang berkedudukan di Gombong Ciawi Tasikmalaya. Sedangkan di daerah Panumbangan berkedudukan satu Batalyon. Markas Batalyon menggunakan Kantor Kewadanan Panumbangan.

Suasana di Panumbangan saat itu menjadi ramai. Selain dipenuhi oleh tentara pejuang, juga banyak keluarga tentara serta warga-warga kota lainnya yang mengungsi. 
Para tentara tersebar menghuni rumah-rumah penduduk. Rakyat merelakan rumahnya ditempati, karena mereka umumnya mengungsi kepinggiran kampung atau kepegunungan. 

Dalam pengungsian saat itu, banyak tentara terluka korban agresi militer di Bandung yang dibawa mengungsi ke Panumbangan. Pada saat itu aku sebagai anggota Palang Merah Indonesia (PMI),  kesehariannya sibuk merawat tentara yang terluka.

Batalyon di Panumbangan terdiri dari beberapa kompi dan diantaranya adalah Kompi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Banyak saudara-saudaraku yang berbagabung dengan TRIP, antara lain sepupuku Yoyo Djajapoerawinta dan Adang Kartaman suami keponakanku Kartika, cucunya Ibu Siti Mursita, kakak ibuku.

Diantara anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), ada seseorang Komandan berpangkat Kapten yang kemudian menoreh kisah cinta di hati aku. Dia akan selalu ku sebut satu nama, yaitu Perwiraku.


3. Kedai Kopi Berontak.

Di Markas Batalyon banyak gadis-gadis dari keluarga pengungsi berasal dari Bandung dan Bogor. Mereka bergabung dengan kami dalam berbagai kegiatan. Diantara mereka ada yang bergabung menjadi tenaga guru di Sekolah Dasar dimana aku mengajar. Ada juga yang ikut aktif di Palang Merah. Aku sendiri melakukan tugas mengajar tidak dapat sepenuhnya karena kesibukan di PMI dan PPPI.

Pada suatu hari, aku dengan gadis-gadis pengungsi mempunyai gagasan membuat warung dadakan sederhana tapi menarik, untuk melayani jajanan para pejuang. 

Di warung itu kami menyediakan gado-gado dan minuman. Minuman khas yang kami sediakan adalah “kopi berontak”, yaitu campuran kopi, jahe, lada dan merah telur ayam kampung yang diseduh dengan pemanis gula aren atau madu. Entah mengapa kopi itu dikatakan berontak, tentara sendiri yang memberi nama itu. 

Malam pertama berjualan, warung kami dipenuhi tentara pejuang, termasuk anggota TRIP dan Komandan Kompinya. Makanan dan minuman yang kami jajakan laris habis. Maklum yang melayaninya gadis-gadis cantik dari kota. Merekalah yang selalu meladeni warung setiap malam, sedangkan aku hanya mengawasi, namun sesekali suka membantu melayani juga.

Warung itu kami dirikan disebelah Timur rumah Ibu Haji, dibawah pohon Jambu Aer yang rindang. Dihalaman itu dipasangi meja-meja dan kursi tempat duduk pembeli. Sedangkan untuk memasak, tetap menggunakan dapur rumah Ibu Haji. 

Kegiatan kami mendapat dukungan orang tua yang saat itu sedang mengungsi di Pasir Bilik. Katanya, lumayan untuk menambah biaya hidup dipengungsian terutama untuk menjamu pengungsi-pengungsi dari jauh.

Di rumah Ibu Haji ada tiga keluarga pengungsi dari Bandung menempati paviliun, kamar belakang dan lumbung padi (leuit) yang telah dirubah menjadi ruangan tidur. 

Kasihan mereka harus hidup terlantar dipengungsian, padahal ditempat asalnya merupakan orang berada. Barang-barang yang sempat mereka bawa kepengungsian hanya pakaian seadanya dan perhiasan-perhiasan berharga. Selebihnya, kekayaan yang berlimpah di rumah asalnya ditinggalkan begitu saja dan menjadi sasaran penjarah.

Halaman rumah ibu haji itu sangat luas. Memanjang dari sebelah Barat ke Timur pinggir jalan Kabupaten. Sepanjang pinggir jalan ditembok dan ditanami bunga mawar membentuk pagar. Kalau malam hari masuk pekarangan, tercium semerbak bunga mewangi bagai disebuah taman . Ditengah halaman ada kolam dan dipinggirnya tumbuh pohon jambu aer yang rindang. Warung itu kami bangun dibawah pohon jambu dan ditata sedemikian rupa sebagai hasil kreasi gadis-gadis pengungsi dari kota. Lokasinya sangat strategis dan asri, sehingga para tentara senang tinggal belama-lama di warung dadakan kami.

Tiap malam barang dagangan habis terus, walaupun kami telah menambah jumlahnya. Warung kami tutup jam 21.oo malam, karena kalau malam aku harus pulang ketempat pengungsian dipinggiran kampung babakan. Gadis-gadis pengungsi dari kota pun ikut bersamaku tidur ditempat pengungsian. 

Pagi hari, kami turun ke kota untuk melakukan kegiatan-kegiatan. Kegiatan yang aku lakukan adalah mengajar, mengurus organisasi PPPI, merawat korban tentara terluka di PMI dan tentu saja sore dan malam hari membuka “warung dadakan”. 

Selain itu, setiap  aku turun ke kota senantiasa memeriksa rumah, karena ternyata banyak barang berharga milik Ibu Haji yang dijarah.

4. Janji Perwiraku Menyemai Cinta Pertamaku

Diantara tentara yang jajan di warung kami, ada seorang komandan TRIP yang tidak pernah absen datang. Ia berpangkat Kapten bernama Perwira. Setiap malam ia datang sendiri atau dikawal oleh anggotanya. Malah kalau ia akan patroli sambil menunggang kuda kesayangannya, tak luput turun dan mampir dulu. 

Awal-awalnya, ada-ada saja keperluan yang ia sampaikan untuk bisa mampir, .maklum saat itu aku masuk ke barisan pejuang di Laskar Wanita (Laswi), namun kemudian aku tidak pernah lagi menanyakan keperluan kedatangan dia,  karena aku sendiri yang mengharapkan kedatangannya dan merasa nyaman ditemani ngobrol olehnya. Lebih-lebih kalau tugasnya lagi santai, ia bisa seharian penuh menemaniku. Ahirnya, aku merasa kehilangan jika suatu hari dia tidak menemuiku.

Kalau senja berganti malam, aku bergegas dandan merias diri, karena malam harinya pasti dia mengajak ku ngobrol sambil duduk berdua dibangku pinggir kolam dibawah pohon Jambu itu.

Kami saling berbagi cerita, termasuk tentang pengalaman sekolah masing-masing. Tentang perjuangan yang sedang ia hadapi dan tidak terlewat tentang masa depan kami berdua manakala perjuangan telah usai. Dia berjanji, setelah Negara Republik Indonesia terlepas dari cengkraman kekuasaan Belanda, kami akan menikah dan membina keluarga, menikmati alam kemerdekaan

Janji yang dia ucapkan diahiri dengan sebuah lagu "De Orchiedeien Bloeien" yang lantunannya menggaung sampai kini.

Makin lama hatiku makin dekat dengan dia. Entah mengapa, perkenalan dengan pria yang satu ini, perasaanku berbeda dibandingkan kepada pria yang pernah kukenal sebelumnya. CINTA PERTAMA KU INI TAK SANGGUP LAGI UNTUK DIHILANGKAN.

Pria yang pernah aku kenal sebelumnya tidak mampu menembus hatiku paling dalam. Begitu mudah datangnya, begitu juga mudah perginya. Tanpa meninggalkan bekas, tanpa luka dan khawatir ditinggalkan.

Kali ini, benih asmara yang disemai Sang Perwira itu, telah tumbuh subur dan akarnya merambah keseluruh rongga kalbu. Aku menjadi tidak berdaya tanpa dia. Tidak bertemu sehari pun benar-benar membuatku gelisah. Begitupun perasaan dia, jika kesibukanku tidak sempat menemuinya, ia selalu bertanya: “Waar ben je geweest?”.

Batalyon membuat pabrik roti untuk makanan para tentara dan aku selalu membantu disana. Kalau aku sedang ada di pabrik atau sedang sibuk merawat pasien di PMI, dia selalu menghampiri dan menemaniku. Kemudian kedekatanku dengannya menjadi terkenal dikalangan anggota TRIP atau tentara pada umumnya, termasuk juga dikenal oleh para Komandan Kompi lainnya.

5. Kecemburuan Perwira

Perwiraku mengetahui tentang seseorang bernama Ariefin yang “keukeuh” ingin menikahiku dengan cara mendekati keluargaku. Mengambil hati orang tua serta lekat menguntit mereka hingga ikut dalam pengungsian. Dan dia juga mengetahui sebenarnya aku tidak mau dan menolak pria itu. 

Walaupun demikian kecemburuan dia tetap besar. Dia khawatir seandainya pria itu mampu mengambil hati orang tua dan aku tak berdaya menolaknya. 

Jika suatu hari, aku tidak dapat menemui dia karena kepentingan keluarga, dia akan segera menduga aku bersama pria itu dipertemukan oleh keluarga. 

Seperti pernah terjadi ketika aku tidak bisa menemuinya selama tiga hari karena disuruh Ibu Haji menjemput Kak Ami ditempat pengungsian di lereng Gunung Talagabodas.

Pada suatu hari, aku bersama Kak Adi, Kang Purwa dan seorang panyawah mama haji, pergi ketempat pengungsian Kak Ami di daerah Cilengkrang dilereng gunung Talagabodas perbatasan Garut – Tasikmalaya. 

Kak Ami mengungsi di Desa Cinta, yaitu nama Desa tempat pengungsian para pejabat Propinsi dan keluargannya. Malah Gubernur Jawa Barat saat itu mengendalikan pemerintahan daruratnya dari sana. Yang memegang jabatan gubernur saat itu adalah Pa Sewaka.

Pada saat itu bulan Ramadhan. Kami pergi dari Panumbangan sehabis sahur. Perjalanan yang harus ditempuh naik gunung turun gunung, mendaki bukit menyusuri lembah. Aku sangat kelelahan, lebih-lebih sedang menjalankan ibadah puasa. Kakiku sudah sangat lemah untuk melangkah sehingga perjalanan banyak dihentikan untuk istirahat beberapa saat. Lambatnya perjalanan karena kami sering melepas lelah, namun akhirnya sampai juga ditempat tujuan sore hari. Kami menginap satu malam ditempat pengungsian untuk memulihkan tenaga. 

Keesokan harinya, kami bersama Kak Ami dan dua orang anaknya, pulang ke Panumbangan. Dalam perjalanan pulang, kedua anak Kak Ami ditanggung oleh panyawah atau bergantian dengan yang lainnya. 

Seperti keadaanku dalam perjalanan kemarin, kali ini Kak Ami benar-benar kelelahan dan tidak dapat dipaksakan lagi berjalan. Ahirnya kami memutuskan untuk bermalam di perjalanan. Kebetulan ada seorang Lurah yang baik hati menyediakan makanan untuk berbuka puasa dan menyediakan tempat bermalam. Ia adalah Lurah Ciheulang.

Pagi harinya kami pamit untuk meneruskan perjalanan. Perjalanan di pegunungan saat itu sambil menikmati keindahan alam. Sungai-sungai mengalir berkelok-kelok menelusuri celah dataran rendah, kelihatan bagai ular sedang melata. Pemandangan dari atas gunung terlihat lebih indah. Pesawahan dan perkampungan terlihat menghampar dibawah bagai maket mungil nan asri. Kota Ciawi dan Panumbangan terlihat indah dari sana.
 
Ketika kami turun di sebelah Barat Gentong sebelum jembatan kereta api, tiba-tiba sebuah Kapal terbang Belanda jenis “capung” terbang rendah serasa dekat kepala kami. Kami semua berhamburan mencari tempat persembunyian. Kebetulan kami melihat sebuah kolam, kami semua terjun dan merendamkan diri dibawah pancuran. Setelah pesawat terbang Belanda itu lewat, kami bangkit dengan pakaian basah kuyup. Barangkali pesawat itu hanya melakukan pengintaian udara untuk menyelidiki tempat persembunyian para pejuang. Kami sampai di Panumbangan setelah Ashar sehingga bisa buka puasa bersama dirumah. 

Walaupun badanku masih terasa lesu dan pegal-pegal bekas perjalanan jauh, keesokan harinya, sebelum ke PMI aku pergi ke Pabrik Roti dulu. Tiba-tiba Perwiraku datang menghampiriku sambil menghujani pertanyaan penuh curiga: “Laats waar ben je geweest?” tanya dia. 

“Wij zijn van Garut geweest” jawabku minta pengertian. 

Tapi kemudian dia berkata seperti menggugat: “Mengapa tidak kasih tahu saya terlebih dulu?”. 

Aku jelaskan kepadanya bahwa kepergian ke Garut untuk menjemput kakak sekeluarga yang mengungsi di lereng Gunung Talagabodas serta keterlambatanku disebabkan kesulitan perjalanan harus menuruni dan mendaki gunung. 

Walaupun kelihatannya penjelasanku belum menyentuh keyakinan dia, ahirnya alasanku dia terima dan situasi kaku pun berubah menjadi derai tawa dan canda.

Akhirnya diketahui, bahwa dia menyangka kepergianku ke Garut bersama Si Ariefin, karena dia menyadari bahwa seluruh keluargaku mendukungnya. Kepergian kami ke Garut olehnya dianggap sebagai akal-akalan orang tuaku untuk mempertemukan aku dengan Si Ariefin itu. Malah Perwira menyangka lebih jauh, dia mencemburuiku tengah merencanakan pernikahan.

6. Persembahan Terakhir Bagi Perwira
 
Suatu hari Perwira memberitahuku bahwa di markas batalyon akan diadakan malam hiburan. Dia memintaku agar anak-anak sekolah dapat mengisi salah satu acara hiburan itu. Aku menyanggupi. Untuk jenis hiburan yang akan dipertunjukan berupa nyanyian dan tarian sebagaimana telah kami gelar pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik lndonesia pertama bulan lalu. 

Untuk pertunjukan itu kami mengadakan persiapan seadanya. Properti hiburan bekas peringatan hari Kemerdekaan masih tersimpan di Sekolah sehingga masih bisa digunakan. Kami membagi-bagi tugas. Seni tari dan seni suara dipercayakan kepada Neng Deetje putri dr.Kartobi seorang dokter tentara. Aku dan teman lainnya mempersiapkan untuk karangan bunga (cocarde) yang nantinya akan disematkan di dada para pejuang.

Menjelang malam penyelenggaraan, Perwira datang menjemputku ke rumah di pengungsian. Ia datang dikawal dua anggota TRIP. 

Setelah dia meminta izin  orang tuaku, kami berangkat menuju alun-alun. Ibu haji menugaskan adik bungsuku Anggara melakukan pengawalan dan mendampingiku pergi.

Lucu, dalam hal kawal mengawal antara aku dengan dia sepertinya berlaku dua prosedur. Pertama prosedur keluarga untuk mengawal keselamatan ku termasuk menjaga ganguan dari kejahilan tentara disampingku. Kedua prosedur militer untuk mengawal komandanya. Kalau harus jujur, kedua prosedur pengawalan tersebut tidak membuat kami nyaman. 

Acara hiburan diawali pertunjukan Band dari anggota Trip. Walaupun band tersebut tidak tergolong profesional karena perlengkapan musik seadanya, tapi cukup menghibur kami. Kemudian disusul berbagai hiburan dari anggota tentara lainnya. Dan Acara terahir diisi oleh nyanyian dan tarian gadis-gadis dibawah asuhan Neng Deetje. 

Pertunjunkan mereka mendapat sambutan riuh dari penonton. Neng Deetje sendiri, mempertunjukan tarian tunggal Goro-gorone dan Tari Payung. Gerakannya dinamis dan lincah. Lenggang lenggoknya sesuai irama musik. Maklum ia Gadis Cantik orang kota. Penampilannya percaya diri, berbeda dengan gadis-gadis desa yang umumnya pemalu.
 
Selesai pertunjukan tarian, kami menyematkan cocarde di dada para tentara pejuang. Diawali kepada para komandan kompi kemudian tentara lainnya, di iringi lagu karangan bunga. 

Lirik lagu tiap bait seperti mengundang haru:

Seruan masa datang bagiku,
Membela Ibu Pertiwi,
Kan kukenang bunga karangan mu,
Untuk menambatkan hati.

Andai kata ku gugur nanti,
Beta pesan padamu
Hiaskan di batu nisanku
Tanda Cinta padaku.

Keharuan telah menggerakan getaran jiwa para pejuang, sehingga semua tentara serempak berdiri menyanyikan lagu bersama-sama.

Aku sendiri, tidak kuat menahan haru, air mata ku pun jatuh menetes. Syair lagu tadi serasa pesan bagi kami. Bagiku dan bagi Perwiraku.

Para tentara yang terkenal bermental tangguh dalam jurit, namun dalam keharuan, hati mereka lembut dan rapuh. Mata mereka nampak berlinang-linang, berkemerlip memantulkan cahaya lampu petromak. Benar-benar momen tersebut sangat menyentuh hingga meneguhkan jiwa pejuang dalam menghadapi kedholiman penjajah.

Selesai hiburan, Perwira menghampiriku dan mengucapkan terima kasih dengan suara terbata-bata. Terlihat matanya sembab. Diantara kelopak matanya masih tersisa beberapa butir tetesan yang tidak terseka. Bulu matanya masih terlihat kuncup membasah. Menunjukan bahwa beberapa saat yang lalu, ia terhanyut oleh nyanyian keharuan.

Ternyata nyanyian yang mengharukan tadi, bukan sekedar pengobar semangat para pejuang. Bukan saja sebagai penggugah kesadaran, betapa pahitnya suatu bangsa dibawah penindasan bangsa lain. Bukan saja sekedar seruan masa datang dari Ibu pertiwi. Tapi ternyata juga nyanyian itu merupakan persembahanku yang terakhir untuk Sang Perwiraku.

7. Bom Pertama Jatuh di Panumbangan
 
Sekolah tempat aku mengajar letaknya bersebelahan dengan Mesjid Agung Panumbangan. Memanjang dari Barat sampai Timur sebanyak enam kelas. 

Di Desa kami, sekolah itu dikenal dengan sebutan "Sakola Panjang". Ujung bangunan Sekolah bagian Timur sejajar dengan bagian depan Mesjid. Jarak antara Mesjid dengan Sekolah tidak lebih dari lima meter. Mesjid Agung itu menghadap Alun-alun yang berada di sebelah Timur. 
 
Di tengah Alun-alun tumbuh Pohon Beringin sangat besar dan rindang, hingga dahan-dahannya menaungi sebagian besar alun-alun. Saking besarnya lingkaran batang pohon beringin, baru bisa didekap oleh rentangan tangan enam sampai delapan orang dewasa. 

Di puncak beringin itu dibangun Pos pemantauan udara berupa gubug terbuat dari bambu. Untuk mencapai gubug tersebut dibuatkan tangga-tangga yang tinggi. Tangga itu juga terbuat dari bambu.

Markas Batalyon berada di Sebelah Selatan alun-alun, menggunakan bangunan Kantor Kewadanan. Di sebelah Timur Markas Batalyon, terdapat istal (kandang) kuda dimana kuda-kuda yang biasa ditunggangi para komandan ditambatkan. 

Kalau aku berdiri dipojok sebelah Timur Sekolah, pandangan bisa langsung kearah Markas Batalion. Keadaan Markas Batalyon beserta kuda-kuda yang berada di istal akan terlihat jelas dari pojok sekolah dimana aku berdiri itu.

Sekolah Panjang menghadap kesebelah Utara pinggir jalan kabupaten. Di sebrang jalan depan sekolah, terdapat pesawahan yang luas, yang kami sebut "Serang". Namun sebelumnya harus menyebrangi sebuah sungai yang airnya membuncah besar. Sungai itu, kami sebut Cibolodo.

Sekirar pukul 09.oo pagi, yang sayangnya hari dan tanggalnya tidak kuingat lagi, tiba-tiba terdengar deru pesawat terbang Belanda dari arah Selatan. Kemudian disusul rentetan senapan mesin yang dimuntahkan dari pesawat itu mengarah ke pos pamantauan udara di atas pohon beringin.

Sirine tanda bahaya pun dibunyikan meraung-raung. Guru-guru dan murid yang tengah mengadakan kegiatan mengajar-belajar terperanjat kaget dengan panik berhamburan keluar kelas. Berlari tidak tentu arah mencari tempat perlindungan. Murid yang agak dewasa mampu berlari menyebrangi jalan dan bersembunyi ditepian Sungai Cibolodo, tapi murid kelas satu dan dua yang masih kecil tidak sempat berlindung jauh. Mereka hanya sempat berlindung di belakang Mesjid Agung dengan seorang guru, sebut saja bernama Bapak Mintaraga.

Aku sendiri tidak sempat berlari jauh, karena sebelumnya membereskan buku-buku bekas kegiatan mengajar terlebih dulu. Pesawat Terbang Belanda terlanjur datang kembali dari arah Utara dengan serentetan tembakan senapan mesin.

Aku hanya bisa bersembunyi disebuah bak kosong dibagian depan Mesjid, dipojok Timur bangunan sekolah. Diatas bak itu, berdiri sebuah bangunan tingkat terbuat dari kayu yang biasa dipakai tempat penyimpanan bedug.

Menurut perhitunganku, jika ada tembakan dari arah atas, aku masih terlindung oleh bedug dan bangunannya. Aku tidak memperhitungkan pesawat Belanda itu kemudian akan menjatuhkan Bom. Jika bom itu jatuh dan meledak disana, tentu badanku hancur beserta seluruh bangunannya.

Dari tempat persembunyian, aku melihat jelas bagaimana pesawat terbang Belanda berputar-putar mengelilingi kota. Kemudian datang dengan posisi miring memuntahkan peluru menghujani Markas Batalion. Hujan peluru pun berjatuhan di halaman sekolah dan dibelakang Mesjid termasuk disekitar tempat persembunyianku. Aku menyaksikan genting-genting Masjid dan Sekolah hancur berterbangan. Malah aku melihat jelas kearah istal Markas Batalion. Aku menyaksikan sendiri, bagaimana kuda kesayangan Perwira meringkik kesakitan terkena tembakan ahirnya sekarat dan mati.

Setelah beberapa kali putaran sambil menghujani tembakan, pesawat terbang itu kemudian menjatuhkan Bom tepat dibelakang Mesjid dimana Bapak Mintaraga beserta murid kelas satu bersembunyi. Aku memejamkan mata dan menutup telinga rapat-rapat. Terbayang di benak ku, Bom yang jatuh di belakang Mesjid itu meledak dan seluruh murid beserta guru hancur, termasuk aku sendiri yang bersembunyi tidak jauh dari jatuhnya Bom. 

Namun setelah beberapa saat aku menutup telinga, belum terdengar suara dentuman keras. Sepertinya Allah tidak mengizinkan terjadi malapetaka mengerikan didepan mata ku. Bom yang jatuh dibelakang Mesjid Agung, tepatnya di paimbaran itu tidak meledak.

Akibat serangan Belanda itu, banyak murid-murid yang bersembunyi di belakang mesjid menjadi korban peluru nyasar. Seorang murid kelas satu meninggal dunia tertembus peluru hingga isi perutnya keluar. Bapak Mintaraga pun terluka dibagian tangannya.

Setelah terdengar suara sirine tanda aman, semua keluar dari tempat persembunyian. Mereka begitu panik dan ketakutan, malah banyak murid-murid yang keluar dari persembunyian sambil menjerit-jerit, karena melihat teman didekatnya sudah bersimbah darah.

Aku sendiri tidak dapat segera keluar dari persembunyian. Kakiku amat berat untuk dilangkahkan. Aku gemetar seperti orang mengigil kedinginan. Aku stres karena menyaksikan langsung bagaimana serangan udara dilancarkan dan korban berjatuhan. Sampai tua, aku menderita traumatik jika mendengar suara ledakan. Jantungku bedebar dan mulutku menjadi kaku.

Ibu dan keluargaku dipengungsian sangat mencemaskan aku. Mereka menangis, karena mendengar bom jatuh di halaman sekolahku. Bayangan mereka, aku telah menjadi korban serangan Udara. Tapi setelah aku datang di rumah pengungisian, mereka pun malah lebih mengeraskan tangisannya. Tangisan terahir itu, mungkin karena kebahagiaan aku lolos dari maut.

8. Serang Udara Mengawali Perpisahan Kami

Dengan adanya serangan Udara Belanda itu, kami sekeluarga pindah pengungsian lagi kedaerah pinggiran hutan gunung Sawal, sebab menurut informasi, Militer Belanda akan segera menduduki Panumbangan.

Warung dadakan yang biasa kami bikinkan "kopi beronrak" untuk para pejuang di tutup. Selain situasi tambah genting, jumlah tentara pejuang pun makin sedikit. Markas Batalion sudah dipindahkan ke daerah lain, yaitu ke daerah Lemah Putih Majalengka.

Sebelum meninggalkan Panumbangan para Komandan Kompi termasuk Perwira menemuiku dan keluargaku dipengungsian. Mereka pamitan seraya mengucapkan terima kasih oleh bantuan dan dukunganku sekeluarga  kepada perjuangan.

Mereka sopan-sopan dan menghargai keluarga ku. Bukan karena mereka mengetahui aku pacarnya seorang komandan kompi, tapi juga karena aktifitasku selama ada Batalion tentara dinilai membantu perjuangan, terutama kegiatan PMI untuk merawat pejuang yang teluka.

Kompi TRIP mundur ke kaki Gunung Sawal di daerah Pasireurih Pamijahan dan sebagian lagi berada di kampung Singkup desa Medanglayang.
 
Sebenarnya, saat Belanda akan menyerang, pihak tentara pejuang sudah mengetahuinya, sehingga personil yang berada si Markas sudah ditarik mundur. Alat komunikasi radiogram sudah dipindahkan ke Kebonkopi. Tempat itu sekarang menjadi rumah putriku.

Sebelum serangan udara dilakukan Belanda, ada juga bangsa sendiri yang menjadi penghianat. Mereka menjadi mata-mata Belanda. Perwira pernah mengatakan orang-orang yang dicurigai, tapi tidak sepatutnya aku katakan lagi. Mereka memprovokasi keadaan di Panumbangan akan tetap tetap aman, katanya telah dicapai kesepakatan dalam perundingan Pemerintah Belanda dengan Republik. Maksud provokasi mereka untuk menjebak tentara agar tidak mundur dan nantinya mudah dihancurkan.

Tapi tentara pejuang pun lebih waspada, selain mempunyai jalinan komunikasi dengan para politisi Republik dan pembesar militer, juga mempunyai intelejen yang disusupkan di pihak Belanda.

Namun bagi rakyat umumnya banyak yang terprovokasi, sehingga ketika terjadi serangan, rakyat tengah mengadakan kegiatan rutin sehari-hari. Termasuk aku tidak menyangka akan terjadi penyerangan udara, tapi bukan karena aku terkena provikasi. Hari itu, aku turun dari pengungsian karena panggilan nuraniku sebagai guru. Murid-murid telah berkumpul di sekolah menunggu Guru mengajar, sangat mustahil aku meninggalkan mereka. 

Setelah serangan udara itu aku tidak bertemu lagi dengan Sang Perwiraku. Ternyata rentetan peluru dari Senjata Otomatis dan Bom Belanda itu awal perpisahan kami. Setelah malam harinya aku kalungkan bunga dan nyanyian perpisahan, ternyata siang harinya Belanda menyerang.

Namun sebelum pasukan mundur ke Gunung Sawal, tentara pejuang terlebih dulu menghancurkan jalan dan jembatan. Maksudnya untuk menghambat pergerakan Belanda, agar tidak segera sampai ke Panumbangan.


9. Perwiraku Sakit Keras

Setelah peristiwa pengeboman dan para tentara pejuang ditarik mundur ke pegunungan, aku tidak bertemu lagi Perwira, sampai suatu hari aku mendengar berita bahwa dia bersembunyi disuatu lokasi, yaitu di pasir Singkup Medanglayang. Malah si pembawa berita menyampaikan pesan, bahwa Perwira dalam keadaan sakit parah.

Jarak tempat pengungsianku dengan tempat persebunyian kompi Trip sekitar dua sampai tiga kilometer dengan perjalanan melalui hutan dan melintasi bukit.

Begitu cemas hatiku setelah mendengar berita tentang keadaannya. Kecemasan berbaur rindu telah mengalahkan rasa takut dari ancaman keselamatan oleh keadaan yang sedang genting saat itu. Aku memberanikan pergi menemuinya di persembunyian, sekalipun sewaktu-waktu aku harus menanggung resiko di hadang pasukan Belanda. Perjalanan yang melelahkan, harus menerobos hutan dan mendaki bukit tidak lagi menjadi rintangan bagiku. Akhirnya aku sampai di tempat persembunyian Perwira.

Dia tengah tergolek diatas balai-balai gubug bambu yang lapuk, dialasi sehelai tikar kusam. Ia berbaring dengan ganjal sebuah bantal. Dari sarung bantal yang dipakainya, aku melihat bordiran buatan tanganku sendiri.Ternyata, kemanapun dia pergi selalu membawa sarung bantal dari ku.

Sedih hatiku melihat keadaan Sang Perwiraku. Aku menangis hingga terisak-isak, menyusupkan kepalaku ke dadanya.  Aku ingin terus mendekap dan memeluknya. Aku ingin lama di dekatnya. Aku ingin terus mendampingi dan merawatnya. Namun keadaan perang memaksakku untuk jauh darinya. 

Dia pun kemudian menyuruhku segera pulang, dengan nada perintah: "Tinggalkan Tentara demi nyawamu".  Namun aku malah mempererat pelukan hingga dia membentaku:" Zoo leven de tentara!!". Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan seraya mengusap air matakaku yang membasahi pipi.

Disela-sela keharuan, aku memahami segenap keadaan dan tanggung jawab dia dalam perjuangan. Dengan hati berat, aku pelan-pelan meninggalkan dia dengan berjalan mundur tanpa melepas pandangan kearah gubug tempat dia berbaring. 

Langkahku terhenti, tertegun sejenak seraya menggit bibir menahan tangis. Tak kausa aku untuk membalikan badan dan pergi meninggalkan dia. Pirasatku mengatakan, hari itu terakhir aku melihat wajahnya dan dekat dengannya.

Tiba-tiba tanganku ditarik oleh seorang anggota Trip agar aku segera meninggalkan persembunyian. Kemudian aku pulang dikawal oleh dua orang anggota sampai ke batas Kampung Nyangkokot. Mereka mengatakan, tidak bisa masuk ke permukiman dengan senjata lengkap. Bisa saja ada penduduk sebagai mata-mata Belanda. Selebihnya aku disuruh berjalan sendiri dengan hati-hati. 

V. DALAM PENANTIAN PERWIRA

1. Panumbangan Bagai Kota Mati

Setelah terjadinya pengeboman oleh Belanda, tentara pejuang tidak lagi berkedudukan di Panumbangan. Mereka ditarik mundur ke berbagai daerah pegunungan atau perbukitan membentuk kantong-kantong pertahanan. 

Saat itu Tentara Pejuang melakukan taktik "Gerilya" atau yang dikenal dalam teori militer dengan istilah "Hit and Run". Mereka menyerang, kemudian menghilang. Mereka mengadakan serangan dadakan kepada tangsi-tangsi Belanda disertai penghancuran fasilitas militer. Atau kerap mengadakan penghadangan diperjalanan ketika pasukan Belanda lewat.

Taktik gerilya memang efektif jika suatu peperangan terjadi dengan sistim persenjataan tidak seimbang. Para pejuang memang tidak dilengkapi persenjataan yang memadai jika harus langsung kontak senjata dengan militer Belanda yang mempunyai persenjataan lengkap. Namun para pejuang mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai Belanda. Pejuang mempunyai fasilitas sosial. Mereka mempunyai rakyat yang mendukung perjuangannya. Mereka bisa berbaur dengan rakyat. Mereka bisa disembunyikan dan di lindungi rakyat.
Namun taktik gerilya pun mempunyai celah kelemahan. Rakyat sendiri bisa saja menjadi penghianat dan sebagai bumerang.

Walaupun nampaknya tentara sudah ditarik mundur ke kantong pertahanan di pegunungan, tapi aku tahu ada beberapa orang anak buah Perwira yang masih berkeluyuran di pemukiman, menyamar menjadi rakyat biasa. Mereka mungkin sedang melakukan penyamaran untuk mengamati keadaan. Atau mungkin juga mencari perbekalan untuk  logistik di tempat persembunyian.

Pada saat itu Balanda belum sampai di Panumbangan. Katanya mereka baru menguasai Kota Tasikmalaya. Untuk melintasi Panumbangan mereka harus melintasi Sungai Citanduy, sedangkan semua jembatan pengubung telah dihancurkan oleh tentara pejuang. Malah jalan yang biasa dipakai jalur kendaraan pun, dicangkul dan ditanami pohon pisang oleh penduduk.

Saat itu Panumbangan bagai kota mati. Sebagian besar penduduk pergi ke pengungsian. Rumah-rumah mereka dibiarkan kosong dan kekayaan pun ditinggalkan. Dalam situasi seperti itu, penjarahan kerap terjadi. Sasaran utamanya rumah-rumah orang berada. Rumah Ibu Haji pun sering disatroni penjarah. Meja marmer dan lampu hias serta bokor-bokor dari perak raib diambil orang.

Memang, dalam situasi yang sulit seperti itu, karakter asli manusia menjadi nampak kepermukaan. Ada orang yang berjuang dan mendukung perjuangan, namun ada juga yang mengeruk keuntungan dari sebuah kekacauan. Malah ada bangsa kita sendiri yang menghianati perjuangan.

Pada saat itu tersebar isu provokasi, katanya Panglima Divisi Siliwangi telah berunding dengan pihak Balanda dan keamanan rakyat akan terjamin. Rakyat di himbau  turun dari pengungsian untuk mengadakan kegiatan sehari-hari di tempat tinggalnya.

Dengan adanya penyebaran isu tersebut, rakyat banyak yang berani turun gunung dan mengadakan kegiatan ekonomi. Mereka membuka Pasar baru, mulai dari Dusun Landeuh sampai ke Pasar Kolot (dekat Kantor Pos sekarang). Pasar yang lama didekat alun-alun belum berani digunakan. Rakyat khawatir jika sewaktu-waktu datang patroli Belanda, mereka sulit berlari mencari tempat persembunyian. Lain lagi jika mengadakan kegiatan jual-beli di Pasar Kolot, jika tiba-tiba datang patroli Balanda, mereka masih sempat lari ke Munjul dan Bojongrenged (sekarang dusun Sindangharja).

Meskipun mendengar isu adanya perundingan dan gencatan senjata antara pihak Tentara Pejuang dan Belanda, keluargaku masih belum berani turun dari pengungsian. Kami mempertimbangkan sikap Belanda seringkali mengingkari perjanjian. Selain itu, masih cemas adanya provokasi, seperti sebelum terjadi pengeboman pertama tempo lalu. Kami hanya berani turun dari pengungsian sekedar untuk menengok rumah atau menangkap ikan dari Balong Gede. Malah kang Purwa pernah memancing ikan dari kolam di Cibuniseuri bersama tiga orang anggota Trip, anak buah Perwira yang berasal dari MULO. Aku mengenal mereka bertiga, yaitu Widodo, Sarwo Edi dan seorang lagi biasa aku memanggilnya Chan, karena berasal dari Chaniago. Untuk Sarwo Edi, aku masih ragu, apakah dia yang kemudian menjadi Danjen Kopasus dan menjadi mertua Bapak Susilo Bambang Yudoyono atau orangnya berbeda.?


2. Bom Kedua Meledak di Teras Rumahku.

Pada hari Sabtu, tanggal nya aku tidak ingat lagi, aku dan teman-teman gadis pengungsi merencanakan mengadakan makan-makan (botram) di teras rumahku di Panumbangan. Rencananya akan dilaksanakan besok hari Minggu pagi-pagi, sekalian membuat rujak (rurujakan) dan sekaligus menengok rumah yang selama itu ditinggalkan.

Dari tempat pengungsian, Ibuku membekali makanan untuk botram. Nasi timbel dan Goreng ayam sudah dimasukan ke kantong kaneron. Kemudian untuk membuat rujak, kami hanya membawa bumbunya, sebab di depan rumah di Panumbangan tumbuh Jambu Aer dan Pepaya sedang berbuah lebat.

Dari tempat pengungsian aku pergi sendirian, karena sudah janjian dengan teman-temanku, kami akan langsung bertemu di bekas warung kopi berontak, di pinggir rumahku.

Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Tiba-tiba perasaanku merasa tidak enak dan badanku mendadak lesu. Rasa malas mulai menggelayuti pikiranku. Seandainya kemarin aku tidak berjanji kepada temanku, mungkin sekarang aku tidak akan memaksakan langkah. Dengan bermalas-malasan aku terpaksa mengayunkan kaki, setapak demi setapak. Malah aku sering berhenti untuk duduk sejenak di bawah pohon. Sepertinya aku mendapat pirasat kurang baik akan terjadi. 

Ternyata benar, baru saja aku menginjakan kaki di jalan Babakan, seratus meter di belakang rumahku, tiba-tiba terdengar suara gaduh menderu dari tiga buah pesawat terbang Belanda. Terbang rendah melintasi kota Panumbangan. Mereka berputar-putar sambil menghamburkan peluru. Tiba-tiba terdengar dentuman amat keras suara bom meledak. Suaranya terdengar dahsyat dan getarannya terasa keras menggocang. Awalnya aku menyangka ada bom meledak didekatku, karena tanah yang aku pijak bergetar seperti ada gempa. 

Aku bersembunyi di sebuah gubug tempat penyimpanan kayu. Setelah pesawat itu menghilang, aku memberanikan diri keluar dari persembunyian. Aku langsung kembali ke tempat pengungsian, karena aku menduga, tidak berapa lama lagi Belanda tiba di Panumbangan. 

Di perjalanan, aku mendapat berita bahwa Bom yang meledak itu tepat di Teras Rumah Ibu Haji yang semula aku merencanakan botram disana. Aku terperanjat kaget hingga mulutku menganga beberapa saat. Bukan saja karena aku teringat pirasat saat badan terasa lesu dan  malas melangkah hingga tidak segera sampai disana, tapi yang aku khawatirkan justru teman-temanku telah lebih dulu datang dan mereka menjadi korban.

Di tempat pengungsian, keluargaku tengah menangis setelah mendapat berita rumah kami di Panumbangan hancur tepat dibagaian teras depan. Mereka menduga aku dan teman-temanku yang merencanakan botram di teras itu, menjadi korban ledakan. 

Katanya, tanah bagian depan rumah berlobang sedalam dua meter lebih dengan lebar lebih lima meter. Rumahku hancur oleh kedakan dahsyat itu. 

Allah Subhanahuwata'ala Maha Pengatur. Dia telah mengatur langkahku untuk menyelamatkan aku. Seandainya pada saat berangkat pagi-pagi dari tempat pengungsian aku ditetapkan menyegerakan langkahku seperti kebiasaanku sebelumnya, tentu badanku dan badan teman-temanku sudah hancur berkeping-keping. 

Terima kasih Ya Rabb, Engkau telah menyelamatkan jiwa kami dan terimalah syukur kami kapada Mu.

Di pengungsian kami sekeluarga berembug bahwa kemungkinan besar, hari besok pihak Belanda sudah sampai di Panumbangan. 

Pengeboman tepat di rumah Mama Haji Idris bukanlah suatu hal kebetulan dan salah sasaran, tapi pihak Belanda sudah memperhitungkan sedemikian rupa untuk menghancurkannya. Mungkin saja ada pihak pribumi yang menjadi mata-mata Belanda melaporkan bahwa selama ini rumah Mama Haji dijadikan Markas pejuang tentara hisbullah. Selain itu, adikku Umbara yang aktif di barisan hisbullah, mengatakan bahwa ia mendapat informasi, Belanda sedang mencari seseorang di Panumbangan yang bernama Haji Idris. 

Menyikapi keaadaan seperti itu,  malam hari itu juga kami sekeluarga pindah mengungsi ke pedalaman hutan Gunung Sawal yaitu di Gunung Tujuh.

Perjalanan malam mendaki gunung, menyusuri jalan setapak yang licin sambil membawa orang tua, makin terasa menyulitkan. Mereka sudah terlalu tua melakukan perjalanan di malam gelap, lebih-lebih harus menapaki jalan sempit ditepian jurang yang curam.

Setelah semalaman kami melalukan perjalanan melelahkan, ahirnya sampai di Gunung Tujuh pada dini hari. Ternyata ditempat itu sudah banyak pengungsi lainnya. Mungkin mereka sudah lama mengungsi di sana, karena kami menemukan banyak gubug sudah berdiri dikelilingi kebun palawija. 

Aku merasa sangat lelah dan tidak tahan kantuk. Kemudian aku merebahkan diri di dekat kandang kambing. Aku tidak menghiraukan lagi bau pesing menyengat dan kotoran kambing yang berserakan. Aku pun tertidur pulas.

Mama dan Ibu Haji serta ibuku menempati gubug yang sudah disiapkan oleh pengungsi pendahulu. Mungkin mereka mengetahui bahwa suatu waktu ketempat itu akan berdatangan pengungsi. Pada saat itu rasa toleransi sangat tinggi.

Pada saat Belanda sampai di Panumbangan, keadaan dikota sudah kosong tanpa penghuni. Rakyat sudah mengungsi di pegunungan yang dipandang aman. Tentara sudah menempati kantong-kantong pertahanan ditempat tertentu. Keluargaku sendiri sudah pindah lagi mengungsi ke daerah Ciwalen Banjarangsana. Maksudnya untuk menjauhi pos Belanda, karena benar saja Tentara Belanda tengah mencari seseorang bernama Haji Idris. 

Mungkin para informan memberikan keterangan kepada Belanda bahwa orang yang sedang dicari itu adalah Mama Haji Idris orang tuaku, padahal Mama Haji sendiri tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Sebelum aku mengungsi ke Ciwalen, terlebih dulu aku mengantarkan istrinya dr.Kartobi mengungsi ke kampung Panday Sukakerta. Beliau baru saja melahirkan seorang bayi. Bayi itu adalah adiknya Neng Deetje, yang kemudian diketahui bernama Atje. 

Pada ahir tahun 1999 aku mendapat kabar dari besanku di Cirebon, bahwa Atje, sang bayi itu menjadi mertuanya Jendral Polisi Hendarto Bambang Danuri yang kemudian menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia.


3. Ditinggal Hijrah ke Yogya

Tujuan keluargaku  mengungsi ke Ciwalen adalah untuk menjauhi pos Belanda yang berada di Panumbangan. Kami merasa kaget bahwa keluarga kami menjadi buronan tentara Belanda. 

Usut punya usut, ternyata beberapa waktu yang lalu ada pesawat Belanda jatuh di tengah sawah di Desa Sukasetia Pamokolan. Pilotnya diburu oleh masyarakat dan di bunuh oleh orang setempat bernama Haji Idris. 

Yang biadabnya adalah orang pribumi penghianat dari Panumbangan, menunjukan Haji Idris itu kepada Mama Haji Idris orang tuaku. Barang kali orang tersebut dipenuhi rasa iri sehingga tega melakukan fitnah. Selain itu, mereka melaporkan bahwa rumah mama haji dijadikan markas trip dan anaknya (maksudnya adiku Umbara) aktif di barisan hisbullah dan bergabung dengan pejuang. Oleh karena itu Belanda mengejar Mama Haji dan saudara-saudaraku. Untung saja adiku Umbara segera pergi dan bersembunyi di kota besar. Sampai ahir hayatnya Ia tinggal di Jakarta. 

Tempat pengungsian keluargaku di Ciwalen adalah rumah Ibu Martha, kakaknya Ibuku yang biasa ku panggil Ibu Ita. Beliau mempunyai seorang cucu, usianya tiga tahun lebih muda dariku, tapi dalam pergaulan sehari-hari serasa sebayaku. Ia bernama Kartika, yang biasa ku panggil neng Uka. Neng Uka menikah dengan seorang TRIP bawahan Perwira bernama Adang Kartaman (Dikemudian hari, Kolonel Adang Kartaman menjadi Bupati Sumedang, periode 1966-1970).

Setelah beberapa hari tinggal di rumah Ibu Ita, aku menerima surat dari Perwira yang dititipkan kepada Adang Kartaman. Tapi Adang tidak langsung menyerahkan surat itu kepadaku. Ia menitipkannya kepada Neng Uka, sehingga aku tidak sempat lagi bertanya lebih jauh tentang Perwira kepadanya. Entahlah, memang Adang sendiri terburu-buru akan mengadakan hijrah ke Yogya atau malah sengaja tidak ingin menemuiku untuk menghindar dari pertanyaanku tentang komandannya.

Dalam suratnya, Perwira menyampaikan bahwa tentara pejuang dari Jawa Barat diperintahkan Hijrah ke Yogya dan dia sendiri akan berangkat serta mengucapkan vaarwell. Selanjutnya dia menanyakan apakah aku akan ikut hijrah? Sebab banyak anggota PMI juga yang ikut hijrah. "Ga je mee?, ia bertanya padaku.

Tanpa terasa derai air mataku berjatuhan membasahi surat yang sedang ku baca. Banyak tulisan yang luntur karena tetesan air mata. Aku benar-benar terluka duka ditinggal dia pergi. Belum tentu kami dapat bertemu kembali. Atau mungkin kami tidak bisa bertemu lagi.

Seandainya kami sudah menikah, tentu aku akan ikut berjuang bersamanya. Walaupun sebenarnya pernikahan itu bisa dilangsungkan dalam keadaan darurat yang penting terpenuhi syariat. Namun setelah aku mempertimbangkan matang-matang, aku memutuskan untuk tidak ikut hijrah. Perjalanan jauh dengan menembus hutan dan gunung, bukanlah suatu hal yang mudah bagi seorang wanita. Ahirnya aku hanya bisa mendoakan dia agar selamat dalam perjuangan dan kami bisa bertemu kembali nanti.

Dalam hati aku berjanji akan setia menunggu dia sampai perjuangan usai. Jika kedaulatan negara republik ini telah digenggam. Aku mengharapkan dia datang lagi untuk ku dan bersama-sama menikmati hasil jerih payah perjuangan. Kami akan menikah sesuai janji bersama yang pernah kami ikrarkan.


4. Pemancing di Air Keruh

Manakala hatiku tengah terluka ditinggal Sang Perwiraku Hijrah ke Yogya. Ketika akalku tengah berjuang mengendalikan kegelisahan diri ditinggal pergi. Mengendalikan kegundahan terpisah karena hijrah. Mengendalikan gejolak asmara yang berkecamuk dalam kalbu setiap waktu. Mengendalikan hasrat ingin selalu bersama dengan pujaan hati, walaupun ahirnya aku membiarkan diri sendiri ditinggal pergi. Membiarkan diriku terhanyut dalam rindu dan membiarkan diriku Setia menanti hingga dia kembali. 

Tiba-tiba datang seseorang yang lebih senang memancing di air keruh. Orang yang lebih suka mencuri kesempatan dari kesempitan dan kesusahan orang lain. Orang yang tidak memahami perasaan orang lain dan selalu memaksakan kehendaknya. Orang yang memaknai cinta hanya sebatas menguasai dan memiliki. Lagi-lagi Ariefin datang ke tempat pengungsian dan memaksa akan menikahiku, dengan menghasut kegelisahanku bahwa tentara yang hijrah tidak mungkin kembali dan percuma untuk di tunggu.

Tentu saja kedatangan Dia dengan harapan nya sendiri, membuat hatiku jengkel. Malah kejengkelanku sudah sampai pada puncak yang tidak bisa ditolelir lagi. Mungkin menurut perhitungannya, setelah aku kecewa ditinggal berjuang oleh seorang pria yang dipuja, akan begitu mudah berpindah ke lain hati.

Sebagai seorang wanita aku merasa direndahkan oleh jalan pikiran dia. Begitu picik dan dangkal dia menilai diriku. Padahal dalam pemikiranku, karakter dia sendiri yang lebih sampah. Kemampuannya dalam memperjuangkan hasrat sendiri hanya mengandalkan ketebalan muka dan kejumawaan bisa menundukan hati orang tuaku. 
Mungkin karena keadaan seperti itu, sehingga dia berani mendesakku mengajak nikah, saat orang yang menjadi saingan berat dirinya sudah lepas dari sampingku. Kali ini aku harus bertindak tegas kepadanya tanpa harus memperhatikan perasaannya.

Anehnya ia tetap ngotot memaksakan kehendak, walaupun berkali-kali aku menjelaskan bahwa aku akan menunggu Sang Perwiraku yang sedang Hijrah dan tidak ada seorangpun dapat menggantikan kedudukannya. 

Kejengkelanku tidak tertahan lagi, manakala dia terus-terusan mendesakku. Kata-kata kasar pun terucap untuknya: "Sudahlah!! aku muak melihat anda dan aku tidak sudi menikahi orang seperti anda, sekalipun Perwiraku tidak kembali. Scheer je Weg!!!", teriaku mengusir dia.

Tentu menyakitkan tindakan ku seperti itu, tapi rasanya tidak ada jalan lain mengatasi orang Stijkop seperti dia.

5. Ditaksir Opsir Belanda

Lolos dari terkaman harimau, kemudian diancam menganga mulut buaya ganas. Itulah kira-kira ungkapan yang mendekati gambaran kisah asmaraku selama penantian Sang Perwira. Setelah kesetiaan dalam penantian Sang Perwira lolos dari sergapan licik Ariefin, ternyata aku harus berhadapan dengan invasi seorang opsir Balanda bernama Velmaat.

Awal ceritanya, dimulai ketika aku masih berada di tempat pengungsian di Ciwalen. Saat itu daerah Jawa Barat dibawah kekuasaan langsung Pemerintahan Belanda. Pejabat dan pegawai publik yang berada di pengungsian diseru untuk menjalankan tugas kembali ditempat asalnya, termasuk para guru harus menjalankan tugas mengajar lagi.

Untuk hal tersebut, aku mendaftar ulang ke Kabupaten dan tidak mendapat kesulitan, karena izasahku dan besluit pengangkatan pertama masih tersimpan baik, sekalipun pada saat genting seperti itu umumnya dokumen banyak yang hilang, karena sering berpindah-pindah tempat pengungsian.

Kepala Pendidikan Kabupaten Ciamis masih dipegang oleh bangsa Indonesia. Aku pun tetap ditempatkan di sekolah dimana waktu belakangan aku mengajar. Gadis-gadis pengungsi yang sebelumnya membantu mengajar, sudah kembali ke kota asalnya masing-masing, sehingga di sekolahku kekurangan tenaga pengajar.  

Untuk memenuhi kekurangan tenaga guru, ahirnya orang yang mempunyai izasah Vervolig atau Mulo pun diangkat guru. Banyak murid-muridku yang kemudian bersama-sama menjadi tenaga pengajar. Tentu saja dalam perkembangan selanjutnya, mereka meningkatkan mutu propesi dengan melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi.

Waktu itu di Panumbangan sudah ada satu peleton tentara Belanda. Mereka mendirikan markas di tepi Jembatan Cipanjeleran. Komandan peleton tentara pendudukan Belanda adalah Meester Velmaat.

Waktu kembali dari pengungsian, Mama dan Ibu Haji tidak menempati rumah yang lama, karena rusak berat akibat ledakan bom. Untuk sementara beliau tinggal di rumah Ka Ami yang berada disebelah Barat rumah beliau.

Entah mendapat informasi dari siapa, Meester Velmaat mengetahui bahwa aku keluaran Pendidikan Guru Belanda. Ia menjadi sering datang ke rumah ingin menemuiku. Aku selalu menghindar, dan jika tiba-tiba datang Si Velmaat aku sering loncat melalui dapur kemudian bersembunyi di rumah saudaraku di Kebon Kopi Landeuh.

Jika Si Velmaat datang ke rumah, ia dihadapi oleh Kak Adi, karena diantara keluarga kami yang fasih berbahasa Belanda adakah beliau. Mereka jadi suka diskusi berlama-lama karena Kang Adi sendiri dari Europische School. Kemudian Si Velmaat jadi sering menanyakan tentang aku. Sepertinya ia menduga-duga atau mendapat informasi mentah bahwa aku aktif dalam perjuangan dan ia pun ingin memastikannya. Tapi Kak Adi berkilah bahwa aku seorang pegawai negeri di Bandung dan tidak lama lagi akan pulang melaksanakan pekerjaan. Hal itu ditempuh oleh Kak Adi agar jika besok lusa kedatangan lagi Si Velmaat dan menanyakan aku, maka akan dijawab sudah berangkat ke Bandung, walaupun sebenarnya aku bersembunyi di rumah Uwaku di Kebon Kopi Landeuh.

Sepertinya Velmaat tengah menyelidik sesuatu tentangku, tapi anehnya tidak bertindak formal langsung menangkap aku atau saudaraku untuk selanjutnya di intrograsi. Mungkin ada keraguan kepada informasi awal yang ia terima. Sebab bisa saja ada orang yang mempunyai hati busuk memberikan laporan tentang sepak terjang aku dan keluarga ku selama ada tentara pejuang.

Penomena seperti itu sebenarnya kerap terjadi. Seseorang dilaporkan ada kaitan dengan tentara pejuang, kemudian ditangkap dan selanjutnya disiksa. Digantung diatas pohon jeruk bali pinggir Sungai Cipanjeleran. Atau nyawanya dihabisi dan jasadnya dibuang entah dimana. 

Ada juga orang tak berdosa, harus mati karena sentimen pribadi orang lain. Saat itu aku tahu, orang-orang yang tadinya dekat dengan Perwira ditangkapi dan tidak diketahui jasadnya lagi. Namun, beruntung sahabat Perwira dari Medanglayang yaitu Bapak Kepala Desa Medanglayang pernah ditangkap Belanda tapi kemudian beliau dilepaskan.

Aku dan keluargaku menjadi cemas dan takut, apalagi setelah salah seorang keluargaku yang aktif dalam perjuangan barisan hisbullah dengan adikku Umbara  tiba-tiba hilang. 

Karena khawatir masalah akan merembet kepada adikku, maka segera ia disuruh pergi ke Jakarta bersembunyi dalam keramaian kota.

Kejadian-kejadian tersebut, bagi keluargaku bagai hantu yang menakutkan. Tiap hari dicekam kecemasan. Kalau melihat tentara Belanda lewatpun rasanya mau menangkap. Bagaimana tidak, jika Belanda sudah bisa membuka keterlibatan aku dan keluargaku pada perjuangan maka tumpas lah seluruh keluargaku.

Setiap hari aku seperti main petak umpet menghindari Velmaat. Pagi-pagi aku pergi mengajar harus sembunyi-sembunyi diantara celah-celah rumah tetangga. Di dalam kelas hatiku tidak tentram. Aku selalu cemas membayangkan, tiba-tiba datang kedalam kelas tentara Belanda, menangkapku, menggiringku ke Markas, mengintrogasi dan menyiksaku. Menekankanku untuk membuka mulut siapa-siapa pejuang yang aku kenal dan dimana persembunyiannya. Aku jadi merinding oleh bayanganku sendiri.

Kalau malam hari, aku menginap di rumah Uwak di Kebon Kopi Landeuh. Seperti keadaan siang hari, malam pun aku tetap gelisah dan cemas. Apabila terdengar suara derap sepatu janggle di luar rumah, jatungku berdebar keras. Terbayang ketika derap sepatu berhenti, kemudian disusul suara keras menggedor pintu dan beberapa orang berseragam loreng menyeretku keluar. Astagfirullah aku paranoid akut. Aku juga jadi kasihan kepada Uwak yang punya rumah ikut-ikutan terbawa panik.

Sejak Belanda bercokol di Panumbangan, kehidupanku dan keluargaku selalu dihantui ketakutan. Kalau keluar rumah, aku bagai buronan menghindari pengejaran. Tengok kanan kiri sebelum melangkah. Jika berjalan selalu bergegas sambil menghindari berpampasan dengan orang. 

Kami bingung kepada siapa harus berlindung. Kadang terlintas penyesalan keputusan ku tidak ikut hijrah dengan pejuang. Seandainya aku ikut hijrah dengan mereka, biarpun sengsara di perjalanan namun setidaknya ada yang melindungi keselamatanku dan menjadi tegas siapa kawan dan siapa lawan. Dari pada saat ini, aku juga jadi khawatir kepada bangsa ku sendiri, bisa saja menikam dari belakang.


6. Tertangkap Tangan Sang Polisi.

Liku-liku perjalanan kisah asmaraku selama penantian Sang Perwira, setelah hidup bagai buronan dari kejaran Opsir Velmaat, akhirnya tertangkap tangan oleh seorang Polisi berwajah tampan bak Sean Connery. 

Demi menyelamatkan keluarga, ahirnya aku menerima kenyataan untuk mengubur kenangan manis dan mengahiri penantian Perwira serta kemudian harus bersedia dipersunting sebagai isteri seorang polisi. 

Awalnya, pada saat itu untuk penegakan ketertiban hukum di daerah yang dikuasai Belanda berada ditangan dan dijalankan oleh aparat polisi bangsa Indonesia. Walaupun polisi bekerja dalam lingkungan pemerintahan Belanda, tapi sesuai fungsinya yang dilindungi oleh polisi adalah rakyat Indonesia sendiri. Jadi bukan berarti bahwa orang Indonesia yang menjadi polisi adalah antek-antek Belanda. Mereka tetap bertugas untuk kepentingan rakyat dan bangsa sendiri, walaupun bekerja dalam lingkungan kekuasaan Pemerintahan Balanda. 

Seperti juga profesiku sebagai guru, walaupun bekerja dilingkungan pemerintahan Belanda tetapi tugas guru tetap untuk kepentingan pendidikan bangsa Indonesia sendiri. 

Di Panumbangan saat itu ditugaskan beberapa orang Polisi yang baru lulus pendidikan latihan dari Tegalega Bandung, namun ada seorang polisi lulusan Sekolah Polisi Sukabumi. 
Beberapa orang anggota polisi kost makan di rumah kakakku. Aku dan adikku Saffa selalu menyiapkan makanan untuk mereka. Dalam hal ini ternyata adikku lebih dulu menikah dengan seorang polisi berasal dari Garut.
 
Diantara polisi-polisi muda itu, ada seorang polisi berparas tampan dan berprilaku santun sehingga menarik perhatian Ibu Haji dan keluargaku. Harus aku akui, sang polisi idola keluargaku itu memang mempunyai wajah ganteng. Hidung mancung, mata tajam, alis tebal dan rona muka bagai orang-orang timur tengah. 

Tapi hatiku tetap terpaku pada penantian Sang Perwiraku. Ketampanan seperti apapun, buat hatiku tidak akan berarti tanpa Perwira ada bersamaku. Kebulatan cinta ku tetap utuh untuk menunggu Sang Perwira kembali. Setampan apapun polisi itu, tetap tidak bisa menggeser Perwira dari hatiku. 

Keluarga Sang Polisi itu berasal dari Panjalu. Dari isteri saudara kakeknya masih ada hubungan dengan keluarga kami. Sepupu ayahku menikah dengan kakak dari kakeknya Sang Polisi itu. Konon juga diketahui bahwa polisi itu masih "teureuh" kerajaan Panjalu tapi dari garis keturunan Ibu. 

Selain itu pula sang polisi nampak taat terhadap agama. Hal-hal itulah yang menjadi pertimbangan keluargaku sehingga bersikeras menjodohkanku. 

Namun sebenarnya ada alasan yang lebih utama, jika aku kawin dengan polisi itu, maka keselamatan keluarga dari ancaman Belanda bisa terhindari. Setidak-tidaknya ada pihak yang melindungi kami. 

Ibu Haji mendesakku untuk kawin dengan polisi itu. Aku menangis dan menolaknya. Aku tetap akan menunggu Perwira kembali dan aku yakin dia pasti kembali untuk ku. Namun Ibu Haji tidak mau tahu tentang keadaan hatiku. Beliau terus mendesakku dan akupun tetap menolaknya. 

Dalam fikiran ku ada niat untuk kabur lagi seperti dulu. Tapi kali ini mendapat jalan buntu. Kak Ami yang baru bekerja lagi di Bandung masih numpang di rumah orang. Tidak mungkin lagi aku tinggal bersamanya. Untuk kabur ketempat lain, tidak tahu kepada siapa aku harus mendatangi. Disamping itu kondisi keamanan saat itu sangat berbahaya untuk berpergian apalagi aku seorang wanita. Pos penjagaan Belanda dibangun hampir disetiap persimpangan jalan. Mereka mengadakan pemeriksaan kepada setiap penduduk yang lewat. 

Jika ingin menghindari pemeriksaan, satu-satunya jalan harus melewati pegunungan. Namun inipun masih terancam keselamatan oleh gerombolan DI/TII. 

Gelap dan buntulah pikiranku untuk melaksanakan rencanaku kabur dari rumah. Sementara itu Ibu Haji memberi ancaman, jika adalam waktu dua hari aku tidak memberikan jawaban, maka aku harus pergi dari Panumbangan. 

Menurut pemahaman Ibu Haji, selama aku ada di Panumbangan, sulit mengelak tidak ada kaitan dengan pejuang dan keselamatan keluargaku akan selalu terancam. 

Selama dua hari dua malam aku menangis sedih memikirkan betapa beratnya tantangan mempertahankan kesetiaan menanti Perwira. Kali ini diuji untuk mengahiri penantian demi keselamatan keluarga. 

Aku tidak tahu lagi mana jalan terbaik yang harus aku tempuh. Aku bingung dan aku tidak kuat lagi berfikir. Akhirnya aku bersimpuh dalam pangkuan Ibu kandungku. Aku menangis tersedu-sedu mengharapkan ketulusan do’a dari seseorang wanita yang melahirkanku. 

Ibuku menasihati agar aku mematuhi keinginan Ibu Haji. “Beliaulah yang mengurusmu sejak kecil ditinggal Ayah sampai akhirnya dewasa dan mendapat bekerja”, ujar ibu menasihatku sambil juga menangis terharu. Tetesan air matanya terasa hangat menitik dirambutku, tapi menyerap kedalam fikiranku terasa sangat sejuk.

Pada malam terahir, aku berfikir bolak-balik dalam kegelisahan. Badanku saat bebaring ikut gelisah dibuatnya. Kadang mengarah kekiri seraya fikiranku melayang mencari jalan keluar namun tiba-tiba mendapat jalan buntu, dengan tiba-tiba juga badanku berbalik kearah kanan dan begitu seterusnya, Aku terus berfikir untuk menentukan satu dari dua pilihan: Apakah aku harus mengorbankan asmara bagi Sang Perwira demi keselamatan keluarga ataukah aku harus pergi demi menunggu Sang Perwiraku kembali. 

Akhirnya aku berfikir untuk mengorbankan Cinta dan mengahiri penantian kepada Sang Perwiraku. Aku memahamkan jika kawin dengan tentara, maka suami berjuang ditinggal pergi dan banyak terjadi suami tidak kembali lagi. Tapi jika kawin dengan polisi, maka suami dipindah-tugaskan kemana pun isteri masih bisa dibawa. 

Tuhan telah menggariskan jodoh buat aku. Betapapun berlikunya Kelana menorehkan kisah asmara. Yang Maha Pemasti telah menyiapkan sebuah Bahtera untuk ditumpangi dalam pelayaran di Samudera rumah tangga yang luas tak bertepi. Aku ahirnya pasrah menjatuhkan pilihan pada seorang polisi calon suamiku.

Sehari kemudian aku dinikahkan dengan seorang polisi tampan pilihan orang tua bernama Achmad Fatoni. Pernikahan dilakukan hanya dihadiri keluarga dekat dan tidak mengundang orang lain. Hal ini untuk menghindari musuh dalam selimut dari bangsa sendiri yang biasa menikam dari belakang. 

Walaupun awalnya aku tidak mencintai sepenuh hati. Lambat laun aku menerima sang polisi itu sebagai suamiku yang aku harus berbakti kepadanya. Perlahan tapi pasti, hatiku luluh oleh norma sakral ikatan perkawinan. Asmara kepada Sang Perwiraku harus dikorbankan dan dikubur dalam-dalam. Ternyata benar ungkapan: “Onbekend maakt onbemind” (Kecintaan seseorang akan timbul manakala kita mengenalnya). Masa lalu yang indah benar-benar sebagai “Mijn Schat” harus berusaha dilupakan. Kini aku harus siap menempuh lembaran hidup dengan nuansa asmara yang berbeda dengan nuansa waktu lalu.

VI. KENANGAN LAMA MUNCUL TENGGELAM

1. Rumah  Untuk Keluarga Baru

Setelah aku menikah dengan seorang polisi, kami menempati sebuah rumah pinggir jalan sebelah Barat rumah Ibu Haji. Rumah itu kepunyaan Kak Rofie, kakak ku dan rumah itu pula yang pernah ditempati oleh Kak Ami selama masa pengungsian sampai kemudian pindah ke Bandung.

Kak Rofie, wafat ketika usia masih muda. Ketika kehidupan ekonominya berada dipuncak kesuksesan. Ia termasuk pengusaha muda berada di saat itu. Ia mempunyai grosir kedelai dan bungkil serta Pabrik Tahu satu-satunya yang ada di Panumbangan. Kakak ku itu wafat meninggalkan enam orang anak, dua diantaranya sudah berumah tangga, sedangkan empat orang lainnya masih kecil.  Suami mendiang kakak ku menikah lagi tanpa membawa dan memperdulikan anak-anaknya yang masih kecil. Salah seorang anaknya, yang keempat kemudian ikut bersamaku. Kebetulan adik suamiku juga ikut bersama kami.

Di rumah kepunyaan kakak itulah, aku mengawali perjalanan rumah tangga dengan suamiku. Walaupun bagai rumah mengapung dipermukaan laut. Yang kerap tergoncang oleh ombak pasang. 

Jika suami ku mendapat giliran piket malam, dirumahku selalu ditemani Ibuku yang sebelumnya tinggal di Cerebon. Namun setelah suami ibu yang terahir itu wafat, beliau kembali ke Panumbangan menempati vapiliun rumah kang Purwa.

Pada saat ditemani Ibu itulah, aku mencurahkan isi hati dan menumpahkan seluruh kegundahan yang membelenggu jiwa selama itu. 
Aku menangis dipangkuan Ibu karena kebimbangan terhadap rumah tanggaku yang dipaksakan. Kebimbangan karena dorongan jiwa untuk menunggu Perwira, selalu menghantui. 

Hari-hari dilalui penuh kegelisahan karena di dalam benakku ada dua beban pemikiran yang saling berbenturan. Disatu sisi, aku harus menjungjung tinggi nilai sakral perkawinan dan apapun latar belakangnya, aku tetap harus berbhakti pada suami. Namun disisi lain, hatiku selalu teriris karena cintaku pada Sang Perwira dijadikan tumbal demi keselamatan keluarga. 
Dengan adanya Ibu menemaniku di rumah, merupakan kesempatan bagiku melepaskan beban yang selalu menyesakkan dada. Aku peluk Ibuku erat-erat. Aku menangis tersedu-sedu dalam pangkuan Ibu. Dengan lembut, Ibu mengelus rambutku. Tetesan air mata ibu pun terasa berjatuhan diatas ubun-ubunku. Rasanya sejuk meresap di kalbu ku termasuk nasihat yang beliau sampaikan. 

Ibu ku mengatakan bahwa aku harus bersyukur menikah dengan suamiku. Perkawinan itu merupakan pilihan terbaik yang diberikan Allah untukku. Coba lihat gadis yang lain, yang awalnya rame-rame menikah dengan tentara seperti latah, namun setelah tentara pergi tanpa kembali, mereka pun nyaris masal menyandang status janda. Engkau beruntung menikah dengan seorang polisi, nasihat ibu selanjutnya, karena engkau tidak ditinggal jauh, jika suamimu dipindahkan kemanapun, istri masih bisa dibawa pindah.

Dari nasihat Ibuku tersebut, kemudian aku merenungi kebenarannya. Sejak saat itu pula hatiku bersyukur. Kisah asmara dengan Sang Perwira kucoba harus diakhiri karena aku telah bersuamikan seorang Polisi. Sejak saat itu aku bertekad untuk membhaktikan diri pada suami dan membina rumah tangga ku sebaik-baiknya.

2. Kekacauan Baru di Desa ku

Setelah Tentara Hijrah ke Yogya, keadaan di Panumbangan menjadi tambah kacau akibat terjadinya perbedaan konsep di kelas elit politik. Disatu pihak menyetujui perjanjian Renvile dengan alasan untuk memperoleh pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, harus diterima syarat pembentukan Negara Serikat dan mempersempit kekuasaan Republik Indonesia terbatas daerah Yogyakarta serta mewajibkan Republik Indonesia menarik pasukan kesebalah timur garis "Van Mook" (dimana tanda titik Van Mook sekarang ada di Jembatan Cirahong). Namun dipihak lain ada kelompok yang menolak perjanjian itu seraya menuding Pemerintahan Republik Indonesia (Pemerintahan Soekarno) menjual Negara kepada Kafir Belanda. Mereka tidak setuju dengan hijrah militer ke Yogyakarta, tetapi mereka mengadakan gerakan "hijrah total" yaitu perlawanan habis-habisan melawan Belanda di tatar Jawa Barat. Mereka mendirikan negara baru yang disebut Negara Islam Indonesia atau Darul Islam dengan pasukannya Tentara Islam Indonesia (NII, DI /TII).

Akibatnya ketentraman dan keamanan rakyat menjadi tidak menentu. Mereka menjadi terancam oleh dua pihak. Belanda dengan arogansi kekuasaan membuat rakyat miris dan takut. Disamping itu, gerombolan bersenjata yang menamakan dirinya Tentara Islam Indonesia (TII) yang awalnya hanya perlawanan terhadap Balanda tapi kemudian berhadapan dengan Tentara Republik sekembalinya dari Yogya. Malah kemudian menyerang penduduk sipil. Mereka membunuh rakyat, membakar rumah-rumah dan mengambil harta benda penduduk.

Posisi Rakyat Jawa Barat pada saat itu benar-benar dalam kedudukan terjepit. Mereka tidak tahu harus menyandarkan keselamatan jiwa kepada siapa. Jika menyandarkan keselamatan kepada pemerintah Belanda, mereka pun terancam oleh Gerombolan TII dengan tuduhan membela Kapir dan pula terancam oleh Tentara Republik dengan tuduhan penghianat bangsa. Begitu juga jika menyandarkan keselamatan kepada tentara republik, mereka akan terancam oleh Belanda dan gerombolan TII. Apalagi jika menggantungkan keselamatan kepada gerombolan DI/TII.

Pada waktu itu, ketika Polisi Distrik Panumbangan mengadakan operasi ke basis pertahanan TII di daerah Gunung Cupu Cikoneng, dalam perjalanan dihadang gerombolan DI/TII terlebih dulu di bukit Sanghiang di Sasak Gantung Pamokolan. Gerombolan memberondong tembakan jarak dekat dari arah bukit yang berada diatas sebelah Timur jalan. Banyak polisi menjadi korban. Namun untung, saat itu suamiku sedang mendapat tugas piket di Kantor dan tidak ikut operasi.

Suamiku sering meerdag ke Cihaurbeuti karena disana juga terdapat pos polisi. Cihaurbeuti termasuk daerah rawan ancaman gerombolan dan suamiku pun sering mendapat serangan dengan posisi terjepit. Tapi Alhamdulillah masih bisa selamat.

Setelah dilakukan perjanjian Den Haag yang terkenal dengan nama Konprensi Meja Bundar, Belanda menyatakan pengakuan kedaulatan terhadap negara Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Jawa Barat menjadi Negara Bagian Pasundan sama seperti Republik Indonesia sebagai negara bagian yang berkedudukan di Yogyakarta. Namun, itu tidak berlangsung lama. Setelah mendapat pengakuan kedaulatan, Indonesia kembali lagi menjadi Negara Kesatuan.

Tentara Siliwangi pun kembali memasuki Jawa Barat dengan melakukan Long March setelah sekian lama Hijrah.


 2. Perwiraku kembali dari Hijrah.

Mendengar berita kembalinya Tentara Siliwangi ke Jawa Barat, hatiku yang semula telah mengubur semua kenangan dengan Sang Perwira menjadi goyah.

Aku, sebagai istri yang seharusnya jiwa dan ragaku seutuhnya berada disamping suami, ternyata ada sesuatu dari diriku yang lebih dulu melesat meninggalkan kenyataan. Ia adalah hatiku, yang kebelakang tidak hadir dalam akad pernikahan. 

Walaupun aku sepenuhnya menyerahkan ragaku milik suamiku, namun aku belum bisa menghadirkan hati seutuhnya ditengah-tengah rumah tanggaku. Walaupun kucoba, sedang ku coba dan terus kucoba, tapi kerap aku menerawang jauh keatas awan, melalui lensa mataku memancarkan gambar-gambar kehidupan seperti proyektor film memutar cerita.

Dilangit, dibalik awan disana, terlihat jelas sebuah gambar bagaimana Sang Perwiraku kembali dari Hijrah. Bagaimana dia menghampiriku dan memberikan setangkai bunga tanda ia masih setia untuk ku. Terlihat juga gambar, bagaimana dia menarik tanganku mengajak pergi berdua, menunggangi kuda kesayangannya yang dulu mati tertembak Belanda. Kuda itu, terbang melesat membawa kami dan membiarkan kami saling mencurahkan kerinduan di atas punggungnya. Oh, alangkah indahnya. Terbang meliuk-liuk di awan sambil melihat ke bawah, hamparan bumi menghijau penuh ke damaian. 

Dari atas awan itu aku melihat kebawah terdapat sebuah titik hitam disuatu tempat. Semakin diperhatikan makin membesar dan semakin terlihat jelas. Titik tersebut adalah sosok laki-laki yang sedang duduk disebuah kursi diteras rumahku sedang memeluk seorang anak kecil. Ia kelihatan murung dan bersedih seperti luka hati kehilangan sesuatu. Setelah kuperhatikan lebih seksama, betapa terkejutnya aku, karena wajahnya pernah aku kenal dan akrab dimataku. 

Ia ternyata suamiku dan anakku sedang bersedih kehilangan aku. Moralku terperanjat dipukul rasa bersalah. Aku memejamkan mata kuat-kuat. Lamunanku berahir dan semua gambar tentang Sang Perwiraku diatas awan itu menghilang. 

Mataku kembali dapat melihat kenyataan bahwa aku sekarang sudah menjadi isteri seorang inspektur polisi. 

Demikianlah suasana hatiku setelah mengetahui tentara Siliwangi kembali dari Yogya. Penuh pertarungan antara harapan kedatangan Perwira dan kesetiaan sebagai seorang isteri. Hatiku penuh kebimbangan. Kerap labil dalam menegakan kesetiaan. 

Aku sering tersiksa oleh diriku sendiri. Hatiku makin terkoyak jika mendengar berita tentang Perwiraku. Karena hatiku dijadikan medan pertempuran oleh harapan cinta dengan norma kebenaran yang tetap harus aku pegang. 

Seperti ketika pada suatu hari aku sedang mengajar di Sekolah, tiba-tiba kedatangan seorang tentara pejuang yang dulu bermarkas di Panumbangan. Ia bernama Suwandi dan yang biasa aku panggil “Mas Wandi” karena ia berasal dari Surabaya. Mas Wandi menyampaikan pesan Perwira kepadaku. Katanya, dia sudah pulang dari Jogya namun dimana ia berada tetap dirahasiakan. Mas Wandi sendiri datang ke Panumbangan dengan sembunyi-sembunyi untuk menemui isterinya, yang juga temanku. Namun setelah itu Mas Wandi tidak kembali lagi dan tidak ada kabar beritanya. Isterinya ditinggalkan begitu saja, sehingga isteri Mas Wandi mengugat cerai dan kemudian menikah lagi dengan tentara dari kesatuan Batalyon 314 Sunan Gunungjati yang pada tahun 1958 organik di Panumbangan. 

Pada saat menemuiku, Mas Wandi menyampaikan salam Perwira untukku. Dia belum mengetahui aku sudah menikah. Hatiku menjadi sedih dan tergoyah. Ternyata anggapan keluarga bahwa dia tidak mungkin kembali itu meleset. Kenyataannya dia benar-benar kembali untukku. Aku benar-benar menyesal tidak menunggunya. Aku benar-benar menyesal tidak berani berontak kepada Ibu Haji. Aku menyesal menjadi orang pengecut tidak nekad pergi dari Panumbangan meninggalkan keluarga demi dia. Aku menyesal harus membiarkan diriku menerima pernikahan yang dipaksakan. 

Sekarang nasi sudah jadi bubur. Asmaraku untuk Sang Perwira sudah hancur-lebur oleh ikatan perkawinan dengan suamiku. 

Luka hati kehilangan Sang Perwira yang beberapa waktu lalu hampir mengering, kini tergores lagi malah terkoyak-koyak oleh berita kedatangannya. 

Keadaan hatiku makin tersiksa karena aku sudah menjadi milik suamiku dan tidak ada satu dasar pembenaran apapun untuk aku mengingkarinya.

3. Surat Untuk Sang Perwiraku. 

Setelah aku mempunyai empat orang anak, memasuki tahun 1958, di Panumbangan organik satu Batalyon 314 dari Resimen Sunan Gunungjati Cirebon. 

Pada suatu hari, ke markas Batalyon kedatangan tamu Komandan Detasemen CPM Cirebon dalam rangka tugas rutin. Komandan itu adalah Lekol-CPM Perwira. Sang Perwira yang selama beberapa waktu lalu aku tunggu. Sang Perwira yang terpaksa aku kubur cintanya demi keselamatan keluarga. Sang Perwira yang tidak bisa lagi kupandang walaupun selalu dapat kudengar perjalan hidupnya. 

Menurut berita, dia bertugas selama tiga hari dan bermalam di rumah sahabatnya seorang haji didaerah Landeuh pinggir jalan raya arah ke Cibeureum yang setiap hari kulewati jika pergi ke sekolah. 

Aku tidak mengerti mengapa dia tidak tinggal di Mess Perwira. Aku pikir, dia takut menggangguku karena Mess berdekatan dengan rumah tinggalku. Atau mungkin dia ingin mengintip keadaanku, karena setiap hari aku pergi atau pulang Sekolah melewati rumah itu. Setelah lebih sepuluh tahun berpisah, mungkin dia ingin mengetahui langsung keadaanku. Padahal aku sendiri mendengar dia juga sudah menikah. 

Untuk pergi ke Sekolah, aku menjadi bingung menghindari bertemu dengan dia. Dasar seorang Perwira Invantri, dia cerdik menempatkan diri untuk membuat aku tak berkutik. Untuk pergi ke sekolah, aku hanya mempunyai satu-satunya jalan yang harus kulewati yaitu jalan yang melewati rumah dimana dia bermalam. 

Biasanya aku pergi ke sekolah jalan kaki, karena jaraknya hanya sekitar 400 meter lurus. Tapi untuk hari-hari itu, terpaksa aku pergi ke sekolah dengan menunggang delman. 

Ketika delman mendekati rumah dimana dia berada, aku meminta Sang Kusir memacu kuda berlari kencang. Namun saat delman sudah melewati tidak jauh dari rumah itu, aku sempat mencuri pandang dan ternyata tidak terlihat ada orang disana. Kemudian aku terus memperhatikan rumah itu, barangkali tiba-tiba ada orang yang keluar rumah. Delman malah berlari semakin kencang sehingga jarak makin jauh dan pandangan kearah diapun makin kabur. Hatiku saat itu bergalau antara kepuasan dan kekecewaan. Aku merasa puas, karena menurutku aku menang menghadapi strategi yang digunakan Perwira Invantri. Ia tidak bisa menghadangku untuk bertemu saat aku pergi ke sekolah walaupun ia sudah menguasai medan secara taktis. Aku tersenyum kecil, ternyata dalam siasat asmara, perwira invantri yang bepengalaman tempur bisa kalah oleh mantan anggota PMI. Tapi sebenarnya aku merasa kecewa, karena pada saat delman melewati rumah dimana dia berada, aku tidak sempat melihat wajahnya. 

Di Sekolah, aku membuat surat untuk dia dengan isi panjang-lebar. Namun intinya menyampaikan pesan bahwa “Jadikanlah masa lalu hanya untuk dikenang. Mencintai itu tidak selamanya untuk saling memiliki. 

Sebelum diberikan kepadanya, surat itu aku selipkan dalam buku catatan harianku dan kemudian dibawa pulang ke rumah.

4. Surat  Penyebab Retak Rumah Tangga

Sepulangnya mengajar di sekolah, aku bergegas pulang ke rumah karena harus segera menyusui bayiku yang masih berusia enam bulan. Ia anak ku yang keempat. 
Buku catatan harianku, aku taruh diatas buffet di tengah rumah, padahal biasanya aku bawa ke kamar. 

Tidak lama kemudian, suamiku datang dan membuka buku itu. Betapa terkejutnya melihat tingkah suamiku itu. Mungkin suamiku hanya iseng ingin membaca tulisan apa yang ada di dalamnya. Namun aku panik, karena Surat untuk Raspati diselipkan di dalam buku itu. 

Aku segera merebut buku dari tangan suamiku. Suamiku malah makin curiga melihat reaksiku panik seperti itu. Ia merebut kembali dari tanganku. Kemudian terjadi saling tarik dan surat untuk Perwiraku terjatuh di lantai. Suamiku memungutnya dan membaca surat itu. Ia marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor.

Aku hanya tertunduk, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Surat yang aku buat untuk Perwira sebenarnya hanya mengungkapkan rasa bersalah bahwa aku mengahiri penantian demi keselamatan keluargaku. Karena hal tersebut tidak pernah ku sampaikan sebelumnya. Namun alasan demikian tidak mungkin bisa dijadikan dasar pembelaan kepada suamiku yang tengah meluap amarah.

Suratku itu, oleh suamiku ditik ulang dan diperbanyak, kemudian disebarkan kepada keluarganya dan keluargaku, termasuk mengirimkan petikan surat kepada  Kak Ami di Bandung.

Sebenarnya aku telah banyak menderita dan berkorban untuk kebahagian keluarga. Aku berkorban menghancurkan harapanku sendiri. Aku tengah berjuang sekuat tenaga menyumbat setiap  celah peluang kembali kepada Sang Perwiraku. Walau hatiku terus-terusan menderita. Walaupun hatiku terkoyak-koyak, tapi aku relakan demi keutuhan rumah tanggaku. 

Sebenarnya suamiku mengetahui latar belakangku dengan Perwira. Suamiku mengetahui bahwa rumah tanggaku awalnya merupakan tumbal keselamatan keluarga. Dia juga menyadari bahwa rumah tanggaku dibangun diatas lahan cinta orang lain. Dan suamiku mengetahui pula bahwa aku tengah berjuang melupakan masa lalu. 

Seharusnya suamiku memahami hal tersebut. Seharusnya suamiku membantu menguatkan perasaanku. Karena keutuhan rumah tangga dengan dia pun merupakan tujuanku. Jangan seperti saat ini. Hanya sekedar membuat surat untuk menjelaskan keingkaranku kepada janji dengan Perwira, yang tidak pernah kusampaikan sebelumnya, suamiku meluap amarah hingga mengeluarkan kata-kata penghinaan kasar dan kotor.

Jika tidak kutemukan maaf dari suamiku dan terus-terusan mengumbar amarah dengan mengeluarkan kata-kata kotor, merendahkan dan penghinaan, maka meskipun tidak aku harapkan, perceraian ahirnya pilihanku. Aku siap hidup sendiri dengan membawa seorang bayi, sedangkan tiga anak lainnya terserah ayahnya.

Aku berpikir saat itu, aku baru menginjak usia tiga puluhan, masih muda dan mempunyai harapan masa depan. Jika suami menceraikan aku, aku akan mengajar pindah ke Bandung dengan membawa seorang bayi yang akan ku besarkan. Tiga anak yang lainnya, terserah menjadi urusan ayahnya. 

Aku putus asa saat itu. Usaha membangun fondasi kuat dari rumah tangga yang kami dirikan diatas tanah yang labil, telah disia-siakan suamiku. Rasanya hatiku sangat pedih. Manakala aku berbekal nilai kebenaran dan pengabdian harus mendepak kenangan lama yang terlalu kuat, yang seharusnya suamiku memperkuat upayaku, ternyata sebaliknya, rumah itu dibuat roboh oleh amarah tidak mau kompromis.

Dalam keadaan rumah tanggaku nyaris roboh, lagi-lagi Ibu Haji - orang tuaku - menyudutkan ku. Beliau malah lebih memperkeruh. Dengan pintas menuduhku keras kepala, "ngagugulung nafsu", mengharapkan terus tentara yang tidak menentu, umpatnya.

Untung saja Kak Ami dan kak Adi segera datang dari Bandung. Mereka ikut menyelesaikan masalah kami. Dengan lemah-lembut, mereka meredam emosi suamiku dan juga menasehatiku. Tapi sepertinya Kak Adi tidak begitu ngotot mempertahankan perkawinan kami. Beliau kehilangan interest kepada suamiku yang dinilai kasar memperlakukan istri. Namun ahirnya suhu menurun pada titik terendah. Suamiku merasa iba melihat anak-anak masiih kecil, apalagi anak ketiga perlu penanganan dokter karena mempunyai kelainan kesehatan sejak lahir.

Memang, mencapai indahnya rumah tangga itu tidak semulus seperti apa yang dibayangkan pada awalnya. Ternyata harus menghadapi terjangan ombak yang keras. Jika kami tidak pandai-pandai bersikap, karam sudahlah bahtera rumah tangga kami.


5. Balas Dendam Suami

Setelah ombak menerjang keras bahtera kami karena kekeliruan ku sudah berlalu. Diganti desiran angin dan riak gelombang kecil mengalun, terasa pelayaran kami menjadi indah. Langkah demi langkah dilalui kami berdua untuk membesarkan anak. Ekonomi kami makin mapan. Gajih kami berdua lebih cukup untuk biaya hidup, malah bersisa tabungan yang kami gunakan untuk membangun rumah.

Suamiku sepertinya sebagai nahoda yang baik, dan seharusnya juga didampingi istri yang baik pula. Kami mencoba membuka peta pelayaran bersama. Memutuskan berdua; di Pelabuhan mana harus membuang sauh untuk berlabuh menikmati indahnya Pantai. Kemudian mengadakan pelayaran selanjutnya, menetukan arah bersama agar tidak membentur karang. Aku menjadi terlena oleh kemahiran suamiku dan percaya sepenuhnya, sehingga aku membiarkan suamiku mengemudikan bahtera sendiri. 

Beberapa lama kami merasakan indah nya rumah tangga. Sampai suatu waktu, tiba-tiba perahuku bergoyang keras membentur karang. Kali ini, kelalaian Sang Nahoda. Barang kali Sang Nahoda sedang mabuk, karena dibuai angin. Atau mungkin juga terbuai keindahan, sehingga lupa apa tujuan utama pelayaran dan bagaimana keselamatan penumpang. Atau mungkinkah suamiku balas dendam kepada ku?

Pada saat itu, Kantor Komando Distrik Kepolisian - tempat suamiku berkerja - terletak di pengkolan sebelah Timur, persimpangan jalan Babakan, tidak jauh dari rumahku, sehingga jika kami berada di teras rumah, akan terlihat jelas ruang jaganya.

Di seberang jalan, sebelah Utara Kantor Polisi - sebelum melintas jembatan Cipanjeleran - terdapat sebuah lapang batminton. Setiap sore atau malam hari, lapang batminton tersebut ramai dikunjungi orang. Suamiku hampir tiap hari main barminton disana, malah kerap kali pulang larut malam. Malah pernah juga pulang pagi, katanya kecapean hingga tertidur di ruang jaga. Pernah juga suamiku tidak pulang dua hari. Alasannya langsung berangkat meerdag ke daerah.

Sesekali, kalau sabtu sore aku juga suka main batminton. Banyak guru wanita yang senang main batminton atau gadis-gadis remaja lainnya. Pokoknya sabtu sore atau minggu pagi, lapang tersebut, digunakan untuk jadwal para Wanita.Tentu saja penonton makin banyak dan ramai melihat para wanita main. Terutama waktu itu ada "kembang lapangan". 

Tepat disebrang Jembatan Cipanjeleran tinggal seorang janda muda cantik. Sebut saja namanya Kinanti. Sebenarnya Kinanti itu bekas muridku. Ia kemudian nikah dengan seorang tentara dan ia dibawa ke Cianjur. Tapi sepertinya perkawinan mereka tidak lama, setelah bercerai dan berstatus janda, Kinanti kembali ke Panumbangan dan tinggal di rumah orang tuanya di sebrang jembatan Cipanjeleran itu.

Sebenarnya aku dekat dengannya. Aku sudah menganggap dia adiku sendiri. Dia pun baik dan santun kepadaku, sampai terjadi suatu peristiwa yang membuatku terkejut. Diluar dugaan Kinanti begitu tega menikamku dari belakang.

Suatu hari suamiku bicara bahwa dia diperbantukan tugas di Kepolisian Cikoneng selama satu minggu. Aku pun mempersiapkan baju dinas yang diperlukan.
Di luar dugaan, ketika akan mencuci pakaian bekas dinas, dari saku depan, aku menemukan sepucuk surat pernyataan. Isinya Surat Pernyataan Izin Menikah bagi Suami. Surat itu ditanda-tangani oleh aku sendiri. Ternyata suamiku akan melangsungkan pernikahan dengan Kinanti di Cianjur lusa. 
Dengan datar dan dingin aku menyampaikan kepada suamiku bahwa aku menemukan Surat Keterangan Palsu dari saku bajunya. Suamiku terperanjat, namun aku tidak terpancing emosi.

Besok harinya, pagi-pagi aku berangkat ke Ciamis menghadap Kapolres. Aku mengadukan ulah suamiku memalsukan tanda tanganku pada Surat Izin Menikah. Hari itu juga Kapolres memanggil suamiku, tapi ketika suamiku menghadap Kapolres aku sendiri sudah pulang ke Panumbangan. 

Katanya, pada hari yang direncanakan oleh suamiku menikah di Cianjur, suamiku dipindah tugaskan ke Sektor Padaherang. Tapi anehnya, suamiku malah menjadi Komandan Sektor di disana. Kinanti pun pergi ke Cianjur dan tidak kedengaran lagi datang ke Panumbangan.


6. Balas Dendam Kedua Suamiku

Waktu suamiku menjadi Kapolsek Padaherang, aku sendiri tidak ikut pindah dan tetap tinggal di Panumbangan. Untuk mengajukan pindah kerja akan memakan waktu lama dan tidak mudah. Terpaksa kami berjauhan. Suamiku menjalankan tugas di Padaherang dan aku sendiri tetap mengajar di Panumbangan.
Walaupun rumah tangga kami berjauhan, kebutuhan kami tetap terjamin. Disamping gaji bulanan diberikan secara utuh. Sembako lainnya pun selalu dikirim. Biasanya aku dikirim dua karung beras dan dua blek minyak goreng yang dititipkan pada Bis Gunung Tua trayek Panjalu - Pangandaran.

Kurang lebih tiga tahun suamiku menjabat Komandan Sektor Kepolisian Padaherang dan aku pun kemudian melahirkan anak kelima, putri pertama. Ia sangat di sayang dan dimanja ayahnya. Maklum baru mempunyai anak perempuan. Semua keinginannya selalu dipenuhi suamiku. Namun kadang-kadang berkesan kelebihan. Sejak masih kecil sudah didandani perhiasan-perhiasan berharga. Mungkin suamiku berpikir bahwa keadaan ekonomi kami saat itu sudah mapan.

Kalau mendapat libur atau cuti kerja, aku biasa pergi ke Padaherang mengunjungi suamiku, sambil membawa putri  kesayangan ayahnya. Saat itu rumah tangga kami mengalami kebahagiaan terutama dari segi ekonomi. Aku sendiri diangkat menjadi Kepala Sekolah, sehingga pendapatan kami pun makin bertambah. Namun, ya.... namanya juga hidup. Perjalannya tidak selalu melawati jalan datar atau menurun, tapi juga harus siap mendaki tanjakan.
Begitu pun rumah tangga kami, ditengah-tengah kebahagiaan, kami harus melalui goncangan lagi yang pada ahirnya tergantung kita menyikapinya.

Gelagat tidak baik suami yang aku rasakan, sejak dua bulan terahir tidak pulang ke Panumbangan. Memang kiriman masih ada, tapi apalah artinya semua itu. Aku mempunyai firasat tidak baik, termasuk dirasakan oleh Ibuku. Beliau sering menanyakan kenapa suamiku tidak pulang-pulang. 

Pada bulan ketiga, menghadapi hari minggu dan kebetulan juga mendapat cuti, aku pergi menjenguk suamiku di Padaherang sambil membawa putri kami yang baru bisa berjalan. Tapi, ketika aku sampai di Padaherang, suamiku tidak ada ditempat. Menurut anggota polsek mengatakan bahwa suamiku sedang pulang ke Panumbangan.

Di Padaherang, suamiku menempati rumah kontrakan di Dusun Patinggen diseberang Mapolsek. Aku bermalam di rumah itu sambil menunggu suamiku pulang. 

Semalaman aku tidak bisa tidur. Kemudian aku membuka-buka laci meja tulis. Di dalam laci aku menemukan pistol suamiku yang ketinggalan. Dalam benakku aku berpikir, tentu suamiku tidak pergi jauh, apalagi pulang ke Panumbangan. Jika suamiku pulang ke Panumbangan tentu membawa senjata.

Kemudian aku sangat terkejut. Dibawah pistol di dalam laci, terselip sebuah amplop surat untuk suamiku. Surat tersebut dari seorang wanita, katakanlah ia bernama Kirana. Dulu suamiku pernah berkata, saat ia akan menikahiku sebenarnya mempunyai pacar yang ia putuskan. Wanita itu bekerja di Mapolres Ciamis dan ia adalah anak seorang Kepala Bagian di kantor itu.

Dalam suratnya, Kirana menulis bahwa dirinya belum menikah dan tetap akan menunggu suamiku, meskipun ia mengetahui suamiku telah berkeluarga.

Aku memaklumi kesetiaan Si Kirana. Menurutku, daripada suamiku memaksakan berumah tangga denganku, tapi berbagi hati dengan Si Kirana, lebih baik suamiku kembali kepada cinta lamanya, menikah dengan mantan pacarnya. Namun aku tidak mau dimadu. Menceraikan aku terlebih dulu, merupakan langkah yang lebih dulu harus suamiku lakukan.

Yang aku sesalkan sikap seorang Polwan bernama Kirana itu. Ia tahu suamiku sudah berumah tangga denganku dan mempunyai lima orang anak, tapi masih memaksakan untuk dinikahi. Artinya, dia sudah tidak memandangku, dan hal ini harus aku hadapi.

Semalaman aku menangis di rumah terpencil itu. Kemudian anak ku mendadak rewel dan terus-terusan menangis, sehingga aku mengeyongnya hingga menjelang subuh.

Katanya, kemarin suamiku datang di Panumbangan. Entah memang sejak semula berniat pulang ke Panumbangan atau ternyata ada disuatu tempat dan kemudian mendengar aku datang di Padaherang, lantas ia terpaksa pulang ke Panumbangan. Aku tidak peduli lagi tentang alibi yang ia ciptakan.

Katanya, ketika suamiku tiba di Panumbangan , ia merasa terkejut tidak menemukan aku dan putri kesayangannya. Hari itu juga suami ku pulang kembali ke Padaherang. Namun ketika menjelang magrib suamiku baru sampai Banjar. Ia tidak berani melanjutkan perjalanan karena rawan ancaman gerombolan DI/TII. Katanya, dia bermalam di rumah uwaknya di jalan Cimenyan. Menjelang subuh baru ia melanjutkan perjalanan dan sampai di Padaherang dini hari. Bla.... bla.... bla...., apapun sekenario yang di bangun oleh suamiku tidak lagi masuk di logika ku yang sedang emosi.

Suamiku masuk rumah tidak melalui pintu depan, tapi sambil mengendap-ngendap masuk lewat pintu dapur. Mungkin ia tahu kunci rahasia sehingga dengan mudah ia mesuk ke ruangan belakang.

Aku, yang sebelumnya telah mendengar kedatangan suami, langsung menghadangnya diambang pintu tengah rumah. Aku menodongkan pistol keatas pelipisnya. Padahal terlebih dulu, telah aku kosongkan pelurunya. Suamiku langsung berlutut hingga memeluk kakiku, seraya memohon maaf dan mengatakan akan memilih keluarga demi masa depan anak-anakku.

Aku tidak bisa banyak bicara lagi selain langsung berkemas dan pulang ke Panumbangan. Selama dalam perjalanan aku menahan tangis, merasa "diteungteuinganan" oleh penghianatan suami, manakala aku mulai berhasil menumpahkan seluruh jiwa raga pada suami.

Sesampainya di Panumbangan aku bergegas menuju rumah Ibu untuk menitipkan putriku, dan akupun langsung pergi lagi ke Ciamis untuk menghadap Kapolres.

Kepada Kapolres, aku mengadukan kejadian yang dilakukan suami ku bulan terakhir itu. Surat Si perempuan Kirana itu, aku perlihatkan kepada beliau. 
Akhirnya suamiku dipindahkan menjadi Kapolsek Panjalu dan si perempuan polwan itu, katanya ditarik ke Polda Jabar.

Suamiku bertugas di Panjalu hingga tahun 1965. Setelah itu ia di pindahkan lagi ke Komdis Panumbangan dan tidak beberapa lama kemudian diangkat menjadi Pejabat Kepala Desa Panumbangan sampai ahirnya, di tahun 1967 dipilih menjadi Kepala Desa difinitif hingga tahun 1980.

Komentar

Komentar